Pandemi Corona, Jumlah Penduduk Miskin Diprediksi Melonjak

Illustrasi Penduduk Miskin
Illustrasi Penduduk Miskin

MATARAM – Dampak penyebaran virus Corona (Covid-19) yang tidak jelas sampai kapan berakhir membuat perekonomian babak belur. Tak hanya itu, hampir seluruh usaha tutup, dan merumahkan pekerja mereka. Tak hanya itu, banyak juga pelaku usaha yang terpaksa melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK), karena kondisi yang semakin tidak menentu sudah lebih dari tiga bulan.

Melihat kondisi yang semakin tidak menentu tersebut, Badan Pusat Statisik (BPS) Provinsi NTB memprediksi akan terjadi peningkatan jumlah penduduk miskin di NTB di tahun 2020 ini. Hal tersebut  pastinya disebabkan oleh pandemi Covid-19 yang sangat berdampak besar terhadap semua sektor usaha, baik di NTB bahkan secara nasional dan global.

“Tentu pengaruh pandemi Covid-19 terhadap bertambahnya penduduk miskin di NTB cukup besar. Coba lihat berapa banyak tenaga kerja yang dirumahkan maupun di PHK,” kata Kepala BPS Provinsi NTB Suntono, Rabu (3/6).

Menurutnya, pandemi Covid-19 yang telah mengganggu semua sektor usaha, pastinya akan mepengaruhi pendapatan rumah tangga. Penurunan pendapatan akan memengaruhi daya beli atau pengeluaran rumah tangga. Sehingga adanya penurunan daya beli mempengaruhi kemiskinan.

“Untuk berapa persentase saya tidak bisa menjawab. Karena seberapa besar peningkatan kemiskinan akan diketahui ketika survei pada September mendatang,” ujarnya.

Kendati demikian, angka kemiskinan di NTB bisa berpotensi meningkat, jika kondisinya terus seperti ini tanpa ada kesudahan pandemi Covid-19. Apalagi dampak ditimbulkan cukup berpengaruh besar terhadap ekonomi.

“Kemungkinannya iya, terjadi peningkatan angka kemiskinan,” ucapnya.

Ia menilai, untuk menekan angka penambahan jumlah penduduk miskin di NTB, pemerintah daerah perlu mendorong sektor pertanian lebih gencar lagi. Karena sektor tersebut secara umum harus dipertahankan. Ekonomi digerakkan supaya mengurangi pengangguran dan meningkatkan pendapatan.

“Selain itu ada potensi dari sektor perdagangan dan sektor perindustrian,” imbuhnya.

Terpisah, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi NTB Dr Amri Rahman mengatakan, kondisi kemiskinan akan terjadi peningkatan atau tidak pada masa pandemi Covid-19 ini belum bisa diperkirakan seperti apa. Meskipun dilihat saat ini dari jumlah pengangguran meningkat. Namun ada solusinya, yakni dengan diberi kesempatan kerja melalui UKM dan IKM.

“Perkiraan bulan 6 ini sudah relatif stabil kondisi Covid-19. Sehingga dampak terhadap kemiskinan mudah kita analisis,” ujarnya.

Menurutnya, sektor yang paling terdampak saat ini akibat pandemi Covid-19 adalah industri pariwisata. Diantaranya ada hotel, restoran, transportasi dan lainnya. Di mana belum ada pergerakan sama sekali, mengingat pariwisata ini bersangkutan pada perjalanan orang. Sehingga dampaknya cukup dirasakan karena sepinya dari wisatawan.

“Mudah-mudahan dengan “New Normal” ini pariwisata, misalnya mulai terbuka. Makannya di bulan 6 ini pariwisata sudah mulai di tahap pemulihan sampai dengan Desember,” tuturnya.

Sementara itu, untuk sektor pertanian dalam arti luas masih bisa bertahan, begitu tambang masih bisa bertahan. Karena produksi masih tetap berjalan, dengan masih ada harapan dari beberpa sektor. Nantinya kemiskinan bisa ditekan, seperti pada usaha-usaha pertanian dan perikanan.

“Selama ini mereka (pertanian dan perikanan) memproduksi produk-produk primer. Kalau sekarang mereka kita mulai mantapkan untu pengolaha hasilnya, yang sebelum-sebelumnya mengandalkan produk primer untuk di jual,” imbuhnya.

Untuk itu, sekarang NTB mulai secara bertahap beralih ke pengolahan produk yang punya nilai tambah. Jika suatu produk memiliki nilai tambah, ada dua manfaat yang bisa diperoleh. Yakni kesempatan kerja bisa tersedia di sepanjang tahun, kedua tentu pendapatannya akan meningkat. Karena ada pertambahan nilai dari produk itu.

“Kombinasi kesempatan kerja yang tetap tersedia, karena ada olahan-olahan, industrialisasi dan terjadi meningkatan pendapatan. Itulah yang nanti bisa meredam peningkatan jumlah penduduk miskin di NTB,” katanya. (dev)