Penuturan Sri Rabitah, TKW yang Kehilangan Ginjal

Ginjal TKW Diambil
TIDAK IKHLAS: Sri Rabitah menceritakan nasib tragis yang dialaminya saat menjadi TKW di Qatar di sela-sela bertemu Bupati Lombok Utara H Najmul Akhyar, Senin kemarin (27/2). (Hery Mahardika/Radar Lombok)

Sri Rabitah tidak pernah menyangka kepergiannya mengadu nasib sebagai TKW ke Qatar, berujung petaka.  Dia kehilangan salah satu ginjalnya.


HERY MAHARDIKA-TANJUNG


Sri panggilan akrabnya, baru berusia 25 tahun lahir di Dusun Lokok Ara Desa Sesait Kecamatan Kayangan Lombok Utara. Badannya  kurus dan wajahnya pucat.  Ia pun telah menikah dengan Harpan Jaya sekitar tiga tahun lalu, dan telah melahirkan anak pertamanya yang telah berumur empat bulan. “Pada saat mau menikah, saya sempat bercerita kondisi yang sakit-sakitan dan tidak bisa bekerja. Sekarang suami saya sedang bekerja di Malaysia, saya bersama anak sementara tinggal di rumah mertua,” tutur Sri Senin kemarin (27/2).

[postingan number=3 tag=”kemenlu”]

Sri menceritakan, rasa sakit yang dialami selama tiga tahun tanpa ada perawatan medis. Pada saat mengandung anak pertamanya, Sri merasakan sakit yang semakin parah. Apalagi ketika usia kandungan berumur tiga bulan, ia merasakan sakit di pinggang sebelah kanan seperti   ditusuk-tusuk.

Dengan kondisinya itu, ia sempat memeriksakan diri  ke Puskesmas Kayangan dan RSUD Tanjung. Pada saat melakukan pemeriksaan, petugas medis menyatakan tidak ditemukan penyakit apapun. Hanya saja ia tidak diperbolehkan menjalani rontgen karena  sedang mengandung. “Saya pun menjalaninya seperti itu hingga saya melahirkan anak pertama dengan normal,” ceritnya.

Ketika anaknya berusia empat bulan, Sri memutuskan kembali melakukan pemeriksaan ke RSUD Tanjung pada tanggal 22 Februari 2017. Pihak rumah sakit memperkenankan dirinya memeriksa rontgen. Hasilnya  terdapat satu ginjal sudah tidak ada dan terdapat selang di dalam perut Sri. “Dokter yang memeriksa, sempat menanyakan ke saya apakah pernah jual ginjal. Saya sampai bersumpah tidak pernah menjual ginjal,” katanya sembari mengikuti ucapan dokter yang memeriksa dirinya.

Setelah itu, pihak RSUD Tanjung merujuk Sri ke RSUD Provinsi NTB  di Mataram untuk mendapatkan pemeriksaan kembali. Dari hasil pemeriksaan di RSUD Provinsi NTB, ternyata hasilnya sama bahwa dirinya sudah tidak  memiliki satu ginjal. Dia disarankan   menjalani operasi untuk mengeluarkan selang melingkar yang ada di dalam perutnya. Selain  itu, dokter juga menyatakan banyak batu di saluran kencing Sri sehingga harus dikeluarkan. “Kata dokter kalau batu-batu dan selang tidak dikeluarkan bisa berbahaya. Saya disuruh balik lagi untuk operasi 2 Maret nanti,” terangnya.

Dari hasil pemeriksaan tersebut, Sri merasa sedih dan mengingat kembali apa yang pernah menimpa dirinya. Barulah ia teringat,  dirinya pernah bekerja diluar negeri sebagai pembantu rumah tangga.

Pertama kali, ia pergi bekerja di luar negeri ke Malaysia sebagai pembantu rumah  tangga. Setelah bekerja di Malaysia, Sri sempat  pulang ke kampung halamannya di Lombok Utara.

