Penampungan Material PT LI Praya Ditutup Paksa

Penampungan Material PT LI Ditutup Paksa
DITUTUP: Para sopir yang berjumlah 25 orang saat menutup paksa lokasi penampungan bahan material milik PT Lombok Infrastruktur, Sabtu lalu (19/8). (M HAERUDDIN/RADAR LOMBOK)

PRAYA-Puluhan sopir truk lokal asal Lombok Tengah menutup paksa lokasi penampungan material PT Lombok Infrastruktur (LI) di samping pertokoan Renteng Kelurahan Leneng Kecamatan Praya, Sabtu lalu (19/8).

Para sopir yang berjumlah sekitar 25 orang tersebut, merasa kecewa karena tidak difungsikan oleh perusahaan dalam mengangkut material menuju kawasan Kuta Kecamatan Pujut. Di mana material-material tersebut diperuntukan untuk penimbunan pembangunan sirkuit di kawasan ITDC. “Kami selaku sopir truk di sini merasa kecewa karena kami tidak dilibatkan oleh perusahaan dan lebih mengedepankan kepentingan sopir dari luar Lombok Tengah,” ungkap Ramli perwakilan sopir asal Serengat Kelurahan Prapen.

Ramli menambahkan, para sopir hanya bisa melihat mobil teronton milik perusahaan yang berlalu lalang. Padahal, menurut Ramli, sopir lokal juga akan bisa bekerja lebih maksimal. ‘’Bahan material diangkut dari Pringgabaya Lombok Timur oleh mobil teronton perusahaan untuk dibawa ke Renteng. Di Renteng juga diangkut oleh teronton perusahaan, mana keadilan bagi kami sopir lokal,”ujarnya.

Terlebih, kecewanya para sopir karena diduga untuk memuluskan masuknya bahan material tersebut ke kawasan Kuta, pihak perusahaan sendiri membayar uang keamanan kepada preman sebanyak Rp 50 ribu per teronton. ‘’Kami hanya minta diakomodir, kami tidak kenal siapa orang yang meminta uang tersebut karena itu bukan sopir dan kalau tetap beroperasi tanpa mengakomodir sopir lokal, maka kami akan melakukan penghadangan,” ancamnya.

Sopir lainya Muhammad Amin menimpali, apa yang dilakukan oleh pihak perusahaan dengan menggunakan mobil teronton perusahaan, maka sama saja mematikan pendapatan mereka yang bekerja sebagai pengangkut material. Di satu sisi, perusahaan juga tidak perlu membayar uang pengaman kepada oknum yang mengatasnamakan keamanan. “Teronton ini mobil perusahaan dan ada informasi setiap satu rit pengangkutan ke lokasi proyek, teronton tersebut membayar biyaya masuk sebesar Rp 50 ribu ke beberapa oknum. Kalau dengan menggunakan truk lokal maka tidak akan terjadi hal-hal seperti itu,” ujarnya.

Para sopir truk tersebut, tidak ada satupun yang memberikan mobil teronton keluar membawa material. Mereka bahkan akan mengancam akan tetap melakukan penutupan hingga tuntunan mereka untuk diakomodir dipenuhi oleh perusahaan. “Kami tidak mau tau bahwa lokasi ini harus ditutup karena kami hanya menerima buruknya saja. Kami hanya mendapat debu dari material tersebut sementara sopir luar menerima hasil,” gumamnya.

Sekitar pukul 14.30 wita, salah seorang perwakilan PT LI, Marla Ningtias selaku pelaksana teknis menemui para sopir untuk bermusyawarah. Musyawarah tersebut sempat menegang, pasalnya antara pihak sopir dan perusahaan tidak menemukan titik temu. “Saya bisa akomodir asalkan satu rit itu kami bayar Rp 250 ribu,”ujar Marla Ningtias.

Namun, oleh para sopir menganggap harga yang ditawarkan oleh perusahaan hanya merusak harga. Menurut para sopir, jika satu rit itu biasanya mereka dibayar seharga Rp 400 ribu. “Kalau cuma Rp 250 ribu kami dapat apa, belum uang bensin maupun yang lainya. Jadi jangan perusahaan merusak harga yang sudah ditentukan oleh para sopir lokal,”ujar salah seorang sopir.

Tidak ada titik temu dalam musyawarah tersebut, sehingga antara pihak perushaan dan sopir sepakat untuk tidak melakukan aktivitas pengangkutan di lokasi tersebut. Para sopir mengancam, jika tetap beroperasi maka akan dihadang dan tidak akan sampai Kuta. ‘’Kita sudah sepakat, jika tidak ada aktivitas sebelum kesepakatan antara pihak sopir dan perusahaan,” tandasnya. (cr-met)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid