Pencoblosan Selesai, Masalah Pikades Mulai Muncul

BLOKIR: Tim paslon di Desa Ranggagata Kecamatan Praya Barat Daya saat memblokir salah satu jalan akses keluar masuk masyarakat, Kamis (1/9). (ISTIMEWA/RADAR LOMBOK)

PRAYA – Proses pemilihan kepala desa serentak di 15 desa di Lombok Tengah sudah hampir berakhir. Bahkan panitia pilkades sudah menggelar rapat pleno untuk menentukan nama calon pemenang. Seiring itu, muncul permasalahan baru, mulai dari protes tim atau calon yang kalah hingga adanya penutupan jalan yang dilakukan oleh tim paslon.

Di Desa Selong Belanak Kecamatan Praya Barat misalnya, pilkades yang sudah berlangsung diduga telah terjadi kecurangan yang terstruktur, sistematis dan masif (TSM). Hal ini dilontarkan salah satu tim pemenangan calon Kepala Desa nomor urut 2 Lalu Sayuti, Gafur. Ia mengungkap adanya beberapa persoalan yang janggal. Salah satunya adanya dugaan anak di bawah umur yang ikut serta memberikan hak suara atau memilih. Padahal di dalam aturan itu tidak diperbolehkan. “Makanya patut kami duga ada permainan, karena kami menemukan adanya anak di bawah umur yang masih duduk di bangku SMP akan tetapi masuk dalam daftar pemilih tetap (DPT). Jadi kok bisa anak masih SMP bisa masuk dalam DPT dan memiliki kartu tanda penduduk (KTP). Padahal masih di bawah umur,” sesal Gafur, Kamis (1/8).

Dia menduga, ini sudah direncanakan dari awal dengan terstruktur dan sistematis. Beberapa kejanggalan lain juga ditemukan saat proses pencoblosan berlangsung. Seperti pada salah satu TPS, tepatnya di TPS 7 ditemukan pemilih di bawah umur dan masih duduk di bangku SMP sekitar lima orang dan umurnya dinaikkan di KTP. “Kami juga curiga ini banyak terjadi di TPS lain. Karena di TPS 13 ada 9 orang pemilih di bawah umur akan tetapi 8 orang bisa disetop dan satu orang sudah memilih. Persoalan yang mengganjal lainnya juga terjadi di salah satu lembar daftar DPT tidak dituliskan NIK dan tempat tanggal lahir dan ini terjadi di TPS 6 di Dusun Rujak Praye. Bahkan model pemilihannya juga tidak dipanggil nama, langsung masuk mencoblos,” terangnya.

Ia mencurigai di TPS 6 ini ada permainan, karena dengan sistem tidak sebut nama maka bisa saja semuanya memilih walaupun nama yang ada di DPT tidak ada ditempat, tapi digantikan orang lain. Mengingat, di TPS 6 merupakan basis dari pemenang, yakni calon nomor urut 1 Kadir Jaelani. “Jumlah DPT di TPS 6 ini 306. Kami curiga disini ada pemilih bebas dari luar, karena masyarakat yang ada di sana banyak ke luar negeri,” terangnya.

Baca Juga :  Pembangunan Tahap Awal Dam Mujur Ditarget 2024

Pihaknya juga menduga saat pencoblosan di TPS 6 ada penggelembungan suara. Karena kuat dugaan nama orang yang sudah meninggal dan di luar negri juga dipakai untuk memilih. Hal ini terjadi karena sistem pencoblosannya yang tidak memanggil nama dengan pengeras suara. Mereka curiga orang yang udah meninggal dunia bisa memilih. “Kami sempat memberikan protes akan tetapi tidak digubris oleh KPPS bahwa itu sudah biasa dilakukan tanpa panggil nama. Padahal seharusnya prosesnya pemilihannya dilakukan dengan panggil nama supaya masyarakat bisa mengetahui siapa yang memilih. Bahkan  di TPS 6 juga ada dua suara yang dicabut secara sembarang, karena pemilih tidak masuk dalam DPT dan pencabutan yang dilakukan tanpa berita acara,” terangnya.

