Pendaki Rinjani Luar Negeri Meningkat

Gunung Rinjani
BUNGA EDELWIS: Pendaki Gunung Rinjani asal luar negeri meningkat sejak pendakian dibuka 1 April lalu. Bunga edelwis merupakan salah satu bunga yang bisa ditemukan pendaki di Gunung Rinjani. (SIGIT SETYO LELONO/RADAR LOMBOK)

MATARAMPendakian Gunung Rinjani telah dibuka sejak tanggal 1 April lalu setelah ditutup sejak 1 Januari hingga 31 Maret 2018. Hingga saat ini, mayoritas pendaki Rinjani berasal dari luar negeri.

Hal ini diungkapkan Kepala Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR), Sudiyono, ribuan orang telah mengunjungi kawasan TNGR. “Untuk yang mendaki Rinjani, jumlah pendaki manca negara lebih banyak dibandingkan pendaki lokal atau nusantara,” terangnya Sudiyono kepada Radar Lombok via WhatsApp, Rabu kemarin (11/4).

Berdasarkan data terbaru yang dimiliki TNGR, jumlah pendaki yang terdata selama 10 hari sejak jalur pendakian dibuka sebanyak 2.079 orang. Terdiri dari wisatawan manca negara (wisman) 1.347 orang dan wisatawan nusantara (wisnu) 732 orang. Data yang tidak jauh berbeda ditunjukkan untuk pengunjung kawasan TNGR secara umum. Jumlah pengunjung TNGR secara keseluruhan hingga saat ini sebanyak 3.686 orang, terdiri dari 1.477 orglang wisman dan 2.209 orang wisnu. “Setiap tahun, pengunjung wisman ke TNGR meningkat,” ucapnya.

Sejak tanggal 1 April, lanjutnya, hanya Trek Organizer berizin yang menyediakan jasa wisata alam pada pendaki. “Caranya dengan membuat aturan setiap kali melakukan registrasi, para TO harus menunjukkan kartu IUPJWA pada petugas,” jelasnya.

Balai TNGR sendiri telah memberikan pelatihan kepada 120 orang porter pada bulan Maret lalu. Pelatihan tersebut untuk bisa menjadikan mereka sebagai porter plus. Kemampuan yang dimiliki, di antaranya bisa memasak, memijit, penanganan keadaan darurat dan melayani tamu dengan prima.

Saat ini, telah ada juga188 pemandu gunung bersertifikat dari Badan Nasional Setifikasi Profesi. Mereka menyediakan jasa pemanduan (guiding) ke gunung Rinjani. “Pelatihan porter plus itu, untuk meningkatkan pelayanan dan mereka mampu menangani cedera pada pendaki. Bisa juga melakukan penanganan kondisi darurat (P3K dan SAR, red),” paparnya.

Menurut Sudiyono, keberadaan porter plus sangat penting. Apalagi setiap tahun selalu saja ada pendaki yang meninggal dunia. Belum lagi kasus-kasus kecelakaan pengunjung, tentu saja hal itu tidak baik untuk citra TNGR. Tahun 2017 lalu, jumlah kecelakaan meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Termasuk jumlah korban meninggal dunia. “Memang terjadi peningkatan kasus kecelakaan dari 11 kasus di 2016 menjadi 55 kasus di tahun 2017. Bahkan jumlah korban meninggal meningkat dari 2 orang tahun 2016 menjadi 3 orang di 2017,” ungkapnya.

Dalam rangka mengantisipasi kecelakaan itu juga, TNGR melakukan penertiban Trekking Organizer (TO). Sehingga hanya TO berizin yang dapat menyediakan jasa wisata pendakian di TNGR. Mereka telah dilatih dan juga memiliki sertifikat resmi karena lukus uji kompetensi. Selain itu, Balai TNGR juga membangun kerja sama dengan Edelweiss Medical Help Center. Dengan begitu, apabila ada pengunjung mengalami kecelakaan, telah ada orang-orang profesional yang memberikan penanganan. Balai TNGR juga akan lebih tegas memberlakukan Standar Operational Prosedur (SOP) pendakian. “Makanya kita akan berikan edukasi dan penjagaan di beberapa titik konsentrasi pengunjung. Itu nanti melibatkan aparat keamanan dan mitra. Sedangkan di beberapa titik yang rawan kecelakaan, kita pasang sign board dan relling pengaman,” terangnya. (zwr)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Suka
  • Terhibur
  • Sedih
  • Marah
  • Bosan
  • Takut