Pemprov Diminta Intervensi Harga Tembakau

TEMBAKAU : Salah seorang petani tembakau di Jerowaru, Lombok Timur saat melakukan perawatan tanamannya, menjelang memasuki masa panen, beberapa waktu lalu. (IRWAN JANWARI/RADAR LOMBOK )

MATARAM – Ancaman hasil produksi petani tidak akan terbeli, dinilai bukan masalah serius. Pasalnya, di Provinsi NTB, ternyata banyak perusahaan yang selama ini membeli tembakau tanpa terdata oleh pemerintah.

Hal itu diungkapkan oleh anggota komisi II DPRD Provinsi NTB, H Khairul Warisin. Mantan Wakil Bupati Lombok Timur ini, cukup memahami masalah tembakau. Apalagi Warisin juga masuk sebagai anggota Panitia khusus (Pansus) Perubahan atas peraturan daerah (Perda) nomor 4 tahun 2006 tentang Usaha Budidaya dan Kemitraan Perkebunan Tembakau Virginia di NTB.
Menurut Warisin, selama ini seluruh tembakau virginia di NTB selalu terjual habis. “Gak perlu khawatir. Banyak pengusaha siap beli,” ungkap politisi Partai Gerindra ini kepada Radar Lombok, Senin (10/5).

Banyaknya pengusaha yang membeli tembakau, terungkap saat Pansus DPRD memanggil para pengusaha tembakau. “Saat kita panggil pengusaha tembakau, dari catatan kita 13 perusahaan, ternyata 25 orang yang datang ke dewan. Karena ternyata ada 25 perusahaan yang selama ini beli tembakau di NTB,” ungkapnya.

Oleh karena itu, terkait adanya beberapa perusahaan yang menurunkan kuota pembelian tembakau, masyarakat diimbau tidak perlu khawatir. “Sekali lagi saya katakan, gak perlu khawatir ada gaknya pengusaha beli tembakau, saya pastikan ada. Banyak juga pengusaha yang beli sembunyi-sembunyi,” beber Warisin.

Persoalan sebenarnya, terletak pada harga tembakau petani. Disinilah sering terjadi permainan. Apalagi ketika perusahaan-perusahaan ternama mengurangi jumlah pembelian tembakau.
Warisin mencontohkan ketika perusahaan seperti Djarum atau Bentoel mengurangi kuota pembelian. Perusahaan lainnya sudah banyak mengantri. “Yang terpenting sebenarnya harga pembelian tembakau. Jangan sampai petani rugi, petani harus untung. Sering ada permainan disini,” katanya.

Harga tembakau sebenarnya mahal. Seringnya petani menjual murah karena kondisi yang memaksa. “Di Jawa harga tembakau mahal, karena memang seharusnya mahal harga tembakau. Padahal masih di pengusaha perantara. Masalahnya memang mafia yang ada, itu yang jangan sampai terjadi,” ujarnya.

Baca Juga :  Kemenag Batasi Suara Toa Saat Ramadan

Tanaman tembakau memang tidak seperti jagung,  kedelai, beras dan lainnya yang bisa disimpan. Apabila tembakau lama disimpan, maka akan rusak. “Disini jangan sampai ada permainan, petani terpaksa jual tembakau harga murah. Ini sering juga dimanfaatkan pengusaha. Makanya harus turun tangan pemerintah,” ucapnya.

Ditegaskan Warisin, Pemprov NTB tidak boleh berlepas tangan. Apalagi menyerahkan masalah tembakau ke mekanisme pasar. “Harus ada intervensi pemerintah. Karena ternyata kan perusahaan atau pengepul yang beli tembakau tidak sedikit, sampai 25 perusahaan. Jadi kita berharap perusahaan ini bisa beli tembakau dengan harga sesuai, jangan beli murah. Peran pemerintah sangat penting,” ujar Warisin.

Di sini pula pentingnya perda tentang tembakau virginia direvisi. Sehingga kedepan, diharapkan bisa menjadi solusi atas berbagai masalah yang kerap terjadi. Terutama terkait dengan harga tembakau. “Makanya penting Perda agar jelas pengusaha ini mana kantornya, gudangnya dimana, beli dimana. Biar gak mainkan harga. Tapi revisi perda masih dalam proses,” katanya.

Selain itu, lanjut Warisin, untuk meningkatkan harga tembakau, pemerintah daerah juga penting berperan di tingkat pusat. Terutama terkait kebijakan impor tembakau. Fakta selama ini, negara cukup banyak mengimpor tembakau. Padahal, kualitas tembakau lokal seperti NTB sudah kelas dunia. “Pemprov dalam hal ini Gubernur harus melakukan evaluasi, dan bertanya ke Kementerian Perdagangan terkait impor tembakau. Seharusnya habiskan dulu produk lokal, baru impor,” saran Warisin.

Sebelumnya, Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Provinsi NTB, Muhammad Riadi menyampaikan, pembelian tembakau virginia oleh perusahaan di NTB pada 2021 mulai berkurang dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Terlebih munculnya aturan terkait dengan kebijakan dari pemerintah terkait cukai tembakau. Hal tersebut memengaruhi perusahaan untuk bisa menyerap lebih banyak tembakau petani. Dengan demikian, pembelian produksi tembakau petani di tahun 2021 ini bakal merosot.
Untuk penyerapan tembakau dari perusahaan, sudah memastikan akan menyerap tembakau petani mitra mereka. Justru dari perusahaan memberikan peringatan kepada pemerintah agar tidak meloby untuk menyerap tembakau petani-petani swadaya.

Baca Juga :  Spekulan Kamar Hotel Diduga Bermain Jelang MotoGP

Selain itu, para pengusaha tembakau juga sudah punya target pembelian, harga rokok, produksi, karena mereka sudah punya hitung-hitungan, sama dengan perusahaan lain. Kalau tidak ada order dari perusahaan rokok, mereka juga tidak mau membeli tembakau produksi petani.

Berdasarakan data Distanbun Provinsi NTB renacana tanam, produksi, dan pembelian tembakau virginia oleh perusahaan mitra 2021, dari 21 perusahaan yang terdata hanya 16 perusahaan yang sudah menyerap. Realiasai pembelian pada tahun 2020 itu sebanyak 21.279,49 ton, kemudian target luas tanam sebesar 8.246,20 hektar dan produksi 15.836,53 ton. Penyerapan tembakau dari petani binaan sebanyak 3.405 orang dan 2.517 unit ovent.

Saat ini hanya ada beberapa perusahaan saja yang menyerap tembakau para petani, yakni hanya 16 perusahaan dari 21 perusahaan yang ada. Total rencana penyerapannya mencapai 17.328,75 ton dengan petani binaan sebanyak 1.060 ton dan petani swadaya 150 ton. Masing-masing perusahaan sudah memiliki kuota tersendiri berapa banyak tembakau petani yang diserap, baik petani binaan maupun petani swadaya.

Menurut Riadi, petani swadaya yang tidak banyak diserap tembakaunya dapat dialihkan dengan menanam komoditi lain yang juga mempunyai nilai ekonomis, tidak hanya pada tembakau saja. Karena, tidak semua petani bermitra dengan perusahaan. “Kita sarankan jagung untuk ditanam. Jagung itu harganya bagus secara ekonomi tidak merugikan petani. Kalau petani menanam tembakau tanpa mitra, justru mereka yang rugi, kasian petani,” ujarnya. (zwr)