Perang Topat, Simbol Kerukunan Antar Umat Beragama

PERANG : Suasana sebelum dimulainya Perang Topat di komplek Kemalik Pura Lingsar. (Fahmy/Radar Lombok)

Perang Topat kembali berlangsung di komplek Pura Lingsar Desa Lingsar Kecamatan Lingsar, Lombok Barat, Kamis (08/12). Ini adalah rangkaian ritual Pujawali setiap tahun pada bulan purnama sasih keenam menurut penanggalan Bali, atau kepituq (ketujuh) berdasarkan penanggalan Sasak. Lebih dari sekedar event budaya, Perang Topat adalah semacam simbol terus menguatnya toleransi antar umat beragama di kalangan warga.

Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, Perang Topat kali ini dibanjiri ribuan pengunjung, kebanyakan warga sekitar. Wisatawan asing juga terlihat banyak yang hadir.” Alhamdulillah kegiatan ini sukes,” ungkap Bupati Lombok Barat, H. Fauzan Khalid.

Lingsar adalah sebuah desa yang terletak di Kecamatan Lingsar Lombok Barat. Di Desa ini terdapat komplek bangunan persembahyangan yang unik. Di Lingsar berdiri sebuah pura suci umat Hindu tempat pemujaan Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa). Di tempat yang sama dengan hanya dibatasi oleh penghubung yang merupakan jabe (pelataran_red) tengah pura, terdapat bangunan Kemaliq yakni tempat yang dikeramatkan oleh sebagian orang Sasak yang beragama Islam.

Komplek bangunan pura dan Kemaliq ini didirikan sekitar tahun 1759 oleh Raja Anak Agung Ngurah dari kerajaan Karangasem yang pada waktu itu memerintah bagian barat Pulau Lombok. Bangunan pura yang bernama Pura Gaduh terletak di bagian atas atau di sebelah utara menghadap barat. Sementara di selatannya terdapat Kemaliq yang menghadap ke barat. Bangunan tersebut dibangun menggunakan gaya arsitektur Bali.

Baca Juga :  Empat Peserta Lintas Alam Pingsan Diserang Tawon

Di komplek ini setiap tahun pada bulan purnama sasih keenam menurut kalender Bali dan kepituq menurut kalender Sasak, diadakan upacara Pujawali. Upacara ini merupakan pencerminan rasa syukur kepada Tuhan yang telah memberikan kemakmuran dan kesejahteraan. Beberapa jenis kesenian tradisional dipertunjukkan sebelum dan sesudah upacara untuk menyemarakkan suasana.

Perang Topat adalah satu dari sekian ritual inti upacara Pujawali. Event ini dilaksanakan setelah acara di pura dan Kemaliq selesai, dengan saling lempar menggunakan topat (Ketupat) pada sore hari. Topat yang digunakan saling lempar merupakan bagian dari sesajian yang disiapkan masyarakat desa yang terlibat di dalamnya. Topat yang sudah digunakan melempar kemudian dipungut kembali untuk ditaburkan di sawah-sawah warga pada malam hari sebagai ritual memohon kesuburan tanah dan melimpahnya hasil panen.

Warga tidak hanya membawa topat. Beberapa yang menjadi perangkat ritual mereka diantaranya lumbung kecil yang berisi beras ketan sebagai lambang kemakmuran dan kesejahteraan sosial, sesaji (persembahan) yaitu berupa dulang berjumlah 9 buah yang berisi nasi, mengandung arti sebagai lambang kesuburan alam dan kemakmuran rakyat. Ada juga Kebon Odeq(kebun kecil), terbuat dari buah kelapa tua yang bagian atasnya dipangkas rata dan ditancapkan 9 batang bambu kecil. Kebon odeq melambangkan kesuburan tanah yang dipenuhi dengan batang pohon yang lebat dan hijau pertanda kemakmuran. Di dalam kebon odeq ini terdapat berbagai macam buah-buahan yang melambangkan di bumi ini di penuhi oleh berbagai macam buah-buahan sebagai tanda kesuburan pula.

Baca Juga :  Akhir Tahun, Rute Senggigi-Padangbai Ramai

Selanjutnya ada Lamak atau tikar dari daun pandan. Tikar ini digulung, di dalamnya terdapat perangkat alat sembahyang umat muslim. Di atas gulungan tikar tersebut diletakkan kitab suci Alquran. Selanjutnya momot,adalah botol kosong yang ditutup rapat dan dibungkus kain putih. Benda ini melambangkan kehidupan yang kekal di alam akhirat. Ada pula hewan kerbau dipergunakan saat napak tilas mengelilingi pura.

Perang Topat merupakan tradisi tahunan yang sudah digelar sejak ratusan tahun silam. Perang budaya ini telah dilaksanakan sejak Pura Lingsar mulai dibangun pada tahun 1759 oleh Raja Anak Agung Ngurah dari Kerajaan Karangasem, Bali, yang pada waktu itu memerintah bagian barat Pulau Lombok.

Bagi masyarakat Lingsar,  perang ini merupakan wujud kebersamaan dan keharmonisan antar umat. Perang Topat ini diharapkan bisa menjadi pengingat abadi tentang bagaimana manusia melakukan perubahan dari sisi kebersamaan beragama, pendidikan, pariwisata dan lain-lain untuk kesejahteraan masyarakat. Diharapkan pula agar rasa kebersamaan umat beragama yang terjalin pada tradisi ini bisa diimplementasikan di seluruh wilayah nusantara sehingga bisa menjadi modal besar dalam mewujudkan pembangunan di segala bidang.“ Dan alhamdulillah Lombok Barat tetap harmonis,” ungkap bupati.(ami/git)

Komentar Anda