Pemkot Harus Berani Hapus Iklan Rokok

MATARAM – Rencana kenaikan harga rokok dianggap akan kurang efektif menyelamatkan anak-anak dari bahaya rokok jika tidak dibarengi dengan kebijakan penghapusan iklan rokok dan larangan rokok secara eceran oleh  Pemerintah Kota Mataram.

Antara pemerintah pusat dan daerah harus seiring sejalan. Ketika pemerintah pusat berencana menaikkan harga rokok, maka daerah juga, termasuk Kota Mataram, harus bisa membuat dan menerapkan kebijakan penghapusan iklan rokok.

Hal ini disampaikan oleh Direktur Gagas Foundation Azhar Zaini kemarin. Ia mengatakan kebijakan pemerintah pusat patut diaperesiasi. Karena ini sudah menunjukkan salah satu bentuk perhatian pemerintah untuk mencegah anak-anak untuk tidak merokok. Karena dengan harga yang mahal anak usia sekolah pasti akan mikir dua kali membeli rokok. “ Ini kebijakan yang bagus dan patut kita apresiasi,” tegasnya.

Tetapi kebijakan menaikkan harga rokok tidak akan bisa berjalan jika tidak dibarengi dengan kebijakan yang dibuat oleh pemerintah daerah. Contohnya di Kota Mataram. Pemkot harus juga berani menyetop pemasangan reklame atau iklan rokok. Karena  bagaimanapun juga iklan-iklan yang terpasang ini memberikan pengaruh kepada anak-anak untuk mencoba rokok.

Selain itu, harus juga ada pengawasan bagaimana caranya agara tidak boleh lagi rokok itu dijual ketengan atau dijual perbiji.” Kalau masih ada dijual perbiji harga Rp 5000, anak-anak masih berani untuk membeli,” ungkapnya.

Agar anak-anak Kota Mataram benar-benar bebas dari rokok, kebijakan kenaikan harga rokok harus diikuti dengan kebijakan dari Pemerintah Kota Mataram agar kebijakan ini bisa efektif dan bisa mendukung Kota Mataram menjadi Kota Layak Anak (KLA) tahun 2018 nanti.”Ini haru jadi perhatian Pemkot kalau masih serius ingin menjadi KLA,” paparnya.

Lelaki yang akrab disapa Aank ini mengatakan, dalam waktu dekat Gagas akan memberikan pendampingan kepada 30 sekolah yang ada Mataram. Pendampingan tersebut akan dilakukan untuk menciptakan kawasan sekolah yang bebas dari rokok.

SMA yang dipilih karena sekolah memang dilihat rentan menjadi tempat bebasnya peredaran rokok. Ini terlihat dari banyaknya warung-warung kecil yang berjualan di dekat sekolah. Karena menurutnya KTR disekolah itu berjarak antara 50 sampai 100 meter.

Pendampingan ini akan dimulai dengan sosialisasi kepada 30 kepala sekolah yang rencananya akan dilakukan tanggal 23 Agustus besok. Pihaknya memulai dari kepala sekolah. Agar kepala sekolah juga bisa menjadi contoh baik. Sebab dari pantauan di lapangan justru dalam lingkungan sekolah antara guru dan siswa justru ada yang saling meminta rokok. Bahkan guru juga meminta siswa untuk membelikan rokok.” Ini kan contoh yang tidak baik dalam lingkungan sekolah,” ungkapnya.(ami)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid