Pasangan Suami Istri Dibantai Kawanan Perampok

Pasangan Suami Istri Dibantai Kawanan Perampok
OLAH TKP: Petugas Kepolisian ketika melakukan olah TKP rumah korban perampokan yang menewaskan Amaq Jon, dan istrinya kritis di rumah sakit. (IRWAN/RADAR LOMBOK)

SELONG–Sepasang suami istri, Amaq Jon dan Inaq Jon, asal Dusun Telone, Desa Sekaroh, Kecamatan Jerowaru, Kabupaten Lombok Timur (Lotim), dibantai kawanan perampok. Akibatnya, sang suami tewas dengan sejumlah luka sobek bekas sabetan senjata tajam di perut, bahkan ususnya sampai keluar. Demikian sang istri masih kritis, sehingga harus dirawat di rumah sakit.

Kapolres Lotim melalui Kapolsek Jerowaru, Ipda Mahstar menjelaskan kejadian ini berawal pada hari Selasa dinihari (30/5), sekitar pukul 01.30 Wita. Saat itu ada tiga orang warga Dusun Sunut yang sednag melakukan ronda malam di depan rumah korban (Amaq Jon). Tiba tiba sekelompok orang yang diduga perampok melempari warga dengan batu, yang karena merasa kalah jumlah, akhirnya warga pun lari menyelamatkan diri.

“Warga yang mendapat serangan tiba-tiba itu sebelumnya memang sempat memberikan perlawanan. Namun karena kalah jumlahnya, warga langsung berlari. Sehingga para pelaku dengan leluasa menuju rumah korban, dan mendobrak roling door serta pintu rumah korban. Selanjutnya para pelaku menganiaya korban hingga tewas,” katanya kepada Radar Lombok, kemarin.

Melihat komplotan perampok yang jumlahnya puluhan orang tersebut, Amaq Jon bersama keluarga tidak bisa bebuat apa-apa, dan hanya pasrah kepada keadaan. Selain korban tewas, istrinya juga mengalami luka di bagian kepala akibat hantaman tabung elpiji 3 kilogram. ”Sementara dua anaknya, Jon (14 tahun), dan putri (9 tahun), hanya bisa melihat orang tuanya menjadi korban keganasan perampok,” sesalnya.

Dikatakan, pada saat kejadian sekitar pukul 24.15 Wita, anggota gabungan baru selesai melaksanakan penertiban balap liar di jalan jurusan Sepakat daerah Sukaraja, yang kemudian melanjutkan patroli ke arah barat Desa Pene dan Batu Nampar.

Sekitar pukul 02.30 Wita, Tim Patroli mendapat telepon dari piket bahwa ada perampokan di daerah Telone. “Tim yang mendapatkan informasi langsung melakukan pengejaran yang sebagian melalui jalur laut dengan perahu nelayan, dan sebagian melalui jalur darat. Namun tidak ditemukan jejak para pelaku,” jelasnya.

Sementara itu, salah seorang warga yang enggan disebut namanya mengatakan, pada saat kejadian warga setempat sempat melakukan perlawanan dan saling melempar dengan batu, namun karena melihat jumlah pelaku yang diperkirakan lebih dari 25 orang, warga pun langsung berlari menyelamatkan diri ke dusun yang lebih besar.

“Sebelum pelaku yang jumlahnya sekitar 25 orang itu meninggalkan rumah korban. Salah seorang warga mendengar pelaku sempat mengatakan “aneh aruan, bareh beh hawe aik te” (ayo cepat, nanti habis kasiat air ini),” ujarnya menirukan.

Setelah membunuh korban dan mengambil hartanya berupa satu Handpone merek Samsung, beserta rokok-rokok yang ada di toko korban, para pelaku kemudian meninggalkan TKP dengan berlari ke arah laut. ”Sekitar 4 orang warga yang berdatangan kemudian menyorot  dengan lampu senter, dan sebagian warga berusaha menyelamatkan korban,” terangnya.

Untuk nilai kerugian, hingga kini belum bisa dipastikan, karena istri korban belum bisa dimintai keterangan, dan kedua anaknya juga masih mengalami trauma.

Kejadian perampokan di wilayah selatan menurutnya, hampir terjadi setiap malam. Namun dari sekian kejadian, tidak satupun pelaku yang berhasil ditemukan, sehingga dia berharap kepada pihak kepolisian untuk serius menyikapi hal ini.

Sementara itu, salah satu pemerhati Lombok selatan, Lalu Junaidi menyayangkan kasus perampokan yang semakin banyak di wilayah selatan. Menyikapi kejadian ini, menurutnya pemerintah daerah, dalam hal ini Bupati Lotim harus memperhatikan masyarakat selatan, dengan cara memberikan pengawasan terhadap para pendatang baru yang berasal dari luar Lotim.

“Yang menjadi korban ini kan hanya orang Lombok Timur. Sementara pendatang, satu pun tidak ada yang menjadi korban. Ini ada apa? Pemerintah harus tanggung jawab, karena dia yang memberikan izin pendatang tinggal di hutan Sekaroh,” tudingnya.

Dikatakan, pada saat ini banyak masyarakat selatan yang legalitasnya tidak jelas. Artinya, banyak para pendatang yang mempunyai kartu identitas ganda. “Kalau seperti ini, yang mendapat masalah siapa? Selain kita tidak tau asal-usulnya, keluar masuknya juga sembarangan. Seharusnya Pemda, terutama Camat dan Dukcapil harus lebih jeli dalam membuat kartu penduduk,” kesalnya.

Disarankan, agar pemtauan terhadap pendatang baru yang berasal dari luar Lotim, seharusnya masyarakat yang letak rumahnya terpisah disatukan, agar bisa mendapatkan pengawasan dari aparat.

Agar permasalahan ini bisa diatasi, dalam waktu dekat pihaknya akan menyurati Pemkab Lotim, agar menyikapi banyaknya perampokan yang disebabkan legalitas masyarakat tidak jelas. Karena saat ini ada isu yang berkembang, bakal ada sekelompok masa yang akan melakukan sweping terhadap masyarakat pendatang.

“Sebelum isu sweping ini benar-benar terjadi, sebaiknya pemerintah menertibkan masyarakat selatan, terutama mendata berapa pendatang baru dan yang tidak jelas legalitasnya,” sarannya. (cr-wan)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid