Penggembala Kerbau Kawasan Bandara Masih Bandel

AKAN DITERTIBKAN: Satpol PP Lombok Tengah akan kembali menertibkan kerbau yang digembalakan di kawasan Bandara Internasional Lombok. (M Haeruddin/Radar Lombok)

PRAYA – Satpol PP Lombok Tengah akan berkoordinasi dengan berbagai pihak terkait untuk menertibkan kerbau di kawasan Bandara Internasional Lombok (BIL). Meski sudah sering ditertibkan tapi kerbau di kawasan bandara masih saja banyak ditemukan.

Kasatpol PP Lombok Tengah, Zaenal Mustakim menyatakan, untuk menyelesaikan persoalan kerbau di kawasan bandara, maka pihaknya akan berkoordinasi dengan berbagai pihak, baik dengan desa dan kecamatan. Mengingat keberadaan kerbau di bandara ini bukan berasal dari satu desa saja. “Boleh saya bilang masalah kerbau ini masalah pelik karena menyangkut beberapa desa dan kecamatan di wilayah selatan atau seputar bandara. Masalah ini bukan kasus baru tapi sudah lama, meski sempat ditertibkan tapi balik lagi,” ungkap Zaenal Mustakim, Minggu (9/6).

Baca Juga :  Lalu Muhibban Resmi Hengkang dari Gerindra

Para penggembala kerbau banyak memilih menggunakan lahan bandara menjadi lokasi gembala, terutama saat musim tanam padi. Alasannya di luar para penggembala ini tidak bisa menggembala ternak mereka karena tidak ada lahan. “Kalau musim kemarau maka bisa saja kita geser kerbau ini dalam waktu cepat. Tapi kalau musim tanam tidak ada, maka itu saja alasan klasik yang kita temukan soal tidak ada lahan untuk menggembala kalau musim tanam,” terangnya.

Di samping itu, masalah lainnya hampir rata para penggembala ini bukan pemilik asli kerbau tapi mereka menggembalakan kerbau orang lain. Maka hal ini yang menjadi perhatian juga agar permasalahan kerbau di kawasan bandara bisa cepat diselesaikan. “Tapi insyaallah kedepan kami dari Satpol PP bertekad untuk menertibkan bandara ini dari ternak,” tegasnya.

Baca Juga :  Bandara Lombok Mulai Layani Penerbangan Rute Lombok-Makassar

Untuk menertibkan kerbau ini, Satpol PP tidak bisa sendiri namun membutuhkan sinergitas dan kolaborasi dari berbagai pihak terutama dari unsur desa dan kecamatan. Pihaknya menyarankan agar dilakukan operasi penertiban skala besar yang tentu membutuhkan berbagai persiapan. “Bisa saja nanti opsi disediakan lahan untuk menggembala sebagai jalan tengah, karena kita sadar juga bahwa ini sudah terjadi secara turun temurun. Kerbaunya juga banyak sehingga ini menjadi mata pencaharian. Tapi di satu sisi penggembala juga harus mengerti bahwa itu merupakan daerah larangan,” pungkasnya. (met)

Komentar Anda