Pedagang Asongan Buat Wisatawan Tidak Nyaman

TIDAK NYAMAN : Banyak pedagang asongan dari anak-anak sampai orang dewasa membuat wisatawan tidak nyaman karena seringkali memaksa agar barang dagangannya dibeli (AZWAR ZAMHURI/RADAR LOMBOK)

MATARAM – Provinsi NTB telah mendeklarasikan diri sebagai daerah tujuan kunjungan wisata. Bahkan tahun 2016 ini, target kunjungan wisatawan sebanyak 3 juta orang. Namun sampai saat ini, tidak ada jaminan untuk kenyamanan wisatawan saat berada di obyek wisata terutama dari ulah para pedagang asongan.

Salah seorang tour guide (pemandu wisata) atau yang juga disebut pramuwisata, Andi mengaku malu kepada tamunya. Pasalnya, saat berada di obyek wisata seringkali tamunya merasa risih dengan keberadaan pedagang asongan. “Saya baru selesai bawa tamu keliling selama tiga hari kemarin, mereka sangat tidak nyaman dengan sikap pedagang-pedagang itu yang memaksa tamu saya untuk beli,” ungkapnya kepada Radar Lombok, Minggu  kemarin (18/9).

Diungkapkan, pada hari Kamis lalu (15/9) dirinya membawa satu keluarga wisatawan asal Jakarta ke pantai Kuta di Lombok Tengah dan sekitarnya. Saat berada di pantai Kuta, banyak pedagang asongan yang menyerbu tamunya menawarkan barang dagangan. Menurutnya, andaikan saja sikap pedagang asongan tersebut biasa tentu dirinya juga bisa memahami. “Tapi ini kok jadinya membuat wisatawan resah, risih dan takut lagi balik ke pantai Kuta. Apa hal seperti ini kita biarkan saja,” keluhnya.

Dituturkan, awalnya hanya satu pedagang yang menghampiri tamunya. Pedagang tersebut seperti memaksa agar dibeli dengan wajah memelas. Karena kasihan, tamunya membeli satu kain dengan harapan si pedagang bisa segera pergi. Tapi ternyata pedagang tersebut belum juga mau pergi, ia masih memaksa dengan rayuan agar membeli barangnya yang lain.

Keadaan seperti ini membuat wisatawan tidak bisa menikmati keindahan obyek wisata. Setelah satu pedagang pergi, tiba-tiba sekitar 6 orang sampai 8 orang pedagang lainnya berdatangan. Para pedagang tersebut terus saja mengikuti kemanapun wisatawan sampai barang-barangnya dibeli.

 “Karena tidak bisa saya usir, saya ajak tamu saya untuk pergi dari tempat itu. Sampai mobil kita masih diikuti, parahnya lagi pintu mobil tidak dikasi ditutup. Pedagang itu terus saja maksa agar dibeli, saya kasian dan sangat malu dengan tamu saya. Jadinya wisatawan takut datang lagi, tidak ada juga petugas disana tempat kita bisa minta tolong,” ungkapnya.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Budpar) Provinsi NTB, HL Moh Faozal saat dimintai tanggapanya tidak membantah fakta tersebut. Ia sendiri mengaku sangat pusing dan belum menemukan solusi terbaik atas kondisi di obyek wisata yang membuat wisatawan tidak nyaman.

Sejak lama pihaknya telah melakukan sosialisasi untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat setempat. Bahkan semua pedagang asongan juga pernah dikumpulkan dan dibuatkan asosiasi untuk lebih memudahkan koordinasi. “Saya juga bingung, tidak bisa kita sadarkan masyarakat ini. Kita larang juga susah karena mereka cari nafkah,” ujar Faozal.

Jumlah pedagang asongan di sekitar pantai Kuta Lombok Tengah saja mencapai ratusan orang. Jumlah tersebut akan semakin banyak setelah siang hari karena anak-anak sekolah telah pulang dan ikut menjajakan barang jualannya.

Berbagai langkah telah dilakukan untuk menjaga kenyamanan wisatawan dari pedagang asongan tetapi belum juga berhasil. Meskipun begitu, Faozal berjanji akan secepatnya melakukan penertiban. “Kita akan tertibkan kalau begitu, mungkin nanti kita buatkan tempat jualan khusus di sekitar obyek wisata,” katanya. (zwr)