Pemda Sebaiknya Fokus Perbaiki Infrastruktur di Destinasi Wisata

DESTINASI SEMBALUN
DESTINASI : Keindahan alam destinasi wisata Sembalun menjadi favorit wisatawan lokal NTB di masa pandemi Covid-19. (lukman hakim / radar lombok)

MATARAM – Perbaikan sejumlah destinasi pariwisata menjadi daya tarik untuk memancing wisatawan datang kembali. Pasalnya, hal tersebut dapat menggerakan sektor pariwisata, terlebih destinasi tersebut memiliki potensi lebih melegakan dari segi ekonomis.

“Contoh Sembalun bisa menjadi lokasi percontohan bagi daerah lain. Pemda harus investasi di sana, meski uang terbatas bukan berarti kita tidak bisa apa-apa di masa pandemi,” kata Ketua Asosiasi Travel Agent Indonesian (Astindo) Awanadhi Aswinabawa, Jumat (13/8).

Sembalun sendiri menjadi salah satu destinasi favorit yang ramai di kunjungi wisatawan lokal di tengah masa pandemi Covid-19, khususnya saat akhir pekan. Dengannya aktivitas usaha di sekitar jadi lebih hidup. Tak hanya itu beberapa destinasi lainnya, seperti yang ada di Sekotong Lombok Barat juga menjadi daya tarik untuk menarik kembali wisatawan datang lagi.

“Tinggal pemerintah berinvestasi melalui upaya memperbaiki infrastruktur, fasilitas umum, hingga beragam sarana dan prasana sekitarnya. Tentu ini membuat wisatawan kembali berkunjung,” terangnya.

Untuk itu, kontinyuitas ini perlu dikejar dan menjadi umpan mendorong minat kunjungan lebih banyak wisatawan datang. Tak hanya lokal, tapi juga domestik. Bukan tidak mungkin membuka kesempatan hingga terdengar di telinga wisatawan mancanegara.

“Yang lokal saja sering ke sana hanya sekali, kenapa? Karena infrastruktur kurang. Coba difokuskan untuk memberikan ruang kenyamanan maksimal sehingga wisatawan,” ucapnya.

Dikatakan, sekarang seluruh kondisi pariwisata yang dianggap terpuruk di masa pandemi pun tak bisa dipukul rata. Jangan sampai seluruh anggaran terbatas hanya dihabiskan untuk kerja keras memulihkan tempat wisata lain yang tengah sekarat, sehingga tak termanfaatkan dengan efektif.

“Memang kedengarannya kejam, tapi prioritas ini harus dilakukan supaya pariwisata maju,” tuturnya.

Apalagi pemerintah gencar menggalakan green zone, tetapi hal tersebut tidak sepenuhnya dapat menjadi acuan memulihkan pariwisata. Sebab ini hanya sebuah lisensi bahwa suatu lokasi layak dikunjungi dari segi kesehatan. Namun, jika green zone tak dibarengi penyediaan sarana prasarana hingga infrastruktur yang memadai, justru akan menjadi percuma.

“Saya pikir upaya tidak akan memakan waktu dan biaya terlalu banyak kalau memang benar-benar diperbaiki semuanya,” jelasnya. (dev)