Pedagang Asongan Mandalika Diberikan Pelatihan Hospitality

Berkembang Profesi Baru Sebagai Juru Foto dan Pengarah Gaya

Pedagang Asongan Mandalika Diberikan Pelatihan Hospitality
PEDAGANG ASONGAN: Bidang Kelembagaan Dispar NTB, selama dua hari (28 Februari – 1 Maret), menggelar pelatihan hospitality dan Sapta Pesona kepada para pedagang asongan di kawasan objek wisata Pantai Kuta dan Pantai Tanjung A‘an, KEK Mandalika. (SIGIT SETYO/RADAR LOMBOK)

PRAYA – Konsekuensi dari berkembangnya kepariwisataan suatu daerah, sudah pasti juga akan diikuti oleh perkembangan bidang-bidang lainnya, baik itu sektor infrastruktur, transportasi, akomodasi, jasa, dan lainnya.

Khusus jasa, sudah barang tentu banyak masyarakat setempat yang kemudian terlibat langsung, menawarkan berbagai kreasi usahanya itu kepada para wisatawan yang datang. Seperti halnya para pedagang asongan yang banyak terdapat di Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika, Lombok Tengah (Loteng).

Sebagai masyarakat biasa, para pedagang asongan yang berjualan aneka pernak-pernik kerajinan tangan itu sudah pasti rata-rata tidak memiliki pengetahuan tentang bagaimana cara menghadapi para wisatawan yang datang dari berbagai daerah, bahkan mancanegara, dengan akar budaya yang berbeda.

Akibatnya, seringkali para wisatawan yang berkunjung ke sekitar Pantai Kuta, Pantai Tanjung A’an, Bukit Meresek, dan lainnya di KEK Mandalika, mereka kemudian komplain, karena merasa terlalu didesak atau bahkan merasa liburannya menjadi terganggu.

“Tidak ada yang salah dengan para pedagang asongan yang berjualan di sekitar KEK Mandalika. Karena mereka juga berhak untuk mencari rejeki di tengah perkembangan pariwisata NTB yang kian menggeliat. Hanya saja, mungkin cara penyampaian atau atitude (sikap) kepada para wisatawan yang perlu dimiliki para pedagang asongan ini,” kata Kepala Dispar NTB, melalui Kepala Bidang Kelembagaan, B. Yanuarlita Lestari, Jumat kemarin (2/3).

Karena itu sambung Lestari, selama dua hari, 28 Februari – 1 Maret 2018, Dispar NTB melalui Bidang Kelembagaan, memberikan pelatihan Hospitality (keramahtamahan pelayanan) dan Sapta Pesona, kepada 120 pedagang asongan yang ada di sekitar objek wisata Pantai Kuta, dan Pantai Tanjung A’an, KEK Mandalika.

“Pelatihan Hospitality dan Sapta Pesona ini sekaligus sebagai rangkaian kegiatan Festival Pesona Bau Nyale 2018, yang puncaknya akan berlangsung pada tanggal 5 -6 Maret 2018 mendatang di Pantai Seger, KEK Mandalika, Lombok Tengah,” jelas Lestari.

“Untuk pelatihan Hospitality, materinya disampaikan oleh Sri Susanti, Akademisi sekaligus Dosen Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Mataram. Sedangkan materi pelatihan Sapta Pesona, yang lebih banyak bersentuhan dengan soal keindahan, kebersihan, keamanan, kenyamanan, kenangan yang baik, dan lainnya, disampaikan oleh Tika, dari Bidang Kelembagaan, Dispar NTB,” sambung Lestari.

Pelatihan hari pertama (28/2), kegiatan berlangsung secara out door di pinggiran Pantai Kuta, dan diikuti oleh 60 peserta pedagang asongan. Sedangkan hari kedua (1/3), dilaksanakan di pinggiran Pantai Tanjung A’an, juga diikuti oleh 60 pedagang asongan. “Diantara 120 peserta pelatihan tersebut, 15 orang diantaranya adalah pedagang asongan anak-anak, berusia antara 11 tahun (kelas 5 SD), hingga 14 tahun (kelas 2 SMP), yang aktif berjualan setelah pulang sekolah” papar Lestari.

Yang menarik lanjut Lestari, saat ini di kalangan para pedagang asongan sekitar KEK Mandalika itu juga berkembang profesi baru, sebagai juru foto dan pengarah gaya untuk para wisatawan. “Caranya, para pedagang asongan selain berjualan menawarkan berbagai pernak-pernik kerajinan, kaos Lombok, atau kain tenun, mereka juga menawarkan jasa memfoto wisatawan dengan Hand Phone (HP) milik wisatawan tersebut, sekaligus mengarahkan gayanya agar fotonya bagus dan menarik,” jelas Lestari.

Berapa mereka dibayar? “Ternyata untuk jasa juru foto dan pengarah gaya, yang rata-rata dilakukan oleh para pedagang asongan anak-anak ini tidak menarik upah. Seikhlasnya wisatawan memberi. Kalau diberi ya diterima, kalau pun tidak juga tidak masalah,” beber Lestari.

“Profesi sebagai juru foto dan pengarah gaya ini kalau dikembangkan tentu cukup menjanjikan, dan bisa menjadi hal baru yang dapat terus diasah. Sehingga masyarakat sekitar objek wisata juga tidak terpaku hanya pada sektor jasa perdagangan saja,” sambung Lestari seraya menyampaikan, kegiatan pelatihan ini juga akan dilaksanakan di beberapa lokasi objek wisata lainnya di NTB.

Sementara praktisi Fotografi, yang juga Fotografer LKBN Antara NTB, Ahmad Subaidi, memandang profesi baru sebagai juru foto dan pengarah gaya yang dijalankan para pedagang asongan yang rata-rata anak-anak berusia sekolah. Selain mengajarkan kepada anak untuk belajar mandiri dengan cara berjualan, juga akan mengasah bakat dan minat anak-anak itu dalam bidang fotografi.

“Bukan soal hasil foto itu bagus atau tidak. Karena peralatan foto yang dipakai oleh anak-anak itu juga tergantung dari kualitas foto yang dimiliki masing-masing HP wisatawan yang memakai jasanya. Tetapi komunikasi secara aktif anak-anak itu dengan para wisatawan, terutama wisatawan mancanegara dengan menggunakan bahasa Inggris, sudah pasti akan mengasah kemampuan anak itu dalam berbahasa Inggris,” ujar Uchub, sapaan akrabnya.

Selanjutnya soal hasil foto, dengan jam terbang yang tinggi, karena terus terasah setiap hari. Perlahan namun pasti, akan membangkitkan kemampuan anak-anak itu dalam pengambilan angle (sudut) obyek yang bagus.

“Foto yang bagus itu tergantung dari kemampuan sang juru foto dalam menentukan angle ketika mengambil gambar. Kalau wisatawan merasa puas dengan fotonya, maka tanpa diminta upah pun mereka pasti akan dengan sukarela memberi. Terpenting, kunjungan wisatawan ke sebuah destinasi wisata di Lombok itu meninggalkan kenangan yang bagus, dan pulang dengan foto-foto yang bagus pula,” pungkas Uchub. (gt)