Penuturan Keluarga Saeful Bahri, Korban Kapal Tenggelam Di Batam

Tiga TKI gelap yang menjadi korban kapal tenggelam di Teluk Mata Ikan Tanjung Bembam, Nongsa, Batam, Kepualauan Riau, asal Lombok Tengah, kembali teridentifikasi. Mereka adalah  Supardi 33 tahun, asal Dusun Lengkarak Desa Langko Kecamatan Janapria, Khairil Anwar 18 tahun, warga Dusun Tanak Embang Daye Desa Selebung Kecamatan Batukliang, dan Saeful Bahri 30 tahun, warga Dusun Gelogor Mapong Desa Bunut Baok Kecamatan Praya.

 


Dalaah-Praya


 

JALAN setapak pematang sawah cukup sempit. Meski sudah dirabat beton, tapi belum merata dan sudah mulai rusak. Tapi, rapat itu terus menjadi petunjuk jalan yang berakhir di rumah keluarga almarhum Saeful Bahri.

Almarhum merupakan salah satu korban kapal tenggelam di perairan Teluk Mata Ikan Tanjung Bembam, Nongsa, Batam, Kepulauan Riau, Rabu (2/11). Namun, jenazah Saeful Bahri teridentifikasi belakangan, setelah beberapa korban lainnya terlebih dulu teridentifikasi dan jenazahnya dikirim pulang.

Di kampung Gelogor Mapong Desa Bunut Baok itu, hanya ada beberapa rumah setelah melewati perkampungan induk. Di sanalah Saeful Bahri tinggal bersama keluarganya selama ini. Di rumah setengah rampung itu, tinggal beberapa saudaranya.

Keluarga Saeful kemudian menyambut koran ini. Faridah, kakak korban yang mengetahui maksud kedatangan orang langsung menuturkan asal usul kepergian almarhum adiknya. Kepergiannya Saeful ke Malaysia, merupakan kali ketiganya.

Saeful berangkat dengan menjadi TKI legal/terang bulan Januari 2016 lalu. Dia berangkat lewat salah satu PJTKI dan mulai bekerja di Malaysia. Sayang, Saeful mengaku tak cukup dengan penghasilannya sehingga memilih kabur dari tempatnya bekerja.

Ia pindah dan bekerja di tempat lain dengan meninggalkan dokumen legalnya sebagai TKI. Maklum, kata Faridah, TKI yang tak puas dengan gajinya biasanya akan melakukan hal serupa. Dia akan berpindah dari perusahaan atau tauke satu ke tauke lainnya. Dia meninggalkan kontrak kerjanya di perusahaan tersebut dan mencari tempat kerja lain, sehingga statusnya ilegal. ‘’Dan tumben-tumbennya almarhum ini kirim uang. Sudah tiga kali di bolak-balik Malaysia, tapi tidak pernah kirim uang selama ini,’’ kenang Faridah.

Nah, sekitar hari Sabtu (29/10) lalu, Saeful berkomunikasi dengan dirinya, bahwa ia akan pulang kampung. Ia mengaku jenuh di Malaysia dan ingin melihat kampung halamannya. Keluarganya hanya bisa mengiyakan saja dari jauh.

Pada Rabu (2/11), keluarga mendengar kabar ada kapal tenggelam lewat berita di televisi. Perasaan cemas mulai menghantuai sehingga salah seorang teman Saeful di Malaysia, menghubungi Faridah. Ia menanyakan, apakah Saeful sudah sampai rumah atau belum.

Sebab, nomor kontaknya tidak aktif. Sehingga khawatir menjadi korban kapal tenggelam setelah sempat beredar kabar kapal tenggelam di perairan Batam. ‘’Sejak itu, kami mulai cemas,’’ kata Faridah.

Keluarga terus memantau lewat perkembangan informasi di media massa. Atas bantuan temannya di Malaysia, kemudian menghubungi calo yang memberangkatkannya. Saat itulah dipastikan Saeful naik di kapal karam tersebut. ‘’Tapi waktu itu kami belum dapat kabar kematiannya,’’ tambahnya.

Awalnya, keluarga sempat shok ketika dikirimkan foto mayat mirip Saeful. Tetapi, setelah ditelusuri bukan mayat Saeful, melainkan orang lain. Baru kemarin kemudian mendapatkan kabar sebenarnya dari salah satu keluarganya bernama Udin yang bekerja di Batam. Bahwa Saeful sudah teridentifikasi. ‘’Kami dapat informasi kematiannya kemudian dari keluarga yang ada di Batam,’’ katanya.

Sejak awal, firasat buruk memang sudah mendatangi almarhum. Dia bermimpi menaiki andong dan pecah menjadi dua. Tapi, kuda andongnya terus berlari sementara dia terjatuh.

Namun, firasat mimpi tak dihiraukannya sehingga kemudian menjadi korban. Begitu pula dengan keluarga di rumah, Faridah sendiri sempat mendapatkan jarumnya patah ketika menjahit kasur milik Saeful.

Begitu juga dengan jarum yang dipegang anaknya patah juga, bahkan dua biji. ‘’Firasat kami tiga jarum patah dalam sekejap. Kalau almarhum katanya sempat mimpi juga,’’ tuturnya. (**)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid