Pemprov Didesak Batasi Telur Ayam Luar Daerah

PETERNAK UNGGAS : Peternak petelur ayam lokal tergusur dan banyak yang bangkrut, karena banjirnya pasokan telur asal Jawa dan Bali. ( LUKMAN HAKIM/RADAR LOMBOK )

MATARAM – Banjirnya pasokan telur ayam ras dari Bali dan Jawa membuat peternak ayam petelur lokal NTB menjerit. Pasalnya, di tengah harga pakan melambung tinggi, justru harga jual telur anjlok.

Kondisi tersebut semakin diperparah dengan melimpahnya pasokan telur asal Jawa dan Bali membuat peternak rakyat ayam petelur lokal NTB semakin tak berdaya melawan serbuan telur luar daerah tersebut. Hal tersebut menyebabkan tak sedikit peternak ayam telur lokal gulung tikar. Pasalnya, telur ayam hasil produksi tidak bisa laku terjual, karena kalah saing dengan harga jual telur asal Jawa dan Bali yang semakin banjir di NTB.

Bahkan, para peternak ayam petelur di Lombok Timur beberap hari sebelumnya melakukan sweeping dan menghadang truk pengangkut telur yang hendak menjual ke wilayah Lombok Timur dan Pulau Sumbawa untuk kembali balik. Buntut dari banjir pasokan telur dari Bali dan Jawa yang membuat semakin banyaknya peternak lokal bangkrut, pada Selasa (21/9) Perhimpunan Peternak Unggas Rakyat (PPUR) NTB menggelar pertemuan.

Puluhan peternak unggas lokal NTB bersepakat untuk meminta Pemprov NTB membuat aturan jelas terkait perlindungan kepada peternak ayam petelur lokal di NTB. “Kondisi sekarang ini dengan banjirnya kedatangan telur asal Bali dan Jawa membuat banyak peternak rakyat kecil-kecil tutup, karena kalah saing. Sementara disatu sisi harga pakan melambung tinggi,” kata Ketua Perhimpunan Peternak Unggas Rakyat NTB, Christopher Brillianto, Selasa (21/9).

Christopher menyampaikan, jika dibiarkan bebas telur ayam dari luar masuk ke NTB tanpa ada aturan pembatasan kuota, maka akan mematikan peternak rakyat kecil. Karena, pastinya peternak lokal akan sulit bersaing dengan pemodal besar dari Jawa dan Bali. Selain itu, keadaan harga pakan sekarang ini sangat tinggi, dan berdampak juga pada harga jual telur peternak lokal yang tidak bisa bersaing dengan telur asal Bali dan Jawa. “Kita ingin Pemprov NTB membuat ketentuan dengan membatasi kuota telur asal Bali dan Jawa masuk ke NTB. Kalau tidak dibatasi kuota, maka akan mematikan peternak lokal,” kata Christopher.

BACA JUGA :  Pengusaha Tolak Kebijakan Perusahaan Rugi Dikenakan Pajak

Terlebih lagi, sekarang ini Pemprov NTB lagi gencar-gencarnya memperbanyak ternak unggas lokal untuk bisa swasembada produksi telur untuk kebutuhan dalam daerah. Tetap disaat bersamaan, ketika peternak rakyat sudah mulai bangkit, justru telur masuk ke NTB asal Jawa dan Bali semakin membludak dan ujungnya mematikan peternak lokal NTB. “Kita ingin ada kuota yang ditentukan pemerintah daerah untuk membatasi masuknya telur luar. Dan ini juga untuk memotivasi peternak lokal untuk berproduksi menuju swasembada telur ayam,” harapnya.

