Perajin Kain Tenun Mulai Bergairah

Perajin Kain Tenun
Tenun milik Sri Handayani yang dilirik pembeli saat mengikuti NTB Expo belum lama ini. (DEVI HANDAYANI/RADAR LOMBOK)

MATARAM Kerajinan tenun atau songket kian terlihat eksistensinya. Bahkan para perajin kain tenun, mampu meraup untung jutaan rupiah perharinya. Kini perajin kain tenun semakin berkibar, seiring adanya dukungan penuh dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB untuk membangkitkan gaung kain tenun khas NTB.

Salah satunya perajin kain tenun khas Lombok yang merasakan yakni Sri Handayani, perajin asal Setanggor, Praya Barat, Lombok Tengah mengaku penjualan kain tenunnya sangat bagus. Dirinya pun sudah memiliki, beberapa reseller di setiap daerah di Indonesia untuk memasarkan hasil tenunannya.

“Pengirimannya sudah hampir seluruh daerah Indonesia, tapi kalau untuk keluar negeri belum ada,” tutur Sri Handayani, Rabu kemarin (12/12).

BACA JUGA: Bulog Bangun Mesin Penggilingan Padi di Pulau Sumbawa

Perempuan yang akrab dipanggil Yani ini mengaku meskipun sebelumnya tenun sendiri masih banyak belum di lirik dan mendapatkan perhatian dari pemerintah daerah dan bahkan masih belum sejahtera dengan hasil tenun yang diproduksi. Yani sudah memulai usaha ini sejak 2012 lalu, berawal dari berjualan di trotoar setiap minggunya dan kini telah memiliki galery sendiri yang dikelolanya, yakni Shezee tenun Lombok.

“Mulainya dari car free day, jualan ditrotoar dulu. Alhamdulillah sekarang sudah punya tempat sendiri,” ungkapnya.

Dijelaskan, usaha yang dijalankan saat ini tidaklah mudah. Namun hal ini membuatnya tidak patah semangat, meskipun peminat dari kain tenun sendiri masih kurang untuk di dalam daerah, tetapi untuk diluar Lombok peminatnya cukup banyak. Baik dalam bentuk kain maupun bahan jadi, seperti baju dan lain-lainnya.

Untuk harga setiap lembar kain tenun yang sudah jadi dibanderol mulai dari Rp 200 ribu hingga jutaan rupiah dan sesuai dengan bahan yang digunakan dalam proses penenunan. Jika kualitasnya bagus, maka harganyapun lebih mahal.

“Untuk harga itu sangat tergantung dari proses pembuatannya, memakan waktu sampai 1 bulan untuk satu kainnya,” terangnya.

BACA JUGA: Kopi Hitam Kangkong Tembus Pasar Luar Negeri

Selain itu Yani juga telah beberapa kali mengikuti pameran dibeberapa daerah dan di sekitar NTB. Saat ini dalam proses produksi kain tenun, Yani dibantu oleh beberapa perajin untuk memenuhi permintaan dari pelanggannya. Yani berharap, kedepannya dengan semakin berkembangnya gaung dari tenun saat ini serta adanya dukungan dan perhatian pemerintah daerah dalam menghidupkan kembali kain tenun ini, maka kedepannya bisa merambah pasar luar.

“Semoga saja kedepannya bisa dikenal tenun ini sampai luar negeri. Jadi tidak hanya di Indonesia saja,” pungkasnya. (cr-dev)