Perajin Tahu dan Tempe Diminta Gunakan Kedelai Lokal

KEDELAI : Dinas Perdagangan NTB minta perajin tahu tempe manfaatkan kedelai lokal dan impor.(DOK / RADAR LOMBOK)

MATARAM – Tingginya harga kedelai impor yang mencapai Rp 1.150.000 per kwintal dikeluhkan perajin tahu dan tempe. Pasalnya, Kementerian Perdagangan (Kemendag) melaporkan adanya kenaikan harga kedelai impor untuk penyediaan Mei 2021. Untuk memenuhi kebutuhan produksi, para perajin tahu tempe memanfaatkan kedelai lokal maupun impor.

Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Provinsi NTB H Fathurrahman mengatakan, untuk kedelai impor memang sudah naik dari beberapa waktu lalu, karena merupakan situasi nasional. Terlebih yang diharapkan kedelai impor ini masih belum jelas situasi kondisinya, mengingat itu merupakan ranah dari pemerintah pusat.

“Kita masih memanfaatkan beberapa kedelai impor yang masih tersedia di jalur distribusinya. Kemudian juga pemanfaatan kedelai lokal, tetapi kalau usaha memang banyak mencari kedelai impor untuk produksi tahu dan tempe karena bagus,” kata H Fathurrahman, Senin (10/5).

Baca Juga :  Buruh Tolak Ikut Pembahasan UMP 2022

Menurutnya, terjadi kenaikan harga kedelai ini hal wajar. Karena memang ini kondisinya secara nasional, di mana banyak masyarakat membutuhkan kedelai impor, terutama para perajin tahu tempe. Jika dibandingkan dengan kedelai lokal, permintaan masih minim.

“Itu yang persoalan, karena disamping bagus dan murah harganya impor ini. Harga kedelai lokal mahal, karena memang dari pola tanamnya dan harganya lebih tinggi,” terangnya.

Sebelumnya, salah seorang perajin tahu Khadijah mengatakan, harga kedelai kembali naik tetap memproduksi tahu. Dengan ukuran dikecilkan atau ditipiskan, agar tetap mendapat keuntungan. Karena jika tidak produksi bisa-bisa usahanya gulung tikar ditengah kondisi seperti sekarang.

Baca Juga :  Pabrik Pakan Ternak Belum Miliki Izin Edar

“Bagaimana kita atur supaya dapat untung. Sekarang Rp 10.500.000 satu ton, dulu Rp 7. 000.000. Satu kwintal Rp 1.150.000 sebelumnya Rp 700.000 ini kedelai impor yang bagus,” katanya.

Terjadi kenaikan baru 2 hari lalu, tempat biasanya ia membeli sudah menaikan harganya. Bahkan kenaikan dalam satu ton mencapai Rp 3.000.000, mau tidak mau tetap membeli kedelai daripada tidak memproduksi sama sekali.

“Kemarin dari bos kedelai memberi tau kalau naik lagi Rp 100 ribu. Sekarang naiknya 3 juta pertonnya,” ujarnya. (dev)