Pengiriman 21 Ton Beras ke Sragen Digagalkan

Beras ke Sragen
DIAMANKAN : Danrem 162/WB Kolonel Inf Farid Makruf bersama Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Provinsi NTB, Husnul Fauzi (kanan) mengecek kondisi 21 ton beras yang diamankan Kamis kemarin (4/5). Beras tersebut rencananya akan dibawa ke Sragen Jawa Tengah. (Korem For Radar Lombok)

MATARAM—Tim Sergap Provinsi Nusa Tenggara Barat berhasil  menggagalkan pengiriman 21 ton beras jenis beras super yang hendak dikirim ke  Sragen Jawa Tengah.

Beras tersebut diangkut menggunakan mobil kontainer warna putih dengan nomor polisi (nopol) DK 9546 SN. Beras ini disebut-sebut milik seseorang di Lombok Tengah.

Penggagalan ini berawal dari pengintaian oleh personel  Kodim 1620 Loteng. Hingga akhirnya, mobil kontainer ini dicegat di daerah Gerung  Lombok Barat (Lobar) Kamis kemarin (4/5) sekitar pukul 12.45 Wita.  Selanjutnya, petugas menyita dokumen dan alat komunikasi pengemudi. Setelah dilakukan koordinasi, kontainer beserta pengemudinya dilakukan penahanan dan selanjutnya diperintahkan untuk dibawa ke Kodim 1606 Lobar.

Komandan Korem (Danrem) 162/WB Kolonel Inf Farid Makmur saat dikonfirmasi mengatakan, dari kesepakatan yang ada dan mendapat restu dari gubernur, bahwa tidak ada beras atau gabah yang oleh keluar dari NTB sebelum stok di NTB terpenuhi. ‘’ Oleh karena itu saya berhak untuk menangkap barang dan orang seperti ini,’’ ujarnya, kemarin.

Secara prosedural, TNI akan melaporkan ke kepolisian. Kemudian juga melapor ke Gubernur NTB. ‘’ Setelah itu, nanti akan diputuskan apakah beras ini  akan dijual kepada kita atau kita tahan disini. Ini hak kami, karena ini sudah kesepakatan dengan gubernur,’’ katanya.

Pengiriman beras ke luar daerah ini  juga menurutnya melanggar aturan yang sudah dibuat.

Padahal Bulog NTB masih sanggup untuk membeli dan menampungnya tetapi malah akan dibawa keluar NTB. ‘’ Saya yakin, beras ini akan gunakan untuk mencari keuntungan yang semena-mena. Itu jelas tidak bisa, kita penuhi dulu di NTB ini. Baru boleh membawa keluar,’’ tandasnya.

Provinsi NTB  salah satu dari sepuluh sentral padi terbesar di Indonesia. Padi atau beras yang dihasilkan nantinya juga bertujuan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat NTB. ‘’ Tetapi dengan catatan, stok kita di NTB harus aman dulu. Baru boleh membawa barang-barang ini ke luar NTB,’’ tegasnya.

Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Provinsi NTB, Husnul Fauzi mengatakan, pengamanan   21 ton yang berasal dari Loteng  yang akan dibawa ke Seragen, Jawa Tengah tersebut sebagai salah satu langkah yang harus dilakukan memperkuat ketahanan pangan dalam daerah NTB.  Terlebih lagi, hingga saat ini, pembelian Perum Bulog NTB baru   42 ribu ton setara beras yang masih jauh dari harapan target sebanyak 180 ribu setara beras selama tahun 2017. Sementara panen raya akan terjadi Mei dan Juni. “Untuk menghentikan pengiriman beras keluar NTB itu sebagai langkah antisipasi dalam memperkuat stok pangan dalam daerah,” kata Husnul.

Menurut Husnul, pada prinsipnya pengiriman beras ke luar NTB tidak ada masalah. Hanya saja saat ini pengadaan beras untuk stok ketahanan pangan dalam daerah masih perlu kerja keras. Selama stok cadangan beras untuk NTB belum meyakinkan, maka Pemprov NTB memiliki hak untuk mengamankan cadangan pangan dalam daerah. Salah satu caranya adalah untuk sementara melarang pengiriman beras ke luar NTB, sebelum cadangan pangan untuk aman.

Husnul juga memastikan pihaknya bersama Tim Sergap Provinsi NTB akan terus mengkawal dan memantau pergerakan beras yang keluar NTB. Karena adanya kekhawatiran pada musim panen raya  Mei-Juni ini serapan pembelian Bulog NTB tak sesuai harapan, karena persaingan harga yang cukup berat dengan pengusaha. Terlebih lagi kalau ada mitra pengadaan dari Bulog NTB yang berlaku curang dan bermain dengan pengusaha.

Pada bulan Mei-Juni ini diperkirakan luas areal tanam padi yang akan melakukan panen raya padi mencapai 290 ribu hektar dengan asumsi hasil panen mencapai 350 ribu ton setara beras. Oleh karena itu, pada musim panen raya Mei-Juni ini, Perum Bulog NTB harus memaksimalkan pembelian gabah petani. Selain itu Tim Sergap NTB juga akan terus memantau pergerakan adanya beras yang dibawa keluar NTB dan akan menyetop kendaaan tersebut. “Untuk beras sebanyak 21 ton yang ditahan itu akan dibeli oleh Perum Bulog NTB sesuai harga kesepakatan dengan pengusaha,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Perum Bulog Divre NTB, H. Achmad Ma’mun mengatakan,  k 21 ton beras yang ditahan oleh Tim Sergap NTB akan dilakukan negosiasi masalah harga untk dibeli dari pengusaha tersebut. “Saat ini tim kami dari Bulog NTB sudah menegosiasikan harga. Kalau harga sesuai dan kualitas sesuai kriteria, maka kami akan beli,” jelas Ma’mun.

Ma’mun mengatakan pencegahan beras NTB keluar daerah oleh  Tim Sergap NTB merupakan  sebagai salah satu langkah persuasif dengan pengusaha untuk ikut andil dalam pemenuhan  stok beras nasional, khususnya di NTB.”Semoga bisa diserap atau dibeli Bulog dengan harga wajar,” harapnya. (gal/luk) 

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid