PAN Terbelah, SYAFAAD Terancam di Pilkada Kabupaten Bima 2020

Jaidin Juraputra

MATARAM-Pernyataan Ketua DPD PAN Kabupaten Bima, tanggal 15 Juni 2020 di salah satu media online, bahwa DPD PAN tidak pernah memberikan rekomendasi tunggal ke DPP PAN dalam Pilkada Kabupaten Bima 2020. Diartikan DPD PAN tidak bulat memberikan dukungan politik dan dukungan perjuangan kepada paket SYAFAAD. Ketidakbulatan sikap politik Ketua DPD PAN Kabupaten Bima, jelas merugikan Ady Mahyudi, yang bergabung dengan paket SYAFAAD.

Hal itu dikatakan Jaidin Juraputra, Direktur Lembaga Riset Demokrasi dan Perdamaian (REDAM), Pengkaji Ekopol Alumni UNHAS, akhir pekan lalu, seperti dalam keterangan pers yang diterima radarlombok.co.id, Senin (15/6/2020).

Lebih lanjut disampaikan Jaidin, kalau mengutip keterangan Ketua DPD PAN dalam siaran pers media online itu, yang menyebutkan bahwa PAN Kabupaten Bima tidak pernah menang dalam Pilkada Kabupaten Bima, adalah sebuah pernyataan faktual berdasarkan pengalaman empiris kekalahan kader yang diusung PAN pada setiap Pilkada Kabupaten Bima.

Pada sisi yang lain, pernyataan Ketua DPD PAN tersebut, memberikan sinyal yang kuat bahwa sikap batin dan skema politik Ketua DPD PAN Kabupaten Bima lebih condong berpihak berjuang bersama dengan petahana. “Fenomena ini kian memperparah dan mengacaukan skenario dan ritme langkah politik SYAFAAD untuk mendapatkan rekomendasi DPP PAN,” tutur Jaidin.

Sementara pada bagian pemberitaan yang berbeda pada tanggal 14 Juni 2020, Ketua DPW PAN Provinsi NTB, justeru memperlihatkan dengan terang dukungannya kepada pasangan SYAFAAD. Perbedaan keterangan siaran pers antara Ketua DPD PAN Kabupaten Bima dan Ketua DPW PAN Provinsi NTB, memperlihatkan makin terangnya pertentangan politik internal PAN dalam Pilkada Kabupaten Bima 2020. Pertentangan internal antara Ketua DPD PAN Kabupaten Bima dan Ketua DPW PAN Provinsi NTB, sangat membahayakan masa depan politik perjuangan SYAFAAD.

Saat yang sama, secara alami menguntungkan petahana dan atau subjek politik lain di luar SYAFAAD. Dalam konteks ini, SYAFAAD ditantang untuk membuktikan diplomasi politik untuk menyapu tantangan dan hambatan secara berjenjang. Apakah itu mungkin bisa di lakukan oleh SYAFAAD, supaya tidak ketinggalan panggung di kontestasi politik demokrasi 2020?

Dinamika politik selalu menyita perhatian dan menaksir para analis yang gandrungi isu-isu politik. Satu hal yang bisa menjadi menjadi hipotesa bahwa perpecahan politik terbelah karena pengaruh uang. Itu kalau mengutip istilah Mawardin dalam sebuah tulisannya dengan diksi yang menarik, yakni “pitikrasi”, demokrasi berbasis piti (uang). Artinya, relasi kuasa yang penuh dengan transaksi belum juga sirna dalam lakon politik para elite.

“Upaya mensolidkan perpecahan dalam rumah politik hanya bisa dijembatani oleh kesamaan kepentingan ideologis dan nilai-nilai transformatif. Apakah kesadaran ideologis pelaku politik dalam rumah PAN itu masih bersemayam?” ujar Jaidin setengah bertanya. (gt)