Pedagang Ketakutan, Rapid Test Massal Batal

Pasar Kebon Roek Semakin Lengang

PASAR SEPI: Pasar Kebon Roek terlihat sepi dan lengang, meskipun rencana rapid tesT yang sedianya dilaksanakan Selasa kemarin(28/7), akhirnya batal digelar. (ALI/RADAR LOMBOK)
PASAR SEPI: Pasar Kebon Roek terlihat sepi dan lengang, meskipun rencana rapid tesT yang sedianya dilaksanakan Selasa kemarin(28/7), akhirnya batal digelar. (ALI/RADAR LOMBOK)
Advertisement

MATARAM — Rencana rapid test massal di Pasar Kebon Roek, Kota Mataram urung atau batal dilaksanakan. Sedianya, rapid tes dilaksanakan oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB hari Selasa, (28/7). Namun rencana tersebut batal digelar.

Wali Kota Mataram, H Ahyar Abduh selaku Ketua Gugus Tugas Percepatan dan Penanganan Pencegahan  Covid-19 Kota Mataram, juga meminta rencana tersebut ditunda. Oleh Pemprov NTB kemudian disepakati untuk ditunda. “Karena pelaksanaannya harus sepengetahuan dan persetujuan Ketua Gugus Tugas Kota Mataram,” ujar Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota Mataram, I Nyoman Suwandiasa di Mataram, kemarin.

Disebutnya, Pemprov NTB juga belum berkoordinasi dengan gugus tugas Kota Mataram. Kemudian harusnya, rencana rapid tes dilaporkan dulu kepada Wali Kota Mataram. Pelaksanannya juga harus dengan beberapa pertimbangan. Oleh karenanya, pelaksanaannya harus menunggu keputusan ketua gugus tugas Kota Mataram.

“Perlu ada koordinasi yang lebih jelas dari Pemprov NTB. Terlebih yang akan di-rapid tes ini adalah pedagang. Penundaannya itu sampai waktu yang belum ditentukan. Karena harus menunggu persetujuan Wali Kota Mataram,” terangnya.

Terpantau di Pasar Kebon Roek. Kondisi salah satu pasar tradisional terbesar di Mataram ini lengang. Pasar jadi lebih sepi dibandingkan sehari sebelumnya. Walaupun pelaksanaan rapid tes ditunda. Pedagang sudah takut duluan dan memilih untuk tidak berdagang. Kepala Pasar Kebon Roek, Malwi mengakui kondisi ini.

Pelaksanaan rapid tes ditunda karena masih banyak pedagang yang takut. Dirinya pun langsung mengumumkan tentang penundaan tersebut. Setelah itu, banyak pedagang yang menginformasikan agar kembali membuka lapak. “Apa kita mau bilang. Pedagang tetap merasa takut. Kita umumkan penundaannya baru mereka satu persatu mulai jualan,” ungkapnya.

Biasanya, Pasar Kebon Roek sudah ramai sejak pukul 6 pagi. Karena informasi rapid tes digelar. Banyak pedagang memilih untuk tidak keluar berjualan. Walaupun setelah informasi penundaan rapid tes. Pedagang mulai datang lagi ke pasar. “Tapi hari ini lebih parah dari sebelumnya. Sekarang tinggal 50 persen saja pedagang yang datang berjualan. Ini bisa dilihat sendiri bagaimana sepinya pasar,” terangnya.

Sahuri, salah satu pedagang bumbu dapur dan sayuran di Pasar Kebon Roek mengusulkan agar rapid tes tidak digelar. Karena tidak hanya pedagang yang ketakutan. Tapi juga pembeli tidak berani belanja ke pasar.

“Kalau bisa tidak usah rapid tes. Saya jadinya kan tidak dapat jualan. Orang takut semua. Ini buktinya sampai timur sana sepi. Biasanya berdesakan pembeli yang datang ke pasar. Sekarang tidak ada orang belanja. Kita juga takut nanti dibilang Corona. Padahal kita tidak punya penyakit seperti itu. Anak dan keluarga kita diangkut semuanya nanti. Kalau bisa tidak usah aja rapid tes ini,” katanya.

Pasar yang sepi menurutnya perlu diperhatikan. Karena pengunjung juga pasti takut datang berbelanja ke pasar. “Ada memang yang masih belanja. Tapi sangat sepi sekali. Kalau saya sih menolak (rapid). Kita takut dites. Kita takut tidak corona tapi dibilang gitu (Corona). Jadi takut jadinya,” ungkap Sahuri. (gal)