Pengunjung Embung Bidadari Dilaporkan Sakit Koreng

MANDI: Tampak warga yang sedang mandi di Embung Bidadari Desa Saba Kecamatan Janapria. (M Haeruddin/Radar Lombok)

PRAYAPemkab Lombok Tengah memastikan tidak akan melakukan penutupan terhadap embung Bidadari di Desa Saba Kecamatan Janapria yang kini menjadi pusat perhatian masyarakat, karena dipercaya sebagian masyarakat bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit. Dengan tidak ditutupnya lokasi itu, Dinas Kesehatan (Dikes) terus melakukan pengawasan agar keberadaan embung ini tidak mendatangkan penyakit. Bahkan petugas kesehatan ditempatkan di lokasi itu untuk memberikan edukasi, karena kandungan air di embung ini memiliki kadar Escherichia Coli atau E-Coli yang membahayakan bagi kesehatan.

Kepala Dikes Lombok Tengah, Suardi menegaskan, awalnya ada rencana melakukan penutupan embung Bidadari ini. Kendalanya, pihak Dikes tidak memiliki kewenangan untuk menutup. Sehingga pihaknya hanya bisa memberikan rekomendasi bagi pengelola dan masyarakat yang datang. “Hasil pengambilan sempel sudah kita sampaikan ke pemilik embung, kemudian pihak kecamatan, desa dan lainnya sebagai dasar imbauan kepada pengunjung agar jangan minum air embung, termasuk jangan kencing di dalam embung hingga harus disiapkan air tempat bilas, karena sudah mulai ada yang koreng (penyakit gatal),” ungkap Suardi kepada Radar Lombok, Selasa (6/9).

Suardi mengaku, sudah ada spanduk terkait beberapa larangan sesuai dengan rekomendasi yang diberikan dinas. Sehingga di lokasi embung, pihak Puskesmas Janapria sudah mendirikan post untuk melakukan pengawasan. “Petugas puskesmas tetap stand by di lokasi, di samping memberikan edukasi atau pemahaman serta penyuluhan. Puskesmas juga bekerja sama dengan pihak desa, kecamatan dan polsek untuk menjaga. Karena bupati juga sudah memerintahkan memperbaiki jalan menuju embung Bidadari ini,” tambahnya.

Baca Juga :  Butuh 394,94 Hektare, Lahan Dam Mujur Baru Dibebaskan 4,44 hektare

Suardi mengakui, tidak bisa hanya mengandalkan Dikes untuk di lokasi embung Bidadari ini, namun lintas sektor juga harus terlibat. Karena embung Bidadari ini memiliki dua sisi yang bertolak belakang, karena dari sisi ekonomi keberadaan embung Bidadari dianggap menguntungkan. Namun dari sisi kesehatan sangat berisiko. “Memang penutupan bukan menjadi solusi disaat warga sekitar mendapat keuntungan dan warga yang mengunjungi butuh sehat. Karena ada keyakinan, maka ketika ada keyakinan atau kepercayaan dengan mandi di tempat tersebut bisa sembuh dari beberapa penyakit, maka susah untuk kita halangi mereka,” terangnya.

Untuk sementara ini, Suardi mengaku bahwa persoalan ini akan dibiarkan mengalir begitu saja. Jika kemudian nanti terdapat risiko yang dihadapi masyarakat, maka lambat laun mereka akan sadar sendiri. Misalnya, ketika mereka pulang mandi kemudian terdapat gatal-gatal di tubuhnya, maka secara otomatis akan menyadari risiko mandi di embung tersebut. “Saya yakin seiring waktu dengan setiap hari kita memberikan edukasi, maka masyarakat pengunjung juga akan paham. Apalagi dengan melihat fisik dari embung itu juga di sana dia berludah dan kadang kencing. Yang berendam juga saya lihat saat saya berkunjung banyak yang sudah tua dan kita tidak tahu persis mereka ada juga yang gata,l maka jika kita bersamaan di tempat tersebut risiko tertular bisa terjadi,” terangnya.

Baca Juga :  Ada Penambangan Batu Apung di Sirkuit Motocross 459 Lantan

Suardi juga mengaku, belum menerima laporan secara tertulis terkait adanya masyarakat yang sakit atau yang sembuh setelah mandi di embung Bidadari ini. Namun dari laporan pihak puskesmas disampaikan ada yang gatal hingga masyarakat yang sakit tidak ada perubahan. “Jadi berbagai macam cerita kita dapatkan dan untuk menutup bukan solusi. Karena solusi kita adalah ketika mereka bersiriko dari sisi kesehatan, maka kewajiban kita memberikan edukasi,” tambahnya. (met)

Komentar Anda