Pasutri Asal Batam Ini Selundupkan Sabu Melalui Dubur

DITANGKAP: Pasangan suami istri digelandang petugas BNN NTB setelah ditangkap menyelundupkan sabu di BIZAM. (Dery Harjan/Radar Lombok)

MATARAM – Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) NTB kembali menggagalkan penyelundupan narkotika jenis sabu seberat 387,95 gram di Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid (BIZAM).

Sabu ini diselundupkan oleh dua orang yang merupakan pasangan suami istri penumpang pesawat Lion Air dari Padang, Samutera Barat tujuan Lombok. Keduanya masing-masing berinisial P (27 tahun) dan MM (22 tahun) warga Desa Tanjung Uncang, Kecamatan Batu Aji, Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau.
“Mereka kami amankan saat tiba di Bandar Udara Internasional Zainuddin Abdul Madjid pada Kamis (11/2). Sabu tersebut diselundupkan melalui dubur, “ungkap
Kepala BNNP NTB, Brigjen Pol I Gede Sugianyar Dwi Putera, Rabu (17/2).

Terungkapnya penyelundupan ini kata Sugianyar berawal dari informasi tentang adanya upaya penyelundupan sabu ke NTB oleh orang dengan ciri-ciri tertentu. Selanjutnya BNN bekerja sama dengan pihak bandara melakukan pengintaian di terminal kedatangan. Ciri-ciri yang disebutkan tersebut ternyata mengarah kepada kedua orang ini. Selanjutnya dilakukan pemeriksaan dan penggeledahan. ” Kedua pasutri ini merupakan penumpang pesawat Lion Air dari Padang menuju Lombok transit Jakarta sebagaimana boarding pass tertanggal 11 Februari 2021,”ujarnya.

Saat dilakukan pemeriksaan dan penggeledahan barang bukti narkotika tidak ditemukan pada badan dan barang bawaan dari kedua orang tersebut. Petugas pun terus menginterogasinya hingga akhirnya mereka mengaku bahwa barang berupa sabu disimpan di dalam duburnya. Kedua tersangka kemudian diminta mengeluarkannya. “Pada tersangka P terdapat 2 buah paket yang diduga narkotika jenis sabu yang sudah dimodifikasi dan dibungkus dengan kondom. Kemudian pada tersangka MM terdapat 3 bungkus. Setelah ditimbang berat keseluruhan yaitu 387,95 gram ,”ujar Sugianyar.

Para tersangka ini kata Sugianyar hanyalah seorang kurir. Mereka mau menyelundupkan sabu ke NTB karena faktor ekonomi.
Dimana tersangka P sebelumnya seorang pekerja serabutan di Singapura.
Hanya saja karena di Singapura dia terlibat penyalahgunaan visa kunjungan akhirnya dideportasi. Setelah itu menjadi pengangguran. Dengan alasan ibunya sakit-sakitan dan butuh biaya berobat serta untuk kebutuhan hidup tersangka keluarganya, akhirnya mereka terlibat dalam bisnis narkotika. “Dia dijanjikan seseorang di Padang bahwa setiap kali pengiriman dalam satu bungkus itu upahnya Rp 10 juta,”ujarnya.

Terkait siapa yang memberinya perintah menyelundupkan sabu tersebut hingga kini masih ditelusuri. Begitu juga terkait kemana sabu bakal diserahkan. “Ini sedang kita kembangkan. Kesulitan kita itu sistem jaringannya terputus,”ujar Sugianyar.

Meski begitu pihaknya akan terus berupaya bisa mengungkap jaringan tersangka ini. Tersangka bersama barang bukti saat ini ditahan di kantor BNNP NTB.
Kedua tersangka melanggar pasal 114 ayat (2) atau pasal 112 ayat (2) UU RI No. 35 Tahun 2009, tentang Narkotika dengan Ancaman Pidana Maksimal Hukuman Mati minimal. “Mereka juga pengguna. Alasannya untuk mengurangi rasa sakit saat memasukkan sabu ke dalam duburnya,”ujarnya.

Sugianyar menyebutkan bahwa dengan digagalkannya penyelundupan sabu tersebut maka telah menyelamatkan sekitar 4655 generasi bangsa. (der)