Pelaku Pariwisata Keluhkan Tingginya Tarif Pelayanan Kesehatan di Gili Tramena

Lalu Kusnawan (RATNA / RADAR LOMBOK)

TANJUNG – Aktivitas usaha pariwisata di Gili Tramena (Trawangan, Meno, Air) di Lombok Utara mulai bergairah, menyusul adanya kebijakan Pemerintah tentang pemberlakuan Visa on Arival bagi sejumlah negara yang ingin berkunjung ke Indonesia. Termasuk juga adanya libur lebaran juga mendongkrak kunjungan wisatawan ke Gili Tramena. Hanya saja, masih terdapat banyak masalah yang menjadi keluhan para pelaku pariwisata di Gili Tramena. Salah satunya tingginya biaya atau tariff untuk mengakses fasilitas kesehatan di Gili Tramena.

“Pusat pelayanan kesehatan masih menjadi kendala di Gili Tramena, karena belum memenuhi standar. Kita tidak ingin kejadian dahulu, seperti harga tarif klinik yang tidak terkontrol terulang kembali,” kata Ketua Ketua Indonesian Hotel General Manager Association (IHGMA) NTB Lalu Kusnawan, Senin (9/5).

Ia mengaku kondisi saat ini tidak hanya wisatawan lokal maupun domestik saja yang berkunjung ke Gili Tramena, tetapi juga banyak wisatawan mancanegara sudah mulai berdatangan. Bahkan rata-rata angka kunjungan mencapai 400 hingga 500 pengunjung per hari, didominasi wisman yang menggunakan fastboat dari Bali.

BACA JUGA :  Super Air Jet Mulai Terbang Layani Rute Jakarta – Lombok

Untuk itu, lanjut Kusnawan, ini harusnya menjadi kesempatan Pemerintah untuk turun tangan dalam menekan tarif akses pelayanan kesehatan di Gili Tramena. Karena sebagai destinasi wisata berskala Internasional, sudah sepatutnya Gili Tramena bisa menyediakan fasilitas kesehatan yang memadai dan berstandar.

“Kita minta kehadiran Dinas Kesehatan KLU khususnya, bagaimana bisa bekerja sama dengan klinik. Bikin MoU dengan Pemda, kita kan punya Universitas yang punya fakultas kedokteran, kenapa tidak, itukan bisa diajak kerja sama,” katanya.

Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Lombok Utara Abdul Kadir saat dikonfirmasi mengatakan sudah mengalokasikan kembali anggaran untuk membangun pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas) di Gili Trawangan. Hanya saja realisasi pembanguna fasilitas penunjang pariwisata Gili Tramena tersebut akan dilakukan tahun 2023 mendatang.

BACA JUGA :  Penjualan Rumah Komersil Mulai Meningkat

“Sebagai destinasi Internasional, Gili Tramena memang perlu memiliki fasilitas kesehatan yang representatif. Intinya tahun ini kita anggarkan agar tahun depan bisa dibangun Puskesmas,” katanya.

Sebelumnya, sambung Kadir, Puskesmas di Gili Trawangan sudah pernah dibangun, namun kemudian pembangunannya terhenti. Dikatakan saat ini pihaknya tengah mempersiapkan pengajuan kebutuhan anggaran sebesar Rp 4 miliar untuk melanjutkan sisa pembangunan Puskesmas tersebut. Saat ini pelayanan kesehatan hanya bisa diakses melalui Pustu yang ada. Namun rencananya akan dilakukan penambahan tenaga kesehatan (Nakes), demi memaksimalkan pelayanan kesehatan bagi para tamu yang datang.

“Tak banyak klinik yang beroperasi di Gili Tramena. Klinik yang beroperasi tersebut kami rangkul, agar mereka bisa membantu kita,” katanya. (cr-rat)