Pengalaman AKP I Made Hendra Bertugas Menjadi Anggota Perdamaian PBB

Ledakan Bom dan Letusan Senjata jadi Rutinitas

Pengalaman AKP I Made Hendra Bertugas Menjadi Anggota Perdamaian PBB
MENGGENDONG: AKP I Made Hendra sedang menggendong seorang anak disela- sela tugasnya menjadi anggota perdamaian PBB saat berada di Darpur. (AKP I Made Hendra For Radar Lombok)

Sejumlah personel kepolisian di NTB pernah bertugas menjadi personel perdamaian PBB dan sejumlah negara yang dilanda konflik. Salah satu yang punya pengalaman itu adalah AKP I Made Hendra saat bertugas di Sudan.


M Haeruddin-PRAYA


AKP I Made Hendra  tidak bisa begitu saja pengalamannya bertugas di Sudan. Negara ini dilanda konflik perang saudara akibat pemberontakan yang terjadi. Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) lantas menempatkan personel keamanan dari berbagai negara untuk menjaga perdagamain.

Hendra yang saat ini menjabat Kasat Lantas Polres Lombok Tengah bertugas pada tahun 2012 hingga 2014 silam. Dirinya adalah salah satu dari 140 orang yang terlibat pengamanan di Kota Darfur wilayah yang dilanda konflik tersebut. Bertugas di daearah konflik menuntut personel perdamaian PBB untuk selalu waspada. Meskipun mereka datang untuk menjaga keamanan tetapi bisa saja mereka jadi sasaran pihak-pihak yang berkonflik.

BACA JUGA :  Mengenal Bripda Lale Hana Rahmania, Polisi yang Menjadi Duta Lingkungan

Hendra bertugas sebagai  penjaga keamanan dan pengawalan ketika ada kunjungan maupun adanya delegasi yang memberikan bantuan ke negara tersebut. Saat pengamanan berlangsung, tidak jarang tiba- tiba terjadi ledakan bom maupun letupan senjata di dekatnya. “Kita selalu was- was, karena kondisi di negara tersebut tidak menentu. Biasanya aman sesaat,  namun tiba- tiba ada suara tembakan, setelah kita telusuri pasti ada korban nyawa. Hal itu menjadi rutinitas yang kami temukan saat berada  di negara konflik,”ungkapnya saat menceritakan pengalamanya, Kamis kemarin (2/11).

Dirinya harus bergerak cepat dalam menghadapi segala macam persoalan yang ada. Ledakan bom suara  letusan  senjata menjadi sarapan pagi maupun makanan malam yang harus ihadapi setiap saat.”Situasi disana (Sudan) memang landai tapi tidak bisa ditebak. Karena orang disana dalam memvonis itu bisa dengan bebas, kalau salah ya sikat tanpa ampun,”tambahnya.

Beruntung dari pengalaman menjadi personel kepolisian ditambah pelatihan sebelum keberangkatan ke Sudan menjadi modal penting dirinya bertugas. Kondisi yang serba tidak menentu itu bisa diatasi dengan baik. Dirinya juga bisa membaur dengan personel lain dari berbagai negara serta masyarakat setempat.

Hendra  lulus Akpol tahun 2007 lalu. Tugas pertama ditempatkan di Polda Yogjakarta. Hendra mengabdi selama 8 tahun, dimana 7 tahun  bertugas sebagai penyidik reskrim. Saat bertugas itulah, Hendra ikut seleksi personel perdamaian PBB. Setelah menjalani seleksi cukup panjang, Hendra terpilih dan diberangkatkan ke Sudan.”Selama satu tahun saya menjadi anggota perdamaian PBB. Saya balik ke Indonesia melanjutkan pengbdian  di NTB,”ujarnya.

Tidak lama setelah selesai menjalankan tugas di Sudan, Hendra  mendapat beasiswa untuk kuliah di PTIK dan selesai dalam kurun waktu satu tahun yakni pada 2016 lalu. Ia kemudian ditugaskan di bagian Dirlantas Polda NTB selama 5 bulan. “Setelah itu saya pindah ke Bima selama 11 bulan dan akhirnya saya ke Lombok Tengah pada tahun 2017 ini menjadi Kasat Lantas,”ujarnya.

BACA JUGA :  Dibalik Keberhasilan Desa Sakra Menjuarai Perpustakaan Dese Tingkat Nasional

Bagi Hendra, kenangan bertugas di Sudan itu tidak akan terlupakan begitu saja. Itulah salah satu pengalaman berharga dalam hidupnya maupun karirnya sebagai anggota kepolisian. “Itu sebabnya foto- foto saat berada di Kota Darpur  masih tetap tersimpan bersama kenangan saat itu,”ujarnya.(**)