Pengusaha Tahu Tempe Mulai Setop Produksi

TETAP PRODUKSI : Salah seorang perajin tahu dan tempe yang tengah memotong bagian-bagian tahu di sentra produksi tahu tempe Kekalik Mataram. (DEVI HANDAYANI/RADAR LOMBOK )

MATARAM – Sejumlah perajin  tahu dan tempe di NTB terpaksa menipiskan ukuran produksi mereka di tengah harga kedelai yang semakin mahal. Perajin tahu dan tempe tetap berproduksi, meski harga kedelai sebagai bahan baku telah tembus diangka Rp 1 jutaan. Hanya saja, para perajin untuk mensiasati harga kedelai yang semakin mahal tersebut, maka ukuran tahu dan tempe mereka lebih diperkecil dari ukuran biasanya.

Sekarang ini harga kedelai sebagai bahan baku pembuatan tahu dan tempe sudah tembus diangka Rp 1.060.000 per kwintal. Harga kedelai cenderung terus naik, dari harga beberapa hari lalu masih berada di posisi Rp 1.030.000 per kwintal.

“Kedelai tetap naik, bingung orang jual. Harganya sampai Rp 1 jutaan,” kata salah seorang perajin tahu dan tempe di Kekalik, Sahrudin kepada kepada Radar Lombok, Minggu (14/2).

Sebelum mengalami kenaikan yang cukup tinggi, harga kedelai berada dikisaran Rp 700 ribu hingga Rp 800 ribu per kwintal. Namun kini sudah mencapai jutaan rupiah, membuat perajin tahu tempe kebingungan harus tetap produksi dengan menanggung rugi atau menutup usaha mereka.

“Banyak perajin tahu dan tempe di Kekalik ini yang menutup usaha atau berhenti produksi. Tapi saya pribadi kalau mau tutup produksi, bagaimana sama nasib karyawan,” ungkapnya.

Diterangkannya, jika menaikan harga persaingan tahu tempe di pasar cukup banyak. Daripada kehilangan pelanggan lebih baik mengurangi sedikit ukurannya, agar tidak ada persaingan yang sulit di pasaran. Meski produksi tetap, kalau kurangi jumlah pekerja, maka akan menganggur. Karena itu, terpaksa mensiasatinya dengan memperecil ukuran tahu dan tempe, agar tetap bisa berproduksi di tengah harga kedelai semakin mahal.

Untuk sekali produksi masih tetap sama sebelum terjadinya kenaikan harga yakni 100 cetak. Karena memang sudah ada permintaan dari pelanggan tetap. Sehingga, untuk mengurangi produksi tidak bisa dilakukan, karena bisa akan rugi lebih besar lagi.

“Sekali produksi 100 cetak, itu pagi ada 70 cetak nanti ada lagi siangnya cetak  lagi. Kalau sedikit bikinnya rugi nanti,” ujarnya.

Hal senada juga diakui Tajudin bahwa harga kedelai saat ini semakin tinggi mencapai Rp 1.030.000 per kwintal. Sebelumnya, berkisaran Rp 700 ribu – Rp 870 ribu per kwintal. Belum lagi harga bahan bakarnya yang ikuta naik, mau tidak mau terpaksa mengurangi produksi daripada harus menutup usaha.

“Tiap hari naik harga kedelai ini. Mau pakai kedelai lokal, tapi tidak ada sekarang. Kalau ada biasanya kita pakai itu, karena hasilnya lebih bagus,” ujarnya.

Ia mengaku tetap produksi tahu dan tempe, meski pada akhirnya ukuran sedikit lebih ditipiskan dari biasanya. Sementara untuk harga jual kepada konsumen tetap seperti biasanya, sebelum ada kenaikan harga kedelai, karena khawatir keluhan pembeli dan bisa menjadi sepi pembeli nantinya kalau harga jual tahu dan tempe dinaikkan.  

“Mau tidak mau ya rugi besar, modal yang ada. Itu  kita pakai untuk sehari-harinya. Harga tetap sama, tetapi ukurannya ditipiskan sedikit,” jelasnya.

Sementara itu, dengan naiknya harga kedelai yang menjadi bahan utama dari pembuatan tahu dan tempe, menjadi kendala dan membuat produksi merosot.       

“Bahan baku sudah naik, permintaan juga menurun. Biasanya bawa 20 cetak sekarang cuma 8 cetak. Itu pun kadang tersisa dan balik lagi. Apalagi permintaan dari hotel-hotel juga sudah tidak ada,” imbuhnya. (dev)