Pengeboran TCN Rusak Karang di Trawangan

Martanina (DERY HARJAN/RADAR LOMBOK)

TANJUNG – Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional (BKKPN) Kupang akan gelar perkara hasil investigasi gabungan yang dilakukan beberapa waktu lalu terhadap limbah yang ada di perairan Gili Trawangan.

Investigasi tersebut digelar bersama Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Kementerian Kelautan dan Perikanan wilayah NTB, Sat Polairud Polres Lombok Utara, NGO, aktivis penyelam dan sebagainya.

Koordinator BKKPN Kupang Wilayah Kerja Perairan Gili Matra (Meno, Air dan Trawangan) Martanina mengatakan bahwa hasil investigasi pihaknya menemukan adanya kerusakan terumbu karang akibat dari limbah sisa pengeboran di lokasi pemasangan pipa oleh PT Tiara Cipta Nirwana (TCN).

“Ada kematian karang di sana karena ada ekosistem karang. Itu yang terdampak sekitar 1.660 meter persegi,” bebernya, Senin (27/5).

Untuk menguatkan bukti kerusakan yang ditimbulkan oleh limbah tersebut pihaknya kini tengah menunggu hasil uji laboratorium kualitas air dan semburan lumpur. “Untuk sampel kualitas air itu diuji di laboratorium¬† Lingkungan Hidup Provinsi NTB dan semburan lumpur di Universitas Mataram,” ujarnya.

Untuk hasil pihaknya belum bisa memastikan. Sejauh ini BKKPN Kupang terus berkoordinasi baik dengan Dinas Lingkungan Hidup NTB maupun dari Universitas Mataram. “Jika hasil uji lab keluar maka nanti akan gelar perkara bersama penyidik dan PSDKP,” ucapnya.

Sementara menunggu itu pihaknya bersama PSDKP sudah memerintahkan PT TCN untuk menghentikan aktivitas pengeboran di lokasi dan membersihkan lumpur atau limbah yang keluar dari pipa yang mengarah ke dasar laut per 8 Mei 2024 hingga batas waktu yang belum ditentukan. Pipa itu akan digunakan untuk menyedot air laut untuk diolah menjadi air tawar.

Terkait nasib distribusi air ke masyarakat, Martanina menegaskan bahwa itu sama sekali tidak menggangu distribusi air. Pasalnya limbah ini bukan diakibatkan oleh sisa produksi air tetapi diakibatkan oleh aktivitas pengeboran di lokasi yang akan dipasangi pipa. “Jadi distribusi air tetap jalan,” tegasnya.

Anggota BKKPN Kupang Wilayah Kerja Gili Matra, Hotmariah¬† menjelaskan bahwa pihaknya meminta aktivitas pengeboran dihentikan karena semburan cairan hitam terus keluar dan itu merusak ekosistem laut yang ada. “Semburan yang keluar itu kan vartikel padat. Ketika tersembur di perairan, karena itu vartikel padat maka otomatis akan mengendap ke bawah dan terbawa arus. Itu merusak karang,” bebernya. (der)

Komentar Anda