Penekanan Inflasi, TPID Segera Rapat Koordinasi

Penekanan Inflasi, TPID Segera Rapat Koordinasi
BAHAN POKOK : para pedagang yang tengah menjajakan barang dagangannya di Pasar Tanjung. (HERY MAHARDIKA/RADAR LOMBOK)

TANJUNG – Koordinator Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Lombok Utara Ahmad Sujanadi menanggapi pernyataan Kepala Bank Indonesia (BI) Perwakilan NTB Prijono atas belum aktifnya TPID dalam mengendalikan atau menekan inflasi daerah. “Memang TPID Lombok Utara belum melaksanakan rapat koordinasi, pihaknya akan segera melakukan rapat sebelum puasa ini,” akunya melalui via telpon disela-sela istirahat mengikuti tes Pansel yang berlangsung di aula kantor BKD Provinsi, Selasa (16/5).

Pelaksanaan rapat ini sendiri nanti akan mengundang instansi terkait seperti Diskoperindag, Dinas Pertanian, BPS dan lainnya. Melalui rapat ini akan meminta laporan berapa kenaikan harga sembako sembilan bahan pokok tersebut. Kalau sudah tahu berapa kenaikannya, baru pihaknya akan mengambil langkah-langkah penekanan terhadap inflasi tersebut. “Tapi, untuk harga bahan poko ini di Lombok Utara sampai saat ini masih stabil atau tidak melonjak, karena faktor kehidupan masyarakat desa berbeda dengan kehidupan kota,” katanya.

Kemudian, menghitung inflasi di daerah ini belum bisa dilaksanakan oleh BPS Lombok Utara karena pada tahun ini belum ada anggarannya atau program kegiatan tersebut. Karena, yang bisa menghitung inflasi di seluruh Indonesia itu ada di Kota-Kota seperti Mataram dan Bima. “Jadi, Lombok Utara mengacu ke inflasi Kota Mataram,” terangnya.

Adapun langkah kebijakan yang rencana akan diambil, yaitu pemerintah harus mempercepat penyaluran beras sejahtera (Rastra) guna menekan harga pangan, kemudian kerjasama dengan Diskoperindag untuk membuka pasar murah. “Nanti kedua kebijakan yang bakal kita lakukan,” harapnya.

Dikonfirmasi terpisah, Kabid Perdagangan Diskoperindag Lombok Utara Dende Dewi menyatakan, selama ini pihaknya telah berusaha dengan maksimal dan berjalan dengan baik, dan acuan penekanan harga harus menunggu informasi dari provinsi untuk tolak ukurnya. Jika menyediakan stok yang banyak tentu terbatas lagi dengan anggaran. “Namun hasil inflasi harga masih stabil dan masih kisaran turun. Pendataan hari ini masih melihat perkembangan,” jelasnya.

Jika pun terjadi kenaikan, karena tiga pasar besar yang ada di Lombok Utara menjadi acuan yaitu Pasar Tanjung, Pemenang dan Gangga rata-rata mengambil barang di Pasar Bertais Kota Mataram. “Tentu para pedagang akan menghitung-hitung berapa kenaikan disana, ongkos mengangkutnya, dan medan yang ditempuh,” ungkapnya.

Terkait kenaikan harga sembako setiap hari-hari tertentu ini, pihaknya tidak bisa menginterpensi para pedagang karena ini sudah termasuk hukum pasar yang pasti terjadi. Untuk pengadaan pasar murah sendiri pun tidak ada di daerah karena harus menunggu regulasi terbaru. “Kenaikan harga ini tidak bisa diinterpensi,” tambahnya.

Adapun harga sembako yang dihimpun koran ini di Pasar Tanjung, antara lain harga beras per kg Rp 9 ribu naik menjadi Rp 10 ribu, cabai rawit Rp 120 ribu per kg turun menjadi Rp 80 ribu, bawah putih Rp 60 ribu per kg turun masih tetap, bawang merah Rp 70 ribu pe kg naik menjadi Rp 80 ribu, tomat Rp 3 ribu per kg naik menjadi Rp 6 ribu, daging sapi Rp 110 ribu per kg naik menjadi Rp 120 ribu, ayam Rp 35 ribu pe kg naik menjadi Rp 45 ribu, udang kecil Rp 45 ribu per kg naik menjadi Rp 60 ribu, udang besar Rp 60 ribu menjadi Rp 70 ribu, cumi Rp 50 ribu naik menjadi Rp 60 ribu. Selanjutnya,  harga buah-buahan terdiri dari anggur merah Rp 60 ribu naik menjadi Rp 80 ribu, pisang searit Rp 5 ribu naik menjadi Rp 20 sampai Rp 25 ribu. (flo)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid