Peningkatan IPM NTB Tertinggi Nasional

MATARAM—Pembangunan manusia di Provinsi NTB pada tahun 2015 terus mengalami kemajuan, yang ditandai dengan meningkatnya Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dari 64,31 tahun 2014, menjadi 65,19 di tahun 2015, atau meningkat 1,36 persen. Peningkatatan 1,36 persen itu bahkan melampaui diatas pertumbuhan IPM nasional yang tumbuh hanya 0,94 persen.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTB, Wahyudin bahkan menyebut percepatan pertumbuhan IPM Provinsi NTB pada tahun 2015 tertinggi nasional, mencapai 1,36 persen. Selanjutnya baru diikuti Provinsi Jawa Timur tumbuh 1,19 persen, dan Sulawesi Barat tumbuh 1,17 persen. “Pertumbuhan IPM Provinsi NTB tertinggi diantara provinsi lain, sehingga masuk dalam kategori Top Mover tahun 2015,” kata Wahyudin di Mataram, Rabu (15/6).

Selama periode 2014 dan 2015, seluruh komponen pembentuk IPM di Provinsi NTB mengalami peningkatan tiga dimensi sebagai indikator penilaian IPM, diantaranya dimensi umur panjang dan hidup sehat yang masuk dalam sektor kesehatan, dimensi pengetahuan yang diantaranya angka harapan lama sekolah dan rata-rata lama sekolah. Kemudian dimensi yang ketiga adalah standar hidup layak, yakni pengeluaran perkapita per tahun yang disesuaikan dengan 96 komoditas.

Dari tiga indikator tersebut, Provinsi NTB terus mengalami peningkatan dalam kurun waktu 2010 hingga 2015. Dimana pada tahun 2015, capaian pembangunan manusia yang diukur dengan IPM sebesar 65,19 dari nilai penggabungan tiga indikator penilaian.

BACA JUGA :  3 Cabor Amankan Target KONI NTB

Untuk angka harapan hidup saat lahir 65,38 tahun, meningkat 0,48 tahun dibandingkan tahun sebelumnya. Demikian rata-rata lama sekolah 6,71 tahun dan harapan lama sekolah 13,04 tahun, anak-anak usia 7 tahun memiliki peluang untuk bersekolah selama 13,04 tahun, meningkat 0,33 tahun dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara penduduk usia 25 tahun ke atas, rata-rata telah menempuh pendidikan selama 6,71 tahun, setara kelas VII SMP atau meningkat 0,04 tahun dibandingkan tahun sebelumnya.

Selanjutnya indikator ketiga adalah pengeluaran per kapita masyarakat NTB telah mencapai Rp9,24 juta per tahun pada tahun 2015, meningkat Rp 254 ribu dibandingkan tahun sebelumna. Hanya saja, meski meningkat untuk pengeluaran per kapita masyarakat NTB masih berada di angka rata-rata nasional yang sudah mencapai Rp10 juta lebih per tahun. “Peringkat IPM NTB berada di urutan 30 dari 34 Provinsi. Tapi peringkat bukan satu-satunya ukuran kemajuan pembangunan manusia,” kata Wahyudin.

Menurut Wahyudin, secara umum ketiga indikator penilaian IPM di Provinsi NTB terjadi peningkatan, bahkan diatas rata-rata nasional. Kendati demikian, pemerintah daerah perlu memberi perhatian lebih terhadap usia perkawinan yang saat ini masih diangka 19 tahun, padahal seharusnya minimal  usia 21 tahun. Hal ini perlu mendapatkan perhatian karena berhubungan langsung dengan angka kematian bayi lahir, yang disebabkan ibu melahirkan belum siap.

BACA JUGA :  1.534 Wajib Pajak UMKM NTB Manfaatkan Tax Amnesty

Begitu juga dengan rata-rata lama sekolah untuk jenjang SMA/SMK/MA untuk melanjutkan ke perguruan tinggi masih rendah, dan ini perlu mejadi perhatian pemerintah daerah. Pasalnya, jumlah lulusan SMA sederajat yang melanjutkan ke pendidikan tinggi masih dibawah angka 50 persen.

Dalam perkembangan peningkatan IPM NTB tahun 2015, percepatan penumbuhan IPM yang cukup tinggi, bahkan diatas pertumbuhan NTB adalah Kabupaten Sumbawa Barat 1,77 persen, Lombok Barat 1,73 persen, dan Sumbawa 1,64 persen. Sementara tiga kabupaten/kota lainnya yang mengalami pertumbuhan IPM terendah tahun 2014-2015 adalah Lombok Timur hanya mampu tumbuh 1,22 persen, Kota Bima 1,05 persen dan Kota Mataram tumbuh paling rendah dari 10 kabupaten/kota di Provinsi NTB yang hanya mampu tumbuh 0,58 persen. (luk)