Pedagang Mutiara Asli Tak Terpengaruh Mutiara Palsu

MATARAM – Mutiara palsu asal Cina ternyata sudah mulai beredar di Nusa Tenggara Barat. Bahkan, mutiara palsu asal Cina tersebut banyak dijual oleh pedagang untuk oleh-oleh wisatawan yang berkunjung ke NTB. Sejumlah pedagang mutiara menjual menjadi oleh-oleh khas NTB, karena banyaknya permintaan dari wisatawan.

“Memang ada mutiara itu, tapi namanya mutiara cell (palsu). Tidak ada pengaruhnya buat kita yang jualan mutiara asli,” kata H Fahrul, salah satu pedagang mutiara di Mataram City Center (MCC) Pagesangan pada Radar Lombok, Jumat (15/11).

Menurutnya, pedagang mutiara asli di Lombok tidak dirugikan dengan adanya mutiara palsu asal Cina. Dari sisi perajin mutiara menjadi perhiasan atau oleh-oleh khas NTB memiliki pangsa pasar tersendiri. Kendati demikian, keberadaan mutiara palsu asal Cina tetap memiliki dampak dari sisi bisnis dan nama baik Lombok selama ini menjadi sentra produksi mutiara dengan kualitas terbaik.

“Sebenarnya kembali kepada konsumen. Hanya saja memang ada banyak konsumen (wisatawan) terkadang tidak bisa membedakan mutiara asli dan palsu,” terang H Fahrul.

Dijelaskannya, mutiara palsu dengan mutiara asli dapat dibedakan. Mulai dari bentuk hingga warna mutiara tersebut, sehingga, masyarakat dengan mudah memilih antara yang asli dan palsu, meski banyak juga konsumen yang tidak bisa membedakannya .

Senada, Lina salah satu karyawan toko mutiara mengaku, sejauh ini mutiara palsu asal Cina banyak dicari. Tetapi, untuk mutiara asli tidak kalah banyak peminatnya. Baginya, hal tersebut tidak berpengaruh terhadap penjualan mutiara asli, meskipun ada mutiara sintesis dijual di pasaran cukup banyak.

“Karena, kalau orang nyari mutiara asli pasti untuk dijadikan perhiasan dan koleksi. Beda sama yang palsu, kadang dijadikan kado atau dijual lagi,” katanya.

Dikatakannya, para penjual mutiara memiliki cara tersendiri untuk pemilihan mutiara asli dengan mutiara palsu. Untuk pemilihannya sendiri yang asli dengan palsu dapat dilihat dari beratnya. Kemudian, apabila dibakar semakin mengkilat dan memiliki tekstur seperti pasir bila digigit.

“Mutiara paslu ini ringan dan tidak mengkilap,” jelasnya.

Untuk diketahui, data International Trade Center menunjukkan bahwa Indonesia berada di posisi ke lima sebagai negara pengekspor mutiara dengan total transaksi 47,2 juta dollar AS. Posisi ini berhasil dikalahkan oleh Hongkong, Cina yang menempati urutan pertama sebanyak 483,2 dollar AS.

Terpisah, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Perindustrian Provinsi NTB Nuryanti mengatakan, pihaknya akan turun langsung mengecek toko-toko penjual mutiara dan pedagang dadakan yang ada. Pasalnya, hal ini tentu bisa merugikan para perajin mutiara asli di NTB. Mengingat, mutiara laut dari Lombok sendiri cukup terkenal akan kualitasnya yang bagus.

“Kami akan koordinasi dengan pihak terkait untuk memastikan kebenarannya, serta langkah-langkah strategis lainnya jika itu benar,” kata Nuryanti.

Yanti megaku pihaknya bersama Biro Ekonomi akan mengecek bersama ke sejumlah pedagang dan pemasok mutiara palsu asal Cina. Dimana dari perdagangan yang memiliki data arus barang keluar masuk ke NTB, sehingga, apakah mutiara diindikasi dari Cina tersebut masuk ke NTB dan diperjual belikan secara bebas.

Sementara itu, harga jual dari mutiara Cina terbilang tidak wajar (murah). Padahal, harga jual mutiara asli sendiri cukup tinggi, meski mutiaranya merupakan mutiara air laut. Selama ini penjual mutiara Lombok belum ada ditemukan yang palsu. Namun, jika memang ada, tentu akan merugikan bagi perajin dan NTB. Pasalnya, NTB dikenal sebagai salah satu wilayah penghasil mutiara terbaik.

“Keberadaan mutiara palsu asal Cina ini akan merugikan nama baik mutiara NTB. Kami akan turun mengecek langsung ke lapangan, agar tidak berdampak besar merugikan brand daerah,” katanya. (dev)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid