Penarikan Retribusi Masih Picu Penumpukan di Trawangan

Dende Dewi (DERY HARJAN/RADAR LOMBOK)

TANJUNG – Penarikan retribusi masuk kawasan wisata di Gili Trawangan, Desa Gili Indah, Kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok Utara (KLU) masih kerap memicu penumpukan hingga saat ini.

Tentunya, wisatawan mancanegara yang menyeberang dari Bali ke Gili menggunakan kapal cepat itu terganggu. Diketahui sebelumnya, Pemda KLU sudah bekerja sama dengan Asosiasi Kapal Cepat Indonesia (Akacindo) untuk penarikan retribusi. Di mana retribusi dibayar sepaket dengan tiket.

Namun nyatanya masih saja terjadi penumpukan. Ini karena kesepakatan itu tidak berjalan baik. “Teman-teman kapal cepat karena mereka berbisnis jadi ketika melakukan penjualan tiket mereka tidak berani memaksakan tamu untuk sekalian membayar retribusi. Sebab ada tamu yang memang tidak bisa menerima penjelasan dari operator untuk membayar retribusi sebelum tiba di Gili Trawangan,” jelas Kepala Dinas Pariwisata Dende Dewi, Kamis (20/6).

Baca Juga :  Soal One Gate System, Ketua DPRD KLU Minta Pemda Konsisten dengan Kebijakannya

Pada akhirnya wisatawan yang tidak mau membayar retribusi saat membeli tiket kapal cepat, memilih membayar retribusi begitu tiba di dermaga Gili Trawangan. Akibatnya wisatawan menumpuk saat membayar retribusi di dekat area dermaga.

“Itu menjadi evaluasi bagi kita. Dalam waktu dekat kami akan bertemu kembali dengan Akacindo, Syahbandar dan lainnya karena sebentar lagi masuk musim ramai wisatawan,” ucapnya.

Jika kerja sama dengan Aacindo belum maksimal kata Dende, maka pihaknya kemungkinan akan memilih opsi lain. Mantan Kepala Dinas Penanaman Modal Pelayanan Terpadu Satu Pintu dan Tenaga Kerja (DPMPTSP-Naker) ini mengaku tidak ingin ketika high season tiba, kemudian terjadi penumpukan lebih parah yang mengakibatkan tidak nyamannya wisatawan. “Kita akan upayakan cari cara yang terbaik nantinya makanya kita harus segera bertemu dengan para pihak ini,” tandasnya.

Baca Juga :  Rencana One Gate System, Pemkab KLU Diingatkan Hati-hati

Untuk diketahui, penarikan retribusi masuk kawasan wisata ini sudah diatur di dalam Perda KLU Nomor 9 Tahun 2023 tentang Pajak dan Retribusi Daerah. Untuk wisatawan asing ditarik Rp 20.000 per orang. Kemudian wisatawan domestik dewasa Rp 10.000. Retribusi masuk kawasan wisata ini adalah salah satu sumber pendapatan asli daerah (PAD). Tahun ini targetnya Rp 5 miliar. (der)

Komentar Anda