Di mana msyarakat sudah menggunakan hak pilih dan memasukkan surat suara kedalam kotak suara, akan tetapi karena tidak masuk dalam DPT maka surat suara tersebut dicabut secara sembarang. Sehingga pihaknya tidak tau suara siapa yang dikeluarkan dan baginya hal ini bisa merugikan salah satu calon. “Kami juga menduga adanya kecurangan saat melakukan cukit data yang dilakukan dengan cara tidak menyambangi warga kerumah dan sampai saat ini calon nomor urut 2 belum diberikan C1. Padahal seharusnya C1 diberikan setelah penghitungan suara di masing-masing TPS. Makanya kami berharap kotak suara yang ada di TPS 5 dan TPS 6 dapat dibuka supaya bisa dipadukan DPT dan pemilih tambahan,” terangnya.

Sementara itu, Ketua panitia pemilihan Kepala Desa Selong Belanak, Kecamatan Praya Barat Lalu Junaidi, yang dikonfirmasi terkait persoalan tersebut belum memberikan jawaban.

Di satu sisi, di Desa Ranggagata Kecamatan Praya Barat Daya tepatnya di Dusun Montong dilakukan penutupan jalan askes yang menuju ke Yayasan Pondok Pesantren Nurul Ilmi pimpinan TGH Adnan Patompo dengan mengunakan bambu, batu dan kayu yang diduga dilakukan masyakarat pendukung calon nomor urut 2 H Muhtar Arif yang kalah pada pilkades serentak.  Dari informasi yang dihimpun bahwa H Muhtar Arif yang menghibahkan tanah tersebut sekitar tahun 2005 tanpa surat hibahnya. Karena tindakan dari simpatisan yang menang mengejek atau berbuat berlebihan membuat dirinya bersama pendukung menjadi tersinggung, sehingga menutup jalan ini karena tanah ini miliknya.

Baca Juga :  Dugaan Penyelewengan Dana Desa Gemel Dilaporkan ke Jaksa

Pihak kepolisian dan kecamatan sempat mengimbau agar situasi pilkades ini berjalan aman dan mengimbau agar jalan yang ditutup untuk dibuka demi kepentingan orang banyak. Apalagi akses jalan ini merupakan akses kendaraan yang menuju ponpes maupun dan keluar masuk masyarakat di sawah. Karena H Muhtar Arif bersama simpatisan pendukung tidak mengizinkan untuk dibuka, maka petugas akan menyelesaikan permasalahan ini agar jalan tersbut bisa dibuka. “Sementara lagi dilakukan upaya-upaya humanis untuk menyelesaikan permasalahan ini (Ranggagata) dan untuk yang lain insyaallah aman tidak ada potensi konflik. Pleno juga sudah selesai di 15 desa dan persiapan menunggu pergeseran kotak menuju DPMD,” ungkap Kabag Ops Polres Lombok Tengah AKP Hery Indrayanto saat dihubungi Radar Lombok.

Sementara itu, Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Lombok Tengah, Zaenal Mustakim menyatakan untuk pilkades sudah berjalan dengan aman dan lancar. Antusias masyarakat untuk datang memilih juga dianggap lumayan tinggi hingga lebih dari 80 persen, meski ada beberapa hal yang harus dilakukan evaluasi. “Kendala yang kita temukan ada pemilih yang kelolosan yang belum memenuhi syarat tapi masuk DPT tapi tidak terlalu banyak. Termasuk adanya kendala hujan juga kemarin, tapi semua sudah bisa diselesaikan dan saat ini pleno sudah tuntas dilakukan dan antusiasme masyarakat untuk datang memilih sangat tinggi karena sudah di atas 80 persen,” tegasnya. (met)

Komentar Anda