Pasien Terduga MERS Masih Dirawat

dr Lalu Hamzi Fikri
dr Lalu Hamzi Fikri (AZWAR ZAMHURI/RADAR LOMBOK)

MATARAM – Direktur utama Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Provinsi NTB, dr Lalu Hamzi Fikri menyampaikan, salah satu pasien yang diduga menderita Middle East Respiratory Syndrome Corona Virus (MERS-CoV), masih dirawat secara intensif hingga saat ini di ruang isolasi.

Menurut Fikri, pasien dengan inisial M, usia 62 tahun itu masih belum bisa dikunjungi bebas oleh keluarganya. Pasien juga tidak boleh berinteraksi dengan pasien lainnya di RSUD Provinsi NTB. “Jadi pasien masih kita rawat, belum bisa kita pulangkan,” ujarnya saat berada di gedung DPRD NTB, Rabu kemarin (12/7).

Sikap RSUD yang masih ketat menjaga pasien, disebabkan hingga saat ini belum keluar hasil pemeriksaan yang telah dikirim ke laboratorium Penyakit Infeksi pusat Biomedis Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Litbangkes) di Jakarta. Sementara, pasien tersebut menunjukkan gejala seperti menderita MERS-CoV.

Pada tahun 2015 lalu, pernah ada salah satu warga NTB yang menderita MERS-CoV. Warga tersebut terkena saat menjalankan ibadah haji di tanah suci Mekkah. “Saya tidak tahu apakah sekarang masih hidup atau tidak, yang jelas wakt itu dia positif terkena MERS,” katanya.

Saat ini kondisi pasien sudah membaik. Apabila nantinya hasil pemeriksaan negatif, maka pasien bisa langsung dipulangkan. Sebaliknya, jika diketahui positif menderita MERS-CoV maka akan ditangani lebih intensif lagi. “Kita pulangkan kalau memang negatif,” ucap Fikri.

Saat baru dirujuk, gejala yang ditunjukkan pasien seperti penderita MERS-Cov. Misalnya demam, batuk, pernafasan terganggu dan lain-lain seperti gejala flu burung. Pasien yang diduga atau terkena MERS-CoV memang harus diwaspadai.

Hal ini disebabkan virus Mers dapat menular dengan dua cara, yaitu langsung dan tidak langsung. Penularan secara langsung melalui percikan batuk atau bersin dari pasien yang tertular. “Ini penting dipahami oleh masyarakat,” ujarnya.

Sementara itu, penularan tidak langsung terjadi melalui kontak dengan benda yang terkontaminasi virus. Itulah yang membuat pasien MMM masih diisolasi dan keluarganya sendiri dilarang mendekat secara langsung. “Makanya pasien itu berada di ruangan isolasi, kita harap keluarga bisa mengerti,” ucapnya.

Ditegaskan, masyarakat harus tahu dan diberikan pemahaman terhadap bahaya MERS. Apalagi saat ini musim haji telah tiba. Itu artinya, ribuan masyarakat NTB akan pergi ke tempat dimana MERS pertama kali ditemukan dan berkembang.

Untuk keluarga pasien, jangan sampai berani bertindak nekat dengan melihat langsung pasien. Sebab, virus tersebut bisa menular secara tidak langsung. “Sekedar percikan batuk atau bersin saja, terus ada benda di sekitar yang terkontaminasi, itu bahaya. Bisa tangan kita, yang terkontaminasi virus setelah menahan batuk atau bersin, dan bisa menularkan ke orang lain yang tersentuh,” terangnya.

Penularan infeksi MERS-CoV memang tidak semudah penularan infeksi saluran pernapasan lainnya.  Kasus yang telah terjadi, virus penyakit tersebut tidak mudah menular di komunitas masyarakat yang lebih luas dan berkelanjutan. Namun harus tetap diwaspadai, terutama bagi keluarga.

Hal yang harus diketahui masyarakat juga, kata Hamzi Fikri, cara penularan virus ini sangat terbatas. Kebanyakan kasus terjadi di fasilitas kesehatan, di tempat orang yang terinfeksi berada dan tidak meluas di komunitas. “Seperti dari orang A menular ke B dan tidak lanjut ke orang C dan D,” katanya.

Selain mengutamakan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), terdapat 4 langkah yang bisa dilakukan untuk mencegah penyakit tersebut menyebar. Pertama, menggunakan masker di tempat yang berisiko, seperti rumah sakit di daerah terjangkit.

Kedua, rajin mencuci tangan dengan sabun atau handsanitizer setelah kontak dengan orang lain. Ketiga, menghindari kontak dengan hewan peliharaan yang dicurigai menjadi vektor virus, seperti unta. “Jamaah haji asal NTB, kita minta jaga kesehatannya,” ujar Fikri.

Langkah terakhir yang bisa dilakukan untuk mencegah diri dari penyakit tersebut, memang dengan menerapkan pola  hidup sehat. Kondisi fisik dan psikis harus tetap dijaga dengan tidak merokok, istirahat yang cukup dan pola makan teratur. “Cuaca disini dan disana beda, perbanyak minum air putih juga,” tandasnya.

Anggota komisi V DPRD Provinsi NTB, Hj Suryahartin meminta kepada RSUD Provinsi NTB untuk transparan dalam penanganan pasien yang diduga terkena MERS-CoV. Hal itu harus dilakukan agar semua pihak, baik keluarga maupun masyarakat umum tidak menjadi kebingungan.

Menurut Suryahartin, MERS-CoV merupakan penyakit yang sangat berbahaya. Meskipun begitu, RSUD Provinsi NTB harus menyampaikan apa adanya kepada publik. “Bukan berarti kita mau menakuti masyarakat, tapi ini untuk diwaspadai. Selama ini kan pasien-pasien yang langka penyakitnya seringkali kita tahu dari luar dulu, baru RSUP mau buka informasi,” katanya. (zwr)