Pendaki Rinjani Didominasi Wisatawan Asing

PENDAKIAN RINJANI : Pendaki gunung Rinjani jarang orang Indonesia, mayoritas orang asing pasca bencana gempa bumi di Pulau Lombok. (azwar zamhuri/radarlombok.co.id)

MATARAM—Gunung Rinjani telah ditetapkan sebagai Geopark Dunia. Namanya sudah populer seantero dunia. Hal itu juga terbukti dengan banyaknya pendaki Rinjani dari mancanegara.

Kepala Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR), Dedi Asriady menyampaikan, jumlah pendaki Rinjani hingga bulan Desember sudah mencapai 15.026 orang. “Mayoritas pendaki dari mancanegara sebanyak 11.893 orang,” terangnya kepada Radar Lombok, Selasa (10/12/2019).

Untuk pendaki nusantara atau masyarakat NTB dan daerah lainnya, hingga saat ini hanya 3.133 orang. Jumlah tersebut turun drastis pasca bencana gempa bumi tahun lalu.

Lebih lanjut disampaikan Dedi, jalur Senaru menjadi favorit pengunjung asing. Berdasarkan data TNGR, ada 10.733 orang asing yang ke Rinjani melalui Senaru. Sementara pengunjung lokal hanya 325 orang. “Total pendaki dari jalur Senaru itu 11.058 orang, paling banyak jalur itu,” kata Dedi.

Jalur Sembalun yang biasanya menjadi favorit, baru digunakan oleh 2.338 orang saja. Terdiri dari pengunjung asing 713 orang dan pengunjung lokal 1.625 orang.

Berikutnya jalur Timbanuh, hanya ada 1.243 orang. Jalur tersebut juga lebih diminati pendaki nusantara. Orang asing dari jalur tersebut hanya 307 orang. Sedangkan pengunjung lokal mencapai 936 orang.

Jalur Aikberik menjadi yang paling sedikit peminatnya. Jumlah pendaki hanya ada 443 orang. Terdiri dari pendaki asing 182 orang dan pendaki lokal atau nusantara 261 orang. “Tahun ini sepertinya cuaca agak anomali di seluruh Indonesia,” ujar Dedi.

Untuk akhir tahun hingga tanggal 31 Maret, biasanya pendakian Rinjani ditutup. Hal itu disebabkan cuaca ekstrim yang bisa membahayakan pendaki. Namun TNGR di bawah komando Dedi Asriady, belum memastikan pendakian akan ditutup seperti tahun-tahun sebelumnya. “Kalau untuk penutupan akhir tahun sampai Maret, sangat tergantung data iklim/cuaca di puncak Rinjani,” jelasnya.

Untuk diketahui, pascabencana gempa, pendakian Rinjani dibuka hanya sampai Bukit Plawangan saja. Pendaki dilarang keras melanjutkan perjalanan ke puncak Rinjani maupun danau Segara Anak. Persoalannya, beberapa pendaki tetap nekat. Mereka tidak menghiraukan larangan tersebut. Terbukti, masih saja ada pendaki yang sampai puncak Rinjani maupun danau Segara Anak.

Terkait adanya pelanggaran tersebut, TNGR belum mengambil sikap tegas. Namun pihaknya sudah mengantongi identitas pendaki nakal tersebut. “Terkait pelanggaran, tetap kami data dan akan jadi evaluasi untuk izin yang sudah diberikan. Datanya sebagian sudah ada,” kata Dedi.(zwr)