Penyebaran PMK Sapi Makin Meresahkan

TERJANGKIT: Inilah kondisi sapi milik warga di Desa Kelebuh yang terjangkit PMK yang terlihat busa keluar dari mulutnya, Senin (16/5). (M Haeruddin/Radar Lombok)

PRAYA Penularan penyakit mulut dan kuku yang menyerang ternak sapi kian meresahkan. Jumlah sapi yang terserang menyakit lendir berlebihan dan kuku luka semakin banyak.

Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Lombok Tengah, Taufikurrahman Puanote  mengaku, sapi yang terserang penyakit mulut dan kuku (PMK) di daerah tersebut semakin banyak. Penyebarannya juga semakin luas mencakup sejumlah wilayah di daerah itu. Dinas juga akan mengkaji rencana pengadaan sapi, apakah akan ditunda atau tetap dilanjutkan. ‘’ Jumlah yang sudah positif PMK 273 ekor dan yang sudah sembuh 168 ekor. Sisanya masih dalam keadaan sakit,’’ sebut Taufikurrahman, Selasa (17/5).

Taufik juga menyebutkan, jumlah hewan ternak yang terserang penyakit mulut dan kuku ini tersebar di dua kecamatan, yakni Kecamatan Praya Tengah dan Jonggat. Untuk Kecamatan Praya Tengah masih tersebar di sekitar Desa Kelebuh. Sedangkan di Kecamatan Jonggat sudah meliputi empat desa, yakni Desa Barejulat, Puyung, Sukarara, dan Nyerot. ‘’Penyebaran ini terjadi karena banyaknya kandang kompeks,’’ kata Taufik.

BACA JUGA :  Sepi Pembeli, Penjual Stand UMKM RS Mandalika Merugi

Dari hasil evaluasi yang dilakukan dinas, ada beberapa hal yang perlu ditingkatkan, terutama cara penanganan. Jika sebelumnya dinas hanya membentuk satgas, sekarang akan memperluas dengan membentuk tim tambahan. “Karena kejadian serangan PMK ini di Desa Kelebuh saja semakin bertambah, dari cuma empat dusun minggu pertama sekarang sudah menyerang delapan dusun dari 14 Dusun yang ada di Desa Kelebuh. Ini juga karena sebaran kandang kolektif di Desa Kelebuh ini berdekatan,” terangnya.

Dinas sendiri membuat kebijakan untuk transmisi atau pergerakan ternak, karena menurut dinas ini salah satu cara untuk melawan virus PMK ini. Karena pergerakan virus ini semakin meluas dan tidak menutup kemungkinan penyebaran PMK ini terjadi dari pasar hewan. Karena selama ini dinas masih sebatas imbauan dan tidak dinafikan masih ada yang berjualan hewan ternak di pasar hewan. “Jadi kemarin kita masih melakukan secara persuasif untuk penutupan pasar hewan ini, makanya besar kemungkinan penyebarannya dari pasar hewan itu. Apalagi pasar hewan ini interaksi dengan semua. Cuma kita belum mengetahui pasar hewan mana yang menjadi lokasi penyebaran. Apalagi pasar hewan setiap minggu ada,” terangnya.

BACA JUGA :  Poros Tengah Dukung Komisaris Dipecat

Terkait untuk pengadaan sapi,  sesuai arahan dari Kementerian Pertanian RI memang pengetatan lalu lintas ternak akan dilakukan secara terkendali. Hal ini karena sebentar lagi akan ada momentum seperti Idul Adha, maka akan ada protokol yang diterapkan dalam hal pengadaan sapi yang tentunya dari protokol inilah yang akan dilakukan kajian. “Terkait pengadaan sapi ini kita lihat protokolnya saja, apakah dimungkinkan karena memang ini akan menggerakan perekonomian warga juga. Sehingga kita lakukan kajian terhadap usulan dewan yang meminta penundaan pengadaan sapi, tapi sangat tergantung terhadap protokol yang diberikan pemerintah. Jadi dinas tidak akan langsung melakukan penghentian rencana pengadaan sapi, tapi akan ada pengetatan protokol,” tegasnya. (met)