Pemkot Mataram Tolak Kebijakan Impor Beras, Ini Alasannya

Pemkot Mataram Tolak Kebijakan Impor Beras
TOLAK : Pemkot Mataram menolak beras impor masuk ke wilayahnya. (Sudir/Radar Lombok)

MATARAM – Pemerintah Kota Mataram menolak rencana impor beras oleh pemerintah pusat melalui Bulog. Pemkot menolak beras impor ini masuk ke Mataram. Sebab Mataram masih surplus beras.

Kepala Dinas Perdagangan Kota Mataram Lalu Alwan Basri mengatakan, dari hasil koordinasi dengan Dinas Pertanian, setiap panen padi di Mataram menghasilkan sekitar 200 ton gabah kering. “Kita menolak beras impor ini masuk ke Kota Mataram,” katanya kepada Radar Lombok kemarin.

Selama ini kebutuhan masyarakat juga sudah terpenuhi. Ia mengatakan rencana impor ini membuat warga resah. Bahkan harga gabah kalangan petani sempat anjok, sementara untuk kebutuhan masyarakat masih terpenuhi.” Harga beras masih stabil. Kita harapkan tidak ada beras impor yang masuk ke Kota Mataram,” ucapnya.

BACA JUGA :  Terlibat Togel, Pedagang Sate Dibekuk

Untuk harga kata Alwan, masih stabil mengacu pada harga di pasar-pasar tradisional. Pemkot katanya, terus melakukan kontrol harga sehingga tidak ada lonjakan. Pemkot juga sudah melakukan koordinasi dengan Bulog NTB untuk menggelar operasi pasar.

Alwan meminta pedagang maupun distributor tidak terpengaruh oleh adanya rencana impor beras. “ Stok kita masih banyak, bahkan sudah masuk masa panen. Jadi kebutuhan masyarakat Kota Mataram bisa terpenuhi,” ucapnya.

Sementara itu Kepala Dinas Pertanian Kota Mataram H. Mutawali  juga menentang keras adanya rencana  pemerintah pusat yang akan melakukan impor beras. Dari hasil panen petani hampir 200 ton di Kota Mataram. Apalagi Bulog menyerap hasil pertanian mereka. “Jangan ada impor beras. Kalau jadi impor otomatis harga gabah petani anjlok. Bahkan  saat ini  harga per 100 Kg gabah kering sudah mencapai Rp 450 ribu. Sudah turun dari Rp 550 ribu sejak awal Januari,” katanya.

Ia berharap hasil panen raya saat ini betul-betul diserap pemerintah sehingga tidak perlu melakukan impor. “ Kita juga menyayangkan selama ini Bulog tidak pernah utuh dalam menyerap hasil panen petani. Kalaupun dibeli Bulog, harganya sudah anjlok,” katanya. (dir)