Pengungsi Mulai Diserang Penyakit

Kerugian Materi Capai Rp 342 Miliar

Pengungsi Mulai Diserang Penyakit
SAKIT: Beberapa pengungsi yang sedang sakit diberikan pengobatan oleh tim medis dari TNI di tempat pengungsian. (MUHAMMAD GAZALI/RADAR LOMBOK)

SELONG – Korban gempa bumi mulai diserang penyakit di tempat pengungsiannya. Seperti para pengungsi di Kecamatan Sambelia. Tak sedikit dari mereka mulai merasakan demam dan flu. Terutama anak-anak dan pengungsi yang sudah lanjut usia.

Kondisi ini tidak hanya dialami para pengunsi di posko induk seperti di Desa Madain. Begitu juga dengan korban yang mengungsi ke tenda darurat di pekarangan rumah mereka. ‘’Banyak yang sakit. Seperti deman, flu, termasuk muntaber (muntah dan berak) juga,’’ tutur Inaq Alwi, warga Dusun Tampiasih Lauk Desa Belanting Kecamatan Sambalia.

BACA JUGA: Dewan KLU Temukan Bantuan Numpuk di Gudang

Demam dan flu yang diderita salah seorang keluarganya, sudah berlangsung sejak dua hari lalu. Sejauh ini belum ada pelayanan kesehatan yang didapatkan dari pihak terkait. Meski ada posko kesehatan yang disiapkan di pengungsian, namun lokasinya cukup jauh untuk dijangkau. ‘’Cuma dikasih minum obat saja. Kalau dibawa ke puskesmas atau posko kesehatan masih belum sempat,’’ tutur dia.

Hal sama juga ungkapkan Syamsuriah, warga Dusun Kolok Sepang Desa Dara Kunci, anaknya yang masih belia sejak beberapa hari ini kondisinya mengalami demam dan flu. Dia belum sempat membawa untuk berobat karena posko kesehatan lokasinya juga cukup jauh untuk dijangkau. ‘’Tidak hanya anak saya. Tapi juga beberapa warga lainnya juga  telah banyak diserang demam dan flu. Termasuk ayah saya. Dia demam dan juga masih kaget dan trauma dengan gempa yang cukup besar,’’ paparnya.

Salah seorang warga di Posko Pengungsian Desa Madain, Inaq Roni mengaku, sebagian besar warga di pungsian menderita demam dan flu. Terutama anak-anak dan orang tua. Salah satunya anaknya sendiri yang usiannya masih balita. ‘’Kalau anak saya sejak kemarin demam. Sejak berada di sini warga lainya juga mulai sakit,’’ timpalnya.

Namun, pengungsi di tempat itu telah disiapkan posko pelayanan kesehatan yang memadai. Ketika warga sakit, mereka pun langsung mendapatkan perawatan kesehatan dari tim medis yang telah disiagakan. ‘’Sudah saya bawa dan sudah diberikan obat oleh petugas,’’ tambahnya.

BACA JUGA: Palestina Bantu Korban Gempa Lombok

Menurut salah seorang pengungsi, Inaq Maulida, penyebab terjadinya penyakit diare ini karena tidak ada persediaan MCK. Para pengungsi harus membuar air sembarangan yang menjadi penyebab mudahnya orang sekitar terserang penyakit. ‘’Kita belum dilengkapi MCK, sehingga pengungsi buang air sembarangan. Ini yang menyebabkan mudahnya kita terserang penyakit,’’ ungkap ibu yang bayinya sedang menderita diare ini.

Selain itu, ketersediaan air bersih juga menjadi persoalan serius. Pasokan air bersih dilakukan tidak setiap hari. Ditambah lagi dengan masalah tidak adanya bak penampung air. Sehingga kebutuhan para pengungsi tak bisa terkontrol. ‘’Kadang kita ambil air dengan ember yang isinya 25 liter. Dan itu kita pakai untuk berbagai kebutuhan,’’ katanya.

Kepala Dinas Kesehatan Lombok Timur, drg Asrul Sani mengatakan, pihaknya telah menyiapkan posko kesehatan di sejumlah lokasi pengungsian, baik di Sembalun dan Sambelia. Ketika ada warga menderita sakit, baik itu demam, panas, flu dan berbagai penyakit lainnya akan langsung ditangani tim medis. Soal adanya pengungsi yang sulit mendapatkan pelayan kesehatan  lantaran posko kesehatan terlalu jauh untuk dijangkau, maka harus ditangani bersama.

Soalnya, petugas kesehatan juga tidak mungkin akan bisa menjangkau semua warga yang tersebar di beberapa titik pengungsian. Untuk itu, dibutuhkan koordinasi yang  baik antara semua pihak seperti pemerintah desa, camat dan lainnya. Ketika ada warga yang sakit, disarankan untuk segera membawanya ke pos pelayanan kesehatan terdekat yang telah disiapkan. ‘’Kita tidak bisa mengunjungi semua. Makanya saya mohon kerja sama semua pihak,’’ harap dia.

BACA JUGA: Pendakian Rinjani Ditutup Total

Ditimpali Ketua Tim Dukkes Lettu Ckm Ramadon mengatakan, satuan medis TNI telah dikerahkan turun ke lapangan memberikan pengobatan untuk korban gempa. Mereka sudah mulai diserang penyakit dan sebagian besar menderita demam dan flu. Sebayak dua tim yang diterjunkan. Sejauh ini sudah ada sekitar 90 warga yang diperiksa, namun ada sekitar 35 warga yang dinyatakan menderita demam, flu dan beberapa panyakit lainnya. ‘’Termasuk juga kita berikan pelayanan kesehatan jika ada warga yang malahirkan,’’ imbuhnya.

