Penderita HIV/AIDS di NTB Terus Bertambah

Ilustrasi HIV
Ilustrasi

MATARAM – Peringatan Hari HIV/AIDS Sedunia di Provinsi NTB yang jatuh setiap tanggal 1 Desember, akan dilaksanakan pada hari Minggu mendatang (10/12).

Yang patut dicermati, jumlah  penderita HIV/AIDS  di NTB terus bertambah setiap tahunnya. Setiap tahun bertambah ratusan orang penderita HIV/ADIS.Berdasarkan data terakhir yang dimiliki Komisi  Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi NTB, pada tahun 2015 lalu, Komisi Penanggulangan AIDS  (KPA) Provinsi NTB menemukan  1.083 orang eridentifikasi HIV/AIDS. Jumlah tersebut bertambah menjadi 1.235 orang pada tahun 2016. Tahun  ini sudah bertambah menjadi 1.448 orang.

BACA JUGA :  Mataram Tertinggi Kasus HIV/AIDS di NTB

Ketua KPA Provinsi NTB, Soeharmanto  mengatakan,  penyebab utama penderita HIV/AIDS di NTB masih didominasi karena gonta-ganti pasangan atau pergaulan bebas. Jika tahun 2015 faktor gonta-ganti pasangan sebanyak 728 orang, kemudian 2016 833 orang, tahun 2017 ini bertambah menjadi 989 orang atau 68 persen.

Gonta-ganti pasangan ini termasuk karena berhubungan seks dengan Pekerja Seks Komersil (PSK). Hal itu disebabkan, PSK yang disewa sudah terkena penyakit mematikan itu dan saat berhubungan tidak menggunakan alat pengaman.

Berhubungan seks dengan PSK haruslah berhati-hati, mengingat saat ini saja sudah teridentifikasi 81 PSK di NTB positif terkena HIV/AIDS. Angka tersebut meningkat dibandingkan tahun 2016 lalu yang hanya 75 PSK. “Masalahnya kan, seringkali pria yang biasa jadi pelanggan ingin selalu mencoba wajah-wajah baru. Bagaimana jika wajah baru itu menderita HIV/AIDS, itu masalahnya,” kata Soeharmanto Selasa kemarin (5/12).

Selain karena gonta-ganti pasangan, penderita HIV/AIDS disebabkan juga oleh homoseksual atau penyuka sesama jenis. Masyarakat NTB yang homo seksual cukup banyak tersebar di berbagai Kabupaten/Kota. Jika tahun 2015 hanya 102 orang, tahun 2016 130 orang, maka pada tahun 2017 ini bertambah menjadi 167 orang penderita HIV/AIDS karena homoseksual.

Penderita HIV/AIDS ini dari berbagai kalangan. Untuk perempuan yang berprofesi sebagai Ibu Rumah Tangga (IRT) terus meningkat dan saat ini sudah mencapai 265 orang dari tahun lalu 224 orang. Seorang IRT biasanya mendapatkan penyakit mematikan tersebut dari suaminya yang sering jajan sembarangan di luar rumah. “Kalau dari jenis kelamin, sebenarnya yang paling banyak itu laki-laki. Karena kan mereka yang suka jajan di luar, jumlahnya 877 orang. Kalau perempuan sih hanya 671 orang. Masalahnya, seringkali laki-laki yang terkena penyakit melakukan hubungan dengan istrinya tanpa alat pengaman, jadinya istri juga terkena,” terang Soeharmanto.

BACA JUGA :  BPJS Permudah Layanan Kesehatan Bagi Pemudik

Hal yang patut menjadi perhatian juga, kalangan pelajar dan mahasiswa yang terkena HIV/AIDS jumlahnya terus bertambah. Jumlahnya saat ini yang sudah diketahui mencapai 46 orang dari 41 orang pada tahun lalu. Jumlah tersebut dipastikan akan bertambah karena sangat sedikit pelajar dan mahasiswa yang pernah mengikuti tes.

Lalu PNS/honorer yang menderita HIV/AIDS sebanyak 63 orang. Terdiri dari penderita HIV 28 orang dan AIDS 35 orang. “Jumlahnya memang bertambah, saya tidak bisa bayangkan kalau kita lakukan tes seperti BNN. Maksud saya semua PNS kita tes, pasti akan banyak kita temukan,” ungkapnya.

Menurut Soeharmanto, kesadaran dari kalangan PNS untuk tes sangat rendah. Meskipun begitu, saat ini sudah tercatat 63 orang terkena HIV/AIDS. “Andaikan saja makanya semua tes, tapi sampai sekarang juga kan gak ada surat edaran pimpinan untuk harus tes. Imbauan secara lsian sih sudah sering disampaikan,” katanya.

Untuk sebaran di kabupaten/kota, penderita HIV/AIDS tertinggi berada di Kota Mataram sebanyak 503 orang. Jumlah tersebut bertambah dibandingkan tahun 2016 lalu yang hanya 463 orang. “Kita sudah kerja sama dengan Pol-PP, nanti kalau ada penggerebekan biar langsung kita tes saja. Kasian merekanya kalau tidak tahu statusnya,” kata Soeharmanto.

Selanjutnya di Lombok Timur juga bertambah dari 196 orang tahun lalu menjadi 244 orang tahun ini. Kemudian Lombok Barat 215 orang, Lombok Tengah 186 orang, Sumbawa Barat 58 orang, Sumbawa 62 orang, Lombok Utara 35 orang, Bima 70 orang, Kota Bima 42 orang, Dompu 15 orang dan orang luar daerah yang ada di NTB terdeteksi 18 orang. (zwr)