Kemudian Sri pun ditawari kembali menjadi tenaga kerja ke Qatar oleh seorang perempuan bernama Ulfa yang beralamat di Batu Keruk, Desa Akar-Akar. Sebelum berangkat ke Qatar, Sri pun menjalani rangkaian tes kesehatan dan akhirnya lolos dan diberangkatkan ke Qatar melalui PT BLK-LN Falah Rima Hudaity Bersaudara.

Sekitar Juni 2014, Sri tiba di  Qatar dan ditempatkan di rumah majikan yang bernama Madam Gada yang tinggal di Doha-Qatar.  Di rumah majikannya ini Sri mengaku kerap  mendapat perlakuan kasar dengan bekerja sejak pukul 05.00  pagi hingga pukul 03.00  dinihari. “Dikasih makan saat Magrib, itupun hanya semenit. Kalau belum adzan Magrib tidak akan dikasih makan,” ungkapnya.

Bekerja di rumah majikan pertamanya ini tidak bertahan lama. Sri pun dipindah oleh majikannya untuk bekerja ke rumah ibu dari majikannya ini. Majikan barunya ini kondisinya sakit, saat berjalan kakinya pincang.

Setelah Sri bekerja membersihkan rumah majikannya yang berlantai empat itu, dirinya diajak majikannya dan seorang anak perempuannya ke rumah sakit. Alasannya saat itu untuk mengecek kesehatan Sri. “Padahal saya tidak sakit apa-apa. Saya disuruh ganti baju mau ke rumah sakit, katanya untuk medical cek up,” ungkapnya.

Sampai di rumah sakit, pemeriksaan pun dilakukan seperti cek darah. Saat pemeriksaan itu, Sri sempat mendengar perawat berbicara pelan dengan perawat lainnya menyatakan kondisinya normal.  Tetapi tidak lama kemudian Sri dipasangi selang  infus. “Saya sempat tanya kenapa dipasang infus. Katanya kondisi saya lemas dan kurang darah padahal saya tidak sakit apa-apa,” katanya.

Setelah dipasangi infus, dirinya pun dibawa ke salah satu ruangan yang di dalamnya terlihat banyak pisau dan gunting untuk operasi. Sri juga melihat lampu besar di atas ranjang. Saat masuk ke ruangan itu, dirinya masih sadar. Tetapi begitu disuntik Sri langsung lemas dan tidak sadarkan diri. “Sekitar lima jam saya tidak sadar setelah disuntik itu,” bebernya di hadapan bupati Lombok Utara H Najmul Akhyar.

Pada saat sadar, Sri sudah berada di kamar berbeda. Bahkan peralatan medis yang ada di tubuhnya semakin banyak seperti dipasangi infus, masker oksigen dan selang-selang lainnya. Sri juga dibuatkan saluran kencing sendiri. “Saya mau kencing tapi tidak diperbolehkan. Katanya saya sudah dibuatkan saluran kencing. Saya lihat kantong kencing itu isinya darah semua,” katanya.

Selain itu, Sri juga merasakan sakit di pinggang bagian kanan. Saat dilihat ternyata ada bekas jahitan seperti habis di operasi. Sri pun sempat bertanya kepada perawat bekas jahitan tersebut, tetapi kata perawat itu hanya goresan. “Setelah saya tanya bekas jahitan itu saya dibawa masuk ke ruang berbeda lagi yang ada teropong besar. Keluar dari ruangan itu bekas jahitan tadi sudah  hilang,” tandasnya.

Sri berada di rumah sakit tersebut hanya satu hari. Anehnya begitu keluar dari rumah sakit, Sri dipulangkan oleh majikannya ke agen tenaga kerjanya yang berada di Qatar. Baju-baju Sri beserta dokumen pun sudah dikemas dan dibawa ke agen. “Keluar dari rumah sakit saya tidak pulang ke rumah majikan, langsung dibawa ke agen. Hasil pemeriksaan di rumah sakit juga tidak diberikan, semua dibawa majikan,” katanya.

