Pemkot Mataram Prihatin Giant Extra Gegutu Tutup

Berdampak Pengangguran Bertambah

Pemkot Mataram Prihatin Giant Extra Gegutu Tutup

MATARAM – Wakil Wali Kota Mataram H Mohan Roliskana mengaku prihatin dengan kebijakan manajemen Giant Extra Gegutu yang akan menutup gerai toko mereka secara resmi per 1 April mendatang. Pasalnya, penutupan gerai supermarket grup nasional tersebut akan berdampak pada pemutusan hubungan kerja (PHK) dan ujungnya adalah meningkatnya jumlah penangguran.

“Tentunya ini keprihatinan kita juga terhadap kebijakan manajemen Giant Extra Gegutu menutup salah satu gerainya,” kata H Mohan, Kamis kemarin (14/3).

BACA JUGA: Kantong Plastik Berbayar Berlaku, Peluang untuk UMKM

Mohan tak menampik, jika Giant Extra Gegutu menjadi salah satu ritel modern yang merupakan kebanggaan bagi Kota Mataram. Mengingat banyaknya terserap tenaga kerja dari dibukanya ritel modern cukup besar, bahkan belum lama beroperasional namun kini justru tutup.

Disamping itu juga dampaknya secara sosial, karena memang harus merumahkan banyak tenaga kerja dengan ditutupnya Giant Extra Gegutu. Ini menjadi pekerjaan rumah Pemerintah Kota (Pemkot) Mataram, bagaimana menyikapi itu nanti.

Menurut Mohan, terlebih lagi saat ini kondisi ekonomi NTB, khususnya Kota Mataram belum pulih pascagempa bumi beberapa waktu lalu di tahun 2018. Begitu juga sampai saat ini investasi pun belum stabil dan kembali optimal pascagempa bumi akhir Juli 2018 lalu. Ditambah lagi kemudian adanya penutupan Giant Extra Gegutu akan menjadi perosalan bagi pemerintahan kota Mataram.

“Penutupan Gian Extra Gegutu ini juga akan menimbulkan persoalan lagi bagi kita dan nanti akan coba kaji lagi,” terangnya.

Sementara itu, banyaknya toko ritel modern yang tutup tak lepas dari perubahan pola bisnis yang terjadi saat ini. Perubahan dari banyaknya bisnis online membuat sejumlah ritel modern gulung tikar, kendati dari pemerintah kota sendiri juga membatasi adanya ritel modern. Mengingat dengan adanya ritel modern dapat mematikkan para pelaku usaha kecil yang ada, meskipun menyediaka lowongan pekerjaan yang cukup banyak. 

BACA JUGA: Gelaran MotoGP 2021 Menarik Minat Investor Baru

Sebelumnya  Anggota Komisi II DPRD NTB TGH Hazmi Hamzar mengatakan tutupnya sejumlah ritel modern ini, karena kalah saing dengan penjual online. Kendati salah satu perubahan berkembangnya penjualan barang secara online atau e-commerce. Hal ini menjadi tantangan bagi para peritel konvensional. Selain e-commerce, persaingan juga datang dari kian pesatnya akselerasi mini market. Bahkan mini market juga sudah masuk ke desa-desa.

“Ini tidak berarti ekonomi daerah itu tidak baik, tetapi karena kalah dengan online ini. Sekarang mau apa, semua serba online,” katanya. (cr-dev)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Suka
  • Terhibur
  • Sedih
  • Marah
  • Bosan
  • Takut