Untuk itu, dia berharap bagi warga yang merasa sakit disarankan untuk segera datang ke pos pelayanan yang telah disiapkan di posko pengungsian. Selain itu dia juga meminta kerja sama yang baik dari semua pihak. ‘’Ketika ada warga yang sakit sebaiknya segera dilaporkan,’’ imbuhnya.

Beralih ke Kecamatan Sembalun, gempa teknonik berkuatan 6,4 skala richter pada Minggu (29/7) lalu masih menyisakan trauma mendalam bagi siswa di wilayah itu. Kondisi ini menyebabkan aktivitas pendidikan di Sembalun lumpuh total. Sejumlah sekolah sudah mulai mengumumkan agar siswanya segera masuk dan aktif belajar. ‘’Tapi hal itu belum sepenuhnya aktivitas pendidikan di Sembalun kembali normal, karena sebagian besar para siswa berada di pengungsian,’’ kata Kepala UPTD Kecamatan Sembalun, H H Rumelan.

Rumelan juga mengaku, pihaknya akan segera memulihkan psikologis pelajar di wilayah itu. Pihaknya akan bekerja sama dengan pihak terkait untuk memberikan bimbingan. Sehingga trauma pelajar di wilayah itu bisa puluh pascagempa berkekuatan 6,4 SR yang mengguncang pulau Lombok, akhir pekan lalu. ‘’Proses belajar mengajar belum efektif karena kondisinya belum kondusif. Banyak fasilitas sekolah dan fasilitas siswa yang hilang, sehingga harus mulai meniti lagi,’’ tambahnya.

BACA JUGA: Ratusan Pendaki Rinjani Berhasil Dievakuasi

Rumelan menyebut, lima sekolah yang rusak berat di anataranya SDN 1 Sembalun Bumbung, SDN 1 Sajang, SDN 3 Sajang, SDN 3 Bilok Petung dan SMP Satu Atap (Satap) Semabalun. Sedangkan yang lainnya rusak ringan. ‘’Untuk itu dibutuhka bantuan tenda yang nantinya akan digunakan sebagai sekolah darurat sambil menunggu perbaikan,’’ tandasnya.

Sementara itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi NTB merilis kerugian materil akibat bencana tersebut. Nilainya mencapai Rp 342 miliar untuk sementara. BPBD bersama banyak pihak, terus melakukan upaya terbaik untuk menangani dampak paska gempa. Sejauh ini, semuanya berjalan cukup lancar dan masih bisa tertangani dengan baik. Bantuan dari berbagai pihak juga cukup membantu. Termasuk keterlibatan masyarakat dari berbagai wilayah. “Kita terus mendata kerugian akibat gempa,” ungkap Kepala BPBD Provinsi NTB Muhammad Rum kepada Radar Lombok, Kamis (2/8).

Rum kemudian merincikan dampak bencana gempa. Jumlah yang terdampak se-NTB sebanyak 47.361 jiwa. Wilayah yang paling banyak terdampak berada di Kabupaten Lombok Timur dan Kabupaten Lombok Utara (KLU).  Terdapat lima kabupaten/kota yang terdampak, mulai dari Kota Mataram yang juga terasa gempa 6,4 skala richter itu. “Tapi kalau di Mataram, tidak ada rumah rusak. Yang ada dilaporkan, terdapat satu orang luka-luka,” terangnya. 

Kemudian di Lombok Barat, gempa juga cukup keras dirasakan. Hingga saat ini, diketahui 2 rumah rusak berat dan 2 rumah lainnya rusak sedang. Namun tidak ada laporan warga yang terluka. Masyarakat di Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) pun merasakan gempa. 1 rumah mengalami rusak, namun kerusakannya tidak begitu parah. “Terdata, yang terdampak secara keseluruhan itu ada 10.982 kepala keluarga,” sebut Rum.

Di Kabupaten Lombok Timur, hingga saat ini sudah tercatat 12 orang meninggal dunia. Sebanyak 353 orang luka-luka. Kemudian 2.328 rumah rusak berat, 2.296 rumah rusak ringan dan 519 rusak sedang. “Total kerusakan rumah di Lotim itu 5.143,” ucap Rum. 

BACA JUGA: Ditanya Soal Pilpres 2019, Jokowi Tengok TGB

Selanjutnya di Lombok Utara, sebanyak 5 orang telah meninggal dunia dan 12 orang luka-luka. Namun, banyak rumah yang rusak di KLU mencapi 370 unit, baik rumah berat, ringan maupun rusak sedang. Selain itu, banyak juga infrastruktur yang terdampak. Tercatat 55 tempat ibadah rusak akibat gempa. Kemudian 45 sarana pendidikan dan 5 sarana kesehatan terdampak gempa. “Nanti kita hitung rincian kerugiannya, sabar. Sementara kerugian Rp 342 miliar,” tandasnya. 

Wakil Gubernur NTB, H Muhammad Amin mengatakan, pengurangan risiko bencana (mitigasi bencana) harus memiliki konsep yang baik. Sejauh ini, penanganan yang dilakukan terhadap korban gempa bumi dinilai sudah cukup baik. Hal yang terpenting kedepan yaitu mempersiapkan diri dalam menghadapi bencana serupa. Kemudian dirumuskan solusi terbaik. “Misalnya, rumah yang akan diperbaiki harus didesain agar anti gempa. Jangan sampai sekarang kita perbaiki, nanti kalau gempa itu rusak lagi. Kita bisa contohi konsep rumah di Jepang,” tandas Amin. (lal/lie/zwr)