Pelaku Pariwisata Minta Pelaku Kriminal pada Wisatawan Ditindak Tegas

illustrasi

MATARAM – Pelaku pariwisata mengutuk keras atas tindakan kriminal yang dialami wisatawan asing atau mancanegara di wilayah Lombok Timur. Pasalnya, kejadian kriminal kepada wisatawan dapat merusak semua upaya yang dilakukan selama ini dalam rangka membangkitkan kembali Pariwisata NTB yang selama ini dikenal indah, nyaman dan aman.

“Kami Astindo NTB, mengutuk tindakan pembegalan wisatawan, apalagi turis asing,” ungkap Ketua DPD Asosiasi Travel Agent Indonesia (Astindo) NTB, Sahlan M Saleh, kepada Radar Lombok, Jumat (22/7).

Terlebih tindakan kriminal terhadap wisatawan tidak hanya terjadi sekali dua kali, namun sudah sering  terjadi di sejumlah destinasi di NTB. Dikhawatirkan akan berdampak pada angka kunjungan wisata yang masuk ke NTB. Karena wisatawan akan berpikir ulang untuk datang lagi ke Pulau Lombok, akibat ketidakamanan yang mereka dapatkan saat berwisata di Lombok.

Baca Juga :  Pulang Bukber, Pasutri Dibegal

“Tindakan kriminal bagi wisatawan bukan perkara enteng, tapi menjadi alasan wisatawan untuk mempertimbangkan datang ke Lombok, karena tidak aman,” ucapnya.

Sahlan mencontohkan sudah banyak tindakan kriminal yang dialami wisatawan selama ini. Namun semua itu tidak dijadikan pembelajaran dan memberi efek jera. Misalnya kejadian pembegalan terhadap turis Belanda di Bangket Parak pada tahun 2019 silam. Belum lagi pembegalan yang pernah dialami dua wisatawan Jerman di Lombok Tengah. Terbaru adalah yang dialami wisatawan asal Inggris di Jerowaru, Lombok Timur pada Kamis (21/7).

“Artinya belum ada langkah masif yang bisa menghentikan kejadian tindakan kriminal pada wisatawan ini. Pemerintah gagal memberikan keamanan bagi wisatawan,” ucapnya.

Lebih lanjut dikatakan Sahlan, agar kejadian seperti ini tidak terulang kembali, sebab bisa menggerus kunjungan wisatawan datang ke NTB, Pemerintah melalui Dinas Pariwisata NTB harus lebih sering untuk melakukan penyuluhan sadar wisata kepada masyarakat, terutama tentang pentingnya keamanan dan kenyamanan bagi Wisatawan yang datang berkunjung ke daerah mereka.

Baca Juga :  Blokir Jalan Serangin Lotim-Lingkok Bunut Loteng Belum Dibuka

“Selain harga tiket yang mahal, keamanan yang kurang bisa menjadi salah satu alasan  wisatawan berpikir ulang ke Lombok,” tandasnya Terpisah Ketua  DPD Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA) NTB, Dewantoro Umbu Joka mengatakan tidak hanya kasus criminal, tingginya harga tiket pesawat yang terjadi saat ini pun berdampak pada tingkat kunjungan wisatawan. Karena sebagai 5 daerah super prioritas, mestinya NTB diberikan regulasi khusus di sektor penerbangan oleh Pemerintah Pusat.

“Waduh kejadian begal wisatawan, intinya saya berharap Kemenkraf, Departemen Perhubungan , BUMN dan airlines di Pusat ketemu bicara khusus untuk 5 super prioritas ini di support,” singkatnya. (cr-rat)