Penderita Kulit Bersisik Berharap Bantuan Pemerintah

Penderita Penyakit Kulit Bersisik
KULIT BERSISIK: Muhammad Hamdi, penderita penyakit kulit bersisik yang kini terpaksa harus berhenti sekolah karena malu dan minder. (IRWAN/RADAR LOMBOK)

SELONG–Muhammad Hamdi, bocah usia 11 tahun, warga Dusun Tutuk, Desa Jerowaru, Kecamatan Jerowaru, Kabupaten Lombok Timur (Lotim), diduga menderita kanker kulit. Sekujur tubuhnya tumbuh bintik-bintik hingga berbentuk sisik. Mengingat perekonomian keluarganya yang sulit (miskin), maka orang tuanya hanya membawa dia berobat ke dukun saja.

Kepada Radar Lombok, Hamdi menyampaikan kalau penyakitnya ini telah dia derita sejak kelas 2 SD. Awalnya hanya muncul benjolan atau bintik-bintik kecil di kaki, tangan dan pinggiran badannya. Namun lama-kelamaan bintik-bintik itu mulai menjalar ke sekujur badannya. “Awalnya hanya sedikit yang tumbuh di badan dan kakinya. Namun kemudian menjalar ke seluruh tubuh,” katanya Selasa (9/5).

Dtuturkan Hamdi, penyakit yang dideritanya ini bermula ketika dia mandi di salah satu tambak milik orang. Pada saat mandi, dia bersama teman-temannya tidak mengalami masalah apapun. Namun setelah pulang mandi, tangannya gatal-gatal dan mulai muncul bintik-bintik. “Dari semua teman yang mandi di tambak itu. Hanya saya yang mengalami penyakit seperti ini. Yang lain tidak ada yang sakit, dan tetap bermain dan bersekolah seperti biasa,” ujar Hamdi.

Karena menderita penyakit “aneh” yang diduga sebagai penyakit “kanker kulit” ini, Hamdi mengaku mulai minder bergaul dengan teman-temannya. Apalagi dari sisik kulitnya itu keluar lendir, dan sering dikerumuni lalat. “Ketika saya masih duduk di kelas dua SD, penyakit ini sempat kering dan sembuh. Namun pada saat saya makan telur, penyakit ini kembali kambuh, dan akhirnya membuat saya berhenti sekolah,” sedihnya.

Diceritakan, ibunya Sumarni, atau biasa disapa Inaq Faesal, tak henti membawanya berobat kemana-mana. Namun hingga kini tak juga kunjung sembuh. “Ke Puskesmas, ke dokter saya sering dibawa sama ibu. Apalagi ke dukun, hampir semua dukun terkenal saya datangi. Namun hingga saat ini belum juga sembuh,” keluhnya.

Sementara Kepala Dusun Tutuk, H. Mutawalli mengatakan bahwa Hamdi merupakan anak yang tergolong tidak mampu. Sehingga pihak keluarganya tidak bisa mengobati anaknya ke fasilitas medis yang lebih baik seperti ke RSU. “Orang tuanya yang hanya buruh tani. Mereka sudah tidak tahu, mau mencari uang kemana lagi. Biaya berobat mahal, dia hanya mampu ke dukun saja,” jelasnya.

Dikatakan, Hamdi dahulu pernah sembuh. Namun tak lama kemudian ada tingkah laku aneh yang terjadi pada Hamdi, dimana dia memakan ikan mentah yang diambil dari rumah masyarakat. Tak hanya itu, Hamdi juga sering memakan kulit penyakitnya yang terkelupas, sehingga membuat orang menjadi jijik.

Hanya saja lanjut Kades, penyakit yang diderita bocah 11 tahun ini tidak menular. Sehingga masyarakat setempat tidak merasa cemas. ”Kalau penyakit ini menular, pasti keluarga terdekatnya yang paling dulu terkena. Jadi masyarakat tidak merasa takut,” ujar Kades.

Melihat penyakit yang diderita Hamdi saat ini, Kades hanya bisa berharap kepada pihak pemerintah, agar membantu Hamdi, agar penyakitnya bisa terobati. “Jika melihat Hamdi, anak seusia dia ini biasanya lagi senang-senangnya bermain. Namun karena penyakit yang dideritanya, membuat dia minder dan terpaksa harus berhenti sekolah kartena malu,” pungkasnya. (cr-wan)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid