Pemprov Diminta Lebih Perhatikan Petani Tembakau

PETANI TEMBAKAU: Para petani tembakau di Kabupaten Lombok Timur dengan senyum sumringah saat panen tembakau. Hanya saja, serapan tembakau oleh perusahaan makin berkurang, sehingga menjadi keluhan petani. (DOK/RADAR LOMBOK)

MATARAM – Serapan tembakau virginia oleh perusahaan rokok makin berkurang di NTB. Pasalnya jumlah perusahaan yang membeli tembakau virginia semakin sedikit.  Berikut juga kebijakan pemerintah pusat menaikkan cukai hasil tembakau (CHT) setiap tahunnya.

Serta karena tidak adanya subsidi yang diberikan pada petani tembakau Disinyalir sebagai penyebab utama rendahnya serapan tembakau NTB. “Menurunnya tingkat penyerapan tembakau bukan saja terjadi di tingkat petani tembakau virginia Lombok, tetapi penyerapan tembakau secara nasional. Hal ini sebagai penyebab utamanya adalah penyakit PMK (Peraturan Menteri Keuangan) yang intinya peraturannya menaikkan cukai hasil tembakau (CHT) setiap tahun,” ungkap Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) NTB, Sahmimudin, Jumat (3/6).

Dikatakan Sahmimudin, imbas pemerintah tiap tahun menaikkan CHT mengakibatkan industri hasil tembakau atau rokok (IHT) menjadi turun. Bahkan kenaikan CHT sebanyak 12,5 persen pada tahun 2022 membuat petani tembakau di NTB merasa keberatan. Karena berdampak pada berkurangnya serapan tembakau petani.

Ia mencontohkan, setiap CHT yang dinaikkan sebanyak 1 persen berdampak pada penurunan pembelian rokok bercukai mencapai Rp 2,6 miliar batang. Jika ditotalkan kenaikan CHT dalam tiga tahun terakhir mencapai 35,2 persen. Dengan demikian total penyerapan tembakau petani hanya 915,2 juta ton. Sementara target penerimaan CHT tahun 2022 mencapai Rp 200 triliun. Belum termasuk pajak rokok yang diterima pemerintah daerah dan pajak lainnya yang terkait tembakau dan rokok.  “Tahun 2020 CHT dinaikkan 23 persen dan HJE (harga jual eceran) mencapai 35 persen, langsung berdampak pada penyerapan tembakau MTT (musim tanam tembakau). Tahun 2021 lagi-lagi CHT dinaikkan 12,7 persen padahal dunia termasuk Indonesia terkena pandemi Covid 19. Untuk tahun 2022 kenaikkan CHT mencapai 12,5 persen,” sebutnya.

Padahal jika dibandingkan dengan nilai kebutuhan dan produksi tembakau Virginia FC nasional. Tidak akan sampai terjadi kelebihan produksi tembakau virginia. Sebab rata-rata produksi tembakau virginia  Indonesia hanya sekitar 50 ribu hingga 55 ton per tahun. Sementara kebutuhan tembakau virginia nasional dalam situasi pertumbuhan ekonomi 6-7 persen per tahun mencapai 90 ribu sampai 120 ribu ton per tahun.

BACA JUGA :  Petani Tembakau Terancam Gagal Panen

Mengingat tembakau virginia FC asal NTB merupakan salah satu pemasok tembakau nasional terbanyak. Tetapi malah terkesan seolah-olah tembakau virginia Lombok tidak bisa semua terserap. Adapun salah satu penyebabnya adalah lemahnya perhatian pemerintah daerah maupun gubernur dalam menangani soal tembakau NTB. Dalam hal ini pemerintah tidak hadir dalam membantu petani tembakau. Misalnya melalui subsidi tembakau bagi petani. “Bagaimana pun juga hitam putihnya tembakau di NTB adalah tanggung jawab Gubernur NTB selaku pengemban amanah Perda NTB Nomor 4 tahun 2006 dan Pergub NTB Nomor 2 tahun 2007. Sayangnya DPRD NTB juga melempem dalam meminta pertanggungjawaban pada Gubernur,” kritiknya.

Di Indonesia produksi tembakau seperti rajangan, Virginia dan FC serta Barly dan lainnya. Berkisar antara 175 ribu sampai 250 ribu ton per tahun. Sementara kebutuhan tembakau Indonesia mencapai 300 rb hingga 350 ton per tahun. Dengan demikian artinya tembakau dalam negeri tidak bisa terserap. Justru Indonesia masih impor dari negara China dan Amerika.

Menurutnya ada dua alasan mengapa industri Indonesia banyak mengimpor tembakau. Pertama memang jenis tembakau tersebut belum bisa diproduksi di Indonesia. Kedua tembakau impor lebih murah dan berkualitas dibandingkan dengan tembakau dalam negeri. “Mengapa tembakau impor bisa lebih murah dan lebih berkualitas dibandingkan tembakau Indonesia. Karena negara yang mengekspor tembakau tersebut disubsidi oleh pemerintahnya,” tandasnya.

Sebelumnya Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Provinsi NTB, H Achmad Ripai mengatakan, target serapan tembakau di NTB pada musim tanam tahun 2022 mencapai 17.833,17 ton. Jumlah tersebut merupakan akumulasi dari 23 perusahaan mitra tani yang secara resmi ingin membeli tembakau petani.

BACA JUGA :  Ribuan Hektare Tanaman Tembakau Rusak

Namun demikian, dibanding dua tahun sebelumnya. Target pembelian tembakau jenis Virginia pada tahun 2022 jauh lebih sedikit. Tahun 2021 target pembelian tembakau Virginia sebanyak Rp 25,328.60 ton. Dengan realisasi pembelian sebanyak 20,487.16 ton. Dan lebih rendah dari realisasi pembelian tembakau tahun 2020 yang mencapai 21,279.49 ton. “Sebagian besar tembako virginia yang terserap di NTB dibeli oleh 23 perusahaan yang terdata. Tahun ini kita targetkan rencana pembelian  tembakau oleh perusahaan sebanyak 17.8333,17 ton,” sebutnya.

Dikatakan Ripai, menurunnya target dan realisasi pembelian tembakau Virginia tiap tahunnya. Akibat berkurangnya jumlah perusahaan mitra petani. Adapun jumlah perusahaan mitra tahun 2022 sebanyak 32 unit berkurang menjadi 23 unit pada tahun 2022.

Hanya saja dari 23 perusahaan mitra yang terdata, baru  ada sekitar 18 perusahaan yang telah menetapkan kuota pembelian tembakau Virginia pada musim tanam tembakau tahun ini. Sementara 5 perusahaan lainnya belum menyerahkan target pembelian mereka masih menunggu kepastian pasar dari user di Surabaya.

Untuk diketahui pembelian tembakau Virginia terbanyak berasal dari perusahaan CV Aliansi One Indonesia (AOI) mencapai 7.500 ton. Kemudian PT Djarum dan PT Sadhana Arif Nusa berencana masing masing 4.000 ton  dan 2.116 ribu ton. Perusahaan lainnya UD Nyoto Permadi sebanyak 702 ton. “Kemudian CV Bintang Emas, CV Budi Jaya Sentosa dan PT Sata Indonesia sama sama membeli tembakau hingga 500 ton. Ada juga perusahaan  Andalan Tani Nelayan 504 ton serta beberapa perusahaan lainnya ingin membeli di bawah 500 ton,” bebernya. (cr-rat)