Pemda Mulai Angkut Air dengan Tongkang ke Gili Meno

ANGKUT: Petugas mengangkut tandong berisi air (IST FOR RADAR LOMBOK)

TANJUNG – Dinas Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (PUPRKP) Kabupaten Lombok Utara (KLU) mulai mengangkut air bersih ke Gili Meno menggunakan kapal tongkang, Rabu (3/7).

Hal ini imbas dari tak adanya penyaluran air bersih beberapa pekan terakhir dari PT Berkat Air Laut (BAL), karena tersandung hukum dalam perizinan pengeboran air tanah di Gili. Sementara PT Tiara Citra Nirwana (TCN) yang mau berinvestasi mengolah air laut menjadi air tawar ditolak sejumlah tokoh di Gili Meno.

Untuk itu, solusi jangka pendeknya yaitu membantu warga dengan menyalurkan air dari daratan menggunakan tongkang, gratis. Sebelumnya warga membeli sendiri ke daratan.

Kabid Cipta Karya pada Dinas PUPRKP KLU Rangga Wijaya mengatakan pihaknya mengisi air ke tandon kapasitas 1.000 liter dari pipa 2 inci milik Perumda Air Minum Amerta Dayan Gunung yang ada di Dusun Muara Putat, Desa Pemenang Barat, Kecamatan Pemenang. Total empat tandon atau 4.000 liter yang bisa diangkut tongkang untuk sekali jalan.

Baca Juga :  Progres Pembangunan Kantor Bupati 53,51 Persen

Pihaknya menggunakan 2 tongkang. Masing-masing mengangkut 2 kali sehari. Total 16.000 liter air sehari. Dua tongkang tersebut digunakan untuk mengangkut air ke 5 lokasi yang ada di Gili Meno.

“Yakni 1 kita dropping di dekat dermaga, 1 sebelah timur dekat PT BAL, sisanya di sebelah utara yaitu di Blue Marlin, Cafe Sasak dan satunya saya lupa namanya,” ujar Rangga.

Air tersebut kata Rangga diprioritaskan bagi masyarakat. Namun jika bisa mencakup pelaku usaha tidak jadi persoalan. Sebab harapannya memang itu, air bersih untuk semua yang tinggal di Gili Meno. Hanya saja itu diatur agar bisa semua dapat.  “Kalau misalkan ada yang mau lebih sudah disediakan air oleh Perumda Air Minum Amerta Dayan Gunung di Muara Putat. Silakan bawa kapal sendiri,” ujarnya.

Jika berbicara kebutuhan air di Gili Meno kata Rangga bisa mencapai 45.000 liter per harinya. Sebab warga Gili Meno sekitar seribuan. “Namun kita coba 16.000 liter dulu per hari. Nanti kalau cepat habis kita evaluasi. Mungkin bisa kita tambah dari dua kali pengangkutan bisa menjadi tiga kali per kapal,” ucapnya.

Baca Juga :  TGH Muchsin Pastikan Sudah Punya Pendamping

Kalau tetap tidak cukup juga, maka pola pembagian harus diatur sebaik mungkin agar air yang terbatas bisa mencukupi. Sebab pihaknya juga tidak bisa mengangkut air dalam jumlah puluhan liter setiap hari karena keterbatasan anggaran. Anggaran yang tersedia hanya Rp 500 juta. Itu mulai pengadaan aksesoris seperti tandon, pipa, sewa tongkang, hingga operasional selama kurang lebih 51 hari ke depan.

Selain anggaran yang terbatas kondisi cuaca juga kendala. Saat gelombang tinggi ataupun surut, pihaknya kesusahan untuk menepi memindahkan air dari tandon yang ada di tongkang ke tandon yang sudah disiapkan di Gili Meno.

“Seperti pelaksanaan hari pertama ini masih banyak aksesoris yang kurang seperti pipa. Orang mau pasang pipa atau selang harus berenang tadi dari tengah laut ombak besar. Ndak bisa nyandar ke tepi,” pungkasnya. (der)

Komentar Anda