Pembeli Berkurang, Lebih Ramai Pasar Swasta

TIDUR : Akibat sepinya pembeli, pedagang di Pasar Induk Mandalika ini memilih tidur kemarin.

Pada jam sibuk antara 08.00 Wita sampai 10.00 Wita, seharusnya para pedagang sibuk melayani pembeli. Kemarin, pemandangannya lain, pada jam sibuk justru pembeli berkurang drastis.


ZULFAHMI-MATARAM


Selasa (30/5) sekitar pukul 10.00 Wita Dinas Perdagangan melakukan pemantauan harga kebutuhan pokok di pasar ini. Kepala Dinas, Lalu Alwan Basri berbincang dengan sejumlah pedagang. Ia menanyakan kondisi harga beberapa kebutuhan pokok saat masuknya bulan Ramadan.

Dari pengakuan para pedagang diketahui bahwa harga Sembako seperti beras, gula, minyak, cabai dan kebutuhan dapur lainnya masih stabil termasuk harga daging dan telur. Tapi yang dikeluhkan pedagang adalah sepinya pembeli. “ Kalau harga masih normal, tetapi pembeli yang yang tidak ada,” kata Suhartini, salah seorang pedagang. 

Biasanya kalau masuk bulan puasa hasil dagangan mereka meningkat dan pembeli semakin banyak. Tetapi kali ini seperti terbalik. Justru pembeli semakin sepi. Padahal harga daging yang dijual masih normal untuk daging sapi kualitas bagus dijual dengan harga Rp 120 ribu perkilo . Kadang iapun harus banting harga juga dari harga standar yang sudah berlakukan dari pada barang yang ia jual tidak laku.”Daripada barang saya busuk tidak laku,  kadang saya jual murah,” ungkapnya.

Pasar Mandalika yang disebut pasar induk ini seharusnya menjadi pusat pembeli, karena semua kebutuhan ada di pasar ini. Tetapi ternyata tidak demikian. Malah para pedagang yang dulunya berjualan ditempat ini memilih untuk meninggalkan lapak mereka dan berjualan di tempat lain.

Pada pedagang memilih berjualan di pasar milik swasta milik PT. Pade angen alasannya karena lokasi pasarnya yang lebih strategis dan ramai pembeli.” Pasar ini bukan pasar induk, tapi pasar tindoq (tidur_red),” ungkap Hj. Rohil, pedagang lainnya.

Dinamakan pasar “tindoq” karena seharusnya pada jam sibuk seperti ini pedagang sibuk melayani pembeli. Tetapi ternyata tidak seperti itu.

Ia menilai alasan sepinya pembeli karena pembeli lebih memilih berbelanja dipasar milik swasta yang jaraknya hanya beberapa meter saja dari pasar milik pemerintah. Lokasi pasar yang ada di pinggir jalan dan mudah diakses serta lengkap fasilitas dan barang yang dijual dianggap menjadi satu alasan kenapa pedagang banyak yang pindah, termasuk para pembeli juga banyak yang berbelanja dipasar milik swasta itu.” Pedagang rela sewa lebih mahal, yang penting dapat tempat di pasar swasta,” tuturnya.

Sementara lokasi pasar milik pemerintah ini dianggap terlalu dalam sehingga pembeli mungkin enggan masuk sampai ke dalam. Iapun sebagai pedagang berharap pemerintah bisa mengambil sikap dari keberadaan pasar swasta Pade Angen ditutup oleh pemerintah agara keberadaan pasar induk Mandalika ini bisa ramai lagi seperti pasar yang lama.(*)