Sebagaimana diketahui, telur ayam ras membanjiri pasar di NTB. Akibatnya, harga jual telur anjlok dan telur asal Bali dan Jawa dijual jauh dibawah harga pasaran. Hal tersebut membuat peternak lokal menjerit, karena tidak mampu bersaing dengan harga jual telur asal Jawa dan Bali. Bahkan, tak sedikit peternak lokal telur produksinya rusak dan busuk, karena tidak bisa bersaing dengan harga pasaran. Belum lagi, harga pakan yang semakin mahal, membuat peternak ayam sulit melawan pengusaha besar telur asal Jawa dan Bali.

Sebelumnya, para peternak ayam petelur di Lombok Timur melakukan aksi protes dengan menghadang truk pengangkut telur dari Bali dan Jawa di jalan raya Desa Paokmotong Kecamatan Masbagik Kamis (16/9). Aksi tersebut sebagai bentuk protes karena harga telur yang anjlok belakangan ini.

Dalam aksinya itu puluhan peternak yang tergabung dalam Asosiasi Ayam Petelur Berayan Al-Kautsar Lotim menghadang truk- truk ekspedisi yang mengangkut telur ketika melintas di jalan tersebut. Terutama truk ekspedisi yang berasal dari luar Lombok seperti Bali dan Jawa. Satu persatu truk ekspedisi yang melintas diperiksa. Jika ditemukan ada yang membawa telur langsung diminta untuk putar balik. ”Ini merupakan bentuk kekesalan kami karena telur yang kami produksi tidak laku di pasaran. Itu sebabkan karena telur dari Jawa dan Bali dijual dengan harga lebih rendah sehingga kita kalah saing,” ungkap ketua Asosiasi Ayam Petelur Berayan Lotim, Lalu Sapoan.

BACA JUGA :  Produksi Melimpah, Harga Cabai Anjlok

Dikatakan, rendahnya harga telur disebabkan karena banyaknya telur yang didatangkan dari Jawa dan Bali. Hal itu lantas berdampak terhadap penjualan telur yang mereka produksi yang tidak laku dan dibeli dengan harga murah di pasaran. ‘’Makanya kami gelar aksi sweeping ini kami lakukan sebagai bentuk protes karena banjirnya telur yang datang ke Lotim. Bahkan harga per tray (30 butir) mencapai Rp 31.000,” cetus dia.

Harga itu menyebabkan peternak merugi. Terlebih biaya yang dikeluarkan jauh lebih tinggi. ”Kondisi itu mengharuskan (sweeping),” terang dia.

Dia meminta keluhan peternak ini supaya segera ditanggapi oleh pihak terkait. ‘’Kita berharap khusunya ke Pemkab Lotim untuk segera membuat regulasi terkait perlindungan peternak lokal, agar tidak mengalami kerugian,” tutupnya.

Sementara itu, Sekretaris Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Provinsi NTB, Rahmadin mengatakan, tingginya harga pakan membuat peternak lokal kesulitan bersaing dengan pengusaha telur asal Jawa dan Bali. Karena itu, solusi terbaiknya adalah pemerintah bisa memberikan subsidi pembelian pakan kepada peternak ayam petelur.

Pemerintah pusat melalui Kementerian Pergadagang sudah memiliki anggaran untuk pengadaan jagung sebagai pakan ternak. Hanya saja ketersedian jagungnya dari Kementerian Pertanian belum memastikan ada atau tidak. “Subdisi pakan jagung sangat perlu untuk peternak kita, karena terkait dengan kegiatan terkait program swasembada telur,” kata Rahmadin.

Rencana subsidi pembelian pakan, Kementerian Perdagangan telah menyiapkan anggaran sebesar Rp 45 miliar untuk pengadaan 30 ribu ton jagung dengan harga Rp 1.500 per kilogram kepada peternak di sejumlah sentra produksi. Ada subsidi jagung itu bakal mempercepat rencana stabilisasi ketimpangan harga

yang terjadi antara tingginya biaya produksi dan merosotnya harga telur dari

peternak. “Subsidi pakan jagung ini usulan untuk menopang peternak telur, ayam dan unggas,” tuturnya. (luk/dev)