Pastikan Penerapan CHSE, Kemenparekraf Kunjungi Destinasi

DESA WISATA: Rombongan Kemenparekraf ketika berkunjung ke Desa Wisata Bonjeruk, Kecamatan Jonggat, dan membeli oleh-oleh kopi, serta aneka kerajinan lain, Kamis (25/2/2021).

MATARAM-Setelah dua hari sebelumnya, 23 – 24 Februari 2021, Kemenparekraf RI, melalui Direktorat Wisata MICE Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggaraan Kegiatan (Events), menggelar sosialisasi dan simulasi program Cleanliness, Health, Safety and Environmental sustainability (CHSE), yang diikuti para pelaku usaha wisata MICE (Meeting, Incentive, Convention, Exibition) di Provinsi NTB.

Maka pada hari ke tiga kegiatan, Kamis (25/2/2021), rombongan Kemenparekraf giliran bertandang ke Desa Wisata Bonjeruk, Kecamatan Jonggat, Kabupaten Lombok Tengah. Untuk kemudian dilanjutkan berkunjung ke lokasi objek wisata air terjun Benang Setokel dan air terjun Benang Kelambu, di Desa Aik Berik, Kecamatan Batukliang, Kabupaten Lombok Tengah.

Sama seperti kunjungan ke berbagai objek wisata hari sebelumnya, pada hari ke tiga ini pihak Kemenparekraf juga hendak melihat sejauh mana kesiapan masing-masing pengelola destinasi wisata terhadap penerapan CHSE di daerahnya.

Di lokasi pertama, di Desa Wisata Bonjeruk, rombongan Kemenparekraf yang dipimpin Koordinator Bidang Jejaring dan Kapasitas di Direktorat MICE Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Titik Lestari, disambut langsung oleh pihak pengelola desa wisata, yakni Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Bonjeruk Permai.

Kesempatan itu, Ketua Pokdarwis Bonjeruk Permai, Usman, menjelaskan kalau di desanya ada tiga paket wisata unggulan yang ditawarkan kepada para wisatawan, yaitu paket wisata bersepeda, cooking class (kelas memasak menu tradisional), dan walking (jalan-jalan).

“Ke tiga paket wisata ini sudah lama diterapkan di Desa Wisata Bonjeruk, dan respons wisatawan selama ini juga cukup banyak, karena mereka senang menikmati pemandangan alam pedesaan yang masih alami,” jelas Usman.

Ditambahkan, Desa Wisata Bonjeruk ditengah pandemi sekarang ini, juga menerapkan secara ketat protokol kesehatan atau CHSE bagi para pengelola maupun wisatawan yang berkunjung.

“Desa Wisata Bonjeruk basisnya adalah agro wisata. Kami juga tetap intens berkomunikasi dengan para pengusaha travel agent, maupun guide (pemandu wisata), untuk membawa tamunya ke desa kami. Semoga melalui kunjungan rombongan Kemenparekraf ini, sekaligus bisa meyakinkan para tamu, kalau desa kami telah menerapkan CHSE, dan siap untuk dikunjungi wisatawan,” harap Usman.

Usai dari Desa Wisata Bonjeruk, rombongan Kemenparekraf selanjutnya berkunjung ke lokasi dua objek wisata alam, air terjun Benang Stokel dan air terjun Benang Kelambu di Desa Aik Berik, Kecamatan Batukliang.

Ke dua air terjun ini masih dalam satu kawasan, di bawah terdapat air terjun Benang Setokel. Sementara diatasnya, dengan jalan mendaki sekitar 1,5 jam, atau kalau naik jasa ojek sekitar 15 menit, melalui kebun-kebun warga, dan hutan tropis di kaki Gunung Rinjani, terdapat air terjun Benang Kelambu yang memiliki panorama alam tidak kalah indahnya.

“Simulasi CHSE dengan berkunjung ke berbagai objek wisata di NTB, khususnya di pulau Lombok ini, untuk melihat secara langsung bagaimana penerapan CHSE dilakukan. Dan Alhamdulillah, berbagai objek wisata yang kami kunjungi dua hari terakhir ini semua telah menerapkan CHSE dengan baik,” ujar Koordinator Bidang Jejaring dan Kapasitas di Direktorat MICE Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Titik Lestari.

Artinya sambung Titik, secara umum semua destinasi wisata di NTB telah siap dikunjungi wisatawan, baik oleh wisatawan lokal, domestik, maupun mancanegara. Memang, saat ini masih pandemi, sehingga berimbas kepada kunjungan wisatawan.

“Namun kalau berbagai sarana dan prasarana, termasuk objek wisata kita telah siap, dan juga secara ketat telah menerapkan CHSE, maka para wisatawan yang berkunjung tentu akan merasa aman dan nyaman,” ulas Titik seraya menambahkan, bahwa pada intinya destinasi super prioritas (DSP) Mandalika, dan NTB siap menggerakan pariwisata kembali, sesuai dengan protokol kesehatan. (gt)