Penerawangan Paranormal Gus Muji Dalam Pilkada NTB 2018

Gus Muji
Gus Muji (AHMAD YANI/RADAR LOMBOK)

Lazimnya, agenda suksesi politik pemilihan kepala daerah (pilkada) dianalisa pengamat politik. Lalu, seperti apa konstelasi dan dinamika politik pada pilkada NTB dari mata paranormal.


Ahmad Yani — Mataram


PULUHAN putra putri terbaik NTB sudah mulai menampak diri untuk ikut bertarung dalam percaturan politik di Bumi Gora ini. Di antaranya Wali Kota Mataram H Ahyar Abduh, Bupati Lombok Tengah HM Suhaili FT, DPR RI Dapil Banten Zulkieflimansyah, mantan Bupati KSB KH Zulkifli Muhadli, Bupati Lombok Timur Ali Bin Dahlan, Ketua DPC Partai Hanura Kota Mataram Subuhunuri, dan sejumlah nama beken lainnya. Rata-rata, mereka tercatat sebagai politisi ulung yang saat ini duduk dalam kursi jabatan politik. Mereka juga terbilang andal dalam pengalaman politik selama ini.

Sebagian dari mereka sudah mengatur strategi, membangun opini, menjajaki koalisi parpol, bersilaturahmi dan bertatap muka dengan pemilih, menebar pesona hingga berupaya lain untuk meraih simpati dan dukungan publik. Ada juga yang menjajal kekuatan mereka melalui lembaga survei dan lembaga lainnya.

[postingan number=5 tag=”pilkada”]

Lalu siapakah yang betul-betul serius dan berpeluang akan mencalonkan diri?. Hal inilah yang diungkap Gus Muji dalam penerawangannya. Paranormal asal pulau Sumbawa ini menyebut, dari sekian banyak kandidat sudah menyatakan kesiapan maju berkompetisi di pilkada NTB 2018. Diperkirakan hanya akan diikuti tiga pasangan calon (paslon). Tiga paslon akan bertarung memperebutkan kursi NTB 1 dan 2 didukung dan diusung dari koalisi partai politik. “Tidak ada calon independen” kata Gus Muji kepada Radar Lombok, belum lama ini terkait penerawangan perihal konstelasi suksesi di pilkada NTB.

Kendati, ada sejumlah kandidat menyatakan kesiapan maju di suksesi pilkada NTB melalui jalur independen atau perseorangan. Namun, berdasarkan hitung-hitungan dirinya dilihat nama, kultur alam relatif sangat sulit bagi calon independen. Sehingga ia memperkirakan sulit bagi calon independen untuk memenuhi persyaratan untuk lolos menuju suksesi perebutan kursi NTB 1 dan 2.

Kata Gus Muji, pertarungan pilkada NTB diramaikan kandidat didukung dan diusung dari koalisi partai politik. “Sulit bagi calon independen muncul. Kultur alam saat ini tidak memungkinkan bagi calon independen” ucap pria asal Pekalongan kini tinggal di Sape Bima tersebut.

Oleh karena itu, ia memberikan saran kepada kandidat mau maju melalui jalur independen untuk berpikir ulang. Mereka disarankan untuk maju di suksesi pilkada NTB melalui jalur dukungan parpol. Masih memungkinkan bagi mereka tampil di suksesi pilkada NTB andai memutuskan maju melalui jalur parpol.

Meskipun begitu, Gus Muji enggan membeberkan paslon yang bakal berkompetisi menuju kursi NTB 1 dan 2. Namun, ia menegaskan bahwa kompetisi di pilkada NTB akan diikuti tiga paslon dengan konfigurasi dukungan tiga koalisi parpol. Yakni, koalisi poros tengah, Golkar dan Gerindra dan koalisi Partai Demokrat. “Koalisi tiga parpol bakal mengusung tiga paslon” sebutnya.

Selain itu, ia pun mengatakan, relatif masih sangat sulit bagi calon gubernur berasal dari luar Sasak untuk memenangkan kontestasi di pilkada NTB. Pemilih sebagian besar berasal dari etnis Sasak, masih sangat sulit untuk memilih calon gubernur dari luar etnis Sasak. Sebaiknya, kandidat berasal dari luar etnis Sasak lebih memungkinkan bagi dirinya memenangkan kontestasi di pilkada NTB dengan menjadi orang nomor dua atau calon wakil gubernur.

Saran ini disampaikan Gus Muji agar kandidat tersebut tidak perlu menghabiskan energi, tenaga, dan materi sulit bagi mereka memenangkan kontestasi di pilkada NTB. “Sulit menang bagi tokoh di luar Lombok jika jadi nomor satu” ungkapnya.

Kendati demikian, ia mengatakan, ada dua kandidat bakal bertarung sengit untuk memperebutkan kursi NTB 1. Kedua tokoh tersebut berasal dari parpol sama dan berlatar belakang kepala daerah. Mereka pun sudah memimpin daerah masing-masing selama dua periode secara berturut-turut. Namun, kandidat akan memenangkan kontestasi di pilkada NTB memiliki religiusitas agama lebih kuat, pembawaan tenang, kalem, dan bersahaja.

Namun kandidat tersebut bisa kalah andai ia salah menjatuhkan pilihan kepada tokoh calon wakil gubernur mendampinginya. “Kemenangan akan menang tipis,” prediksinya.

Namun demikian, Gus Muji mengingatkan, bahwa kemenangan calon gubernur tersebut akan sangat ditentukan dukungan dari pendampingnya atau calon wakil gubernur. Oleh karena itu, berdasarkan hitung-hitungan jumlah huruf nama. Ia memberikan saran memilih wakil memiliki jumlah huruf genap dengan huruf konsonan hidup. Hal itu akan lebih melapangkan jalan bagi kandidat tersebut untuk meraih kemenangan di pilkada NTB. “Bahkan paling ideal, andai calon gubernur dan calon wakil gubernur memiliki jumlah huruf sama dan mayoritas huruf konsonan” pungkasnya. (**)