Pengalaman Paskibraka Asal NTB Saat Bertugas di Istana Negara (Bagian 1)

Pengalaman Paskibraka Asal NTB Saat Bertugas di Istana Negara
TERBAIK NASIONAL: Agus Putra Pratama Yudha bersama orangtuanya Mukhtar dan Nurlailah saat berada di kantor Dispora NTB, Jumat kemarin (25/8). (AZWAR ZAMHURI/RADAR LOMBOK)

Masyarakat NTB patut berbangga pada Agus Putra Pratama Yudha yang masuk Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) nasional. Agus, bukan hanya sebagai pengerek bendera di Istana Negara, tetapi juga terpilih menjadi Paskibraka putra terbaik nasional 2017.


AZWAR ZAMHURI – MATARAM


Waktu menunjukkan lebih dari pukul 10.00 Wita, saat rombongan Paskibraka perwakilan NTB tiba di kantor  Dinas Pemuda dan Olahraga (Dikpora) NTB, Jumat kemarin (25/8). Bersama kedua orangtunya, Agus Putra Pratama Yudha dan Fina Widianingrum diterima di ruang kepala Dispora NTB, Hj Nurhandiny Nurdin.

Agus dan Fina baru saja bertolak dari Jakarta ke Bandara Internasional Lombok (BIL). Tidak ada sambutan yang begitu istimewa. Siang itu, Agus tidak bisa menyembunyikan kelelahan tubuhnya. Apalagi sejak malam tidak tidur nyenyak karena harus bertolak ke kampung halaman. Namun, wajah puas dan bangga nampak pada kedua wajah mereka. Terutama orangtua yang setia mendampingi.

Nama Agus memang belum tenar di NTB. Namun, ia telah menorehkan prestasi membanggakan dan mengharumkan nama NTB di pusat. Bisa masuk menjadi Paskibraka nasional saja tidak mudah, apalagi terpilih sebagai Paskibraka nasional 2017.

Bisa mewakili NTB di Paskibraka nasional, memang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Apalagi, anak pertama dari tiga bersaudara ini masih minim jam terbang profesional. Agus memang tidak pernah sekalipun menjadi Paskibraka tingkat kabupaten, maupun provinsi. “Tahun lalu saja, saya hanya jadi peserta upacara saat 17 Agustus,” ungkapnya.

Putra kebanggaan dari pasangan Mukhtar dan Nurlailah ini sejak kecil telah akrab dengan dunia baris berbaris. Maklum saja, Serka Mukhtar merupakan seorang prajurit TNI  yang saat ini bertugas menjadi Babinsa Ngali Koramil Woha.

Itulah yang membuat Agus sering menjadi petugas upacara setiap hari Senin di sekolah. Namun untuk urusan yang lebih berkelas, seperti menjadi pengibar bendera saat 17 Agustus tingkat kabupaten dan provinsi, Agus tidak memiliki pengalaman sama sekali.

Awal bisa masuk Paskibraka nasional, dimulai dari sekolahnya. Bersama 16 temannya dari SMAN 1 Woha, Agus ikut seleksi Paskibraka tingkat kabupaten. Agus lulus seleksi kabupaten sehingga dikirim ke provinsi. “Saat seleksi di provinsi itu jumlah kita ratusan, alhamdulillah saya terpilih untuk wakili NTB ke nasional,” tutur siswa yang hobi main sepak bola ini.

Setelah bergabung dengan putra dan putri dari berbagai daerah di Jakarta, Agus telah dibekali ilmu berbaris. Mempelajari baris berbaris sejak kecil, bukan hanya tentang tangan dan kaki yang seirama. Namun juga dibekali cara bergaul dan menghargai orang lain.

Itulah yang membuatnya mudah diterima oleh berbagai kalangan. Baginya, kunci keberhasilan dalam hal apapun adalah belajar, berlatih dan berdo’a. “Saya yakin, ikhtiar tanpa do’a akan sia-sia. Hanya disempurnakan dengan do’a, sebuah ikhtiar akan berhasil,” ujarnya.

Dituturkan Agus, pada pelaksanaan upcara 17 Agustus dalam rangka memperingati proklamasi beberapa hari lalu, dirinya tergabung dalam pasukan 8 pada tim putih. Agus bertugas menjadi pengerek bendera di pagi hari. “Grogi saya waktu itu, di depan Presiden soalnya,” ucapnya.

Fokus dan tawakkal menjadi kunci kesuksesannya menjadi Paskibraka. Agus berhasil menghadapi rasa tegang yang menyerangnya. “Namanya di hadapan Presiden mungkin ya, apalagi ini pertama kali. Sensasinya itu antara grogi dan bangga karena bertugas di hadapan Presiden,” kenangnya.

Agus berhasil menuntaskan tugasnya dengan baik. Momentum tersebut menjadi pengalaman yang sangat berharga baginya. Kini ia telah kembali ke NTB, melanjutkan tugas sebagai pelajar yang selalu juara 3 besar di kelas.

Agus ingin, apa yang menjadi pengalamannya saat ini bisa melancarkan dirinya dalam menggapai cita-cita. Sebuah keinginan untuk mengikuti jejak sang ayah, menjadi prajurit yang mengabdi untuk keutuhan bangsa dan rakyat jelata. (bersambung)