Setelah dikembalikan ke agen, kondisi fisik Sri menurun drastis. Dia sering sakit-sakitan bahkan darah sering keluar dari mulut, hidung, dan saluran kencing. Tetapi dua orang yang ada di agen tersebut yakni Umar dan Yanti asal Sukabumi, Jawa Barat tidak percaya dengan keterangannya. Mereka menganggap Sri hanya akting saja agar dipulangkan ke Indonesia. “Saya sudah cerita saya sempat dioperasi tetapi agen tidak percaya,” tuturnya.

Perlakuan yang diterima Sri bahkan lebih parah dari majikannya terdahulu. Disini Sri kerap dipukuli menggunakan balok dan papan kayu, hal ini dilakukan karena Sri dianggap tidak bisa bekerja. Sri pun kembali disuruh bekerja ke majikan lain. “Saya bekerja di tiga majikan tetapi hanya satu hari semua. Yang pertama majikan baru saya namanya Masri, Sudani, dan yang terakhir Khalid. Saya dipulangkan ke agen lagi karena sakit-sakitan. Saya sudah mau rasa mati,” akunya.

Beruntung majikan Sri yang ketiga yakni pasangan Khalid dan Haya adalah orang yang baik. Melihat kondisinya yang sakit-sakitan karena kerap mengeluarkan darah dari mulut, hidung dan saluran kencing pasangan ini membawa Sri ke kantor polisi. Kemudian dari kantor polisi, Sri pun dipulangkan ke agen. Bahkan majikan terakhirnya ini, sempat mengancam agen jika tidak memulangkan Sri ke Indonesia akan dituntut. Agen pun akhirnya memindahkan Sri ke tempat penampungan sementara. Di tempat penampungan ini kondisi Sri  semakin parah karena sering sakit-sakitan. “Saya sempat minta dibawa ke rumah sakit untuk diperiksa lagi tapi tidak diperbolehkan malah dipukul lagi,” katanya.

Sebulan kemudian Sri pun dipulangkan agen, tetapi hanya sampai di Surabaya. Di Surabaya, Sri tidak membawa uang sepeserpun. Dia pun sempat ingin mencari kerja di bandara Surabaya tersebut agar punya ongkos untuk pulang ke Lombok. “Ada seseorang yang lihat saya kasihan karena mondar-mandir. Saya akhirnya dibawa ke kantor polisi, kemudian polisi yang memulangkan saya kesini,” paparnya.

Sampai di Lombok, Sri belum mengetahui kalau ternyata satu ginjalnya sudah lenyap. Sri pun beraktivitas biasa tetapi sudah tidak bisa normal lagi karena kondisinya sakit-sakitan. Sri sempat memeriksakan diri ke puskesmas setempat tetapi tidak ada penyakit apa-apa.

Sri bahkan sempat ingin kembali menjadi tenaga kerja ke Singapura. Tetapi tidak terlaksana, karena saat  berada di penampungan di Jakarta dirinya kembali  sakit dan harus dipulangkan ke Lombok. Gara-gara dipulangkan ini, Sri pun hampir masuk penjara karena dilaporkan tekong yang memberangkatkannya. “Waktu itu saya disuruh ganti uang Rp 15 juta. Tetapi saya tidak punya, akhirnya diberikan uang Rp 2,5 juta. Paspor saya masih ditahan sama tekong itu,” ungkapnya pengalaman pedihnya di hadapan petugas BP3TKI. Dengan pengalaman pahitnya, ia berharap kepada pemerintah daerah agar bisa membantu dirinya untuk menanggung beban biaya operasi yang akan dilaksanakan pada tanggal 2 Maret mendatang. Ia juga berharap agar pemerintah bisa menuntut orang-orang telah merugikan dirinya sehingga mengalami kesakitan seperti ini. “Saya tidak ikhlas dunia-akhirat ginjal saya diambil tanpa sepengetahuan saya dan tanpa persetujuan orang tua saya. Saya berharap apa yang saya alami ini cukup saya merasakan, jangan sampai orang lain juga merasakan seperti dirinya,” harapnya menutup perbicangannya.(*)

BACA JUGA :  Remitansi TKI Tingkatkan Daya Beli Masyarakat