Pabrik Pakan Ternak Belum Miliki Izin Edar

PABRIK PAKAN: Kepala Dinas Perindustrian Provinsi NTB memantau langsung proses produksi pabrik pakan ternak di kawasan RPH Banyumulek, Lombok Barat, Kamis (2/12).(DEVI HANDAYANI / RADAR LOMBOK )

MATARAM – Pabrik pakan yang ada di bangun di dalam kawasan Rumah Potong Hewan (RPH) Banyumulek, Lombok Barat ternyata hingga saat ini belum memiliki izin edar. Padahal, pabrik pakan di yang dijanjikan bisa membantu peternak di tengah harga pakan melambung tinggi, namun hingga saat ini belum ada tanda –tanda bisa dimanfaatkan oleh peternak di NTB, baik itu peternak unggas maupun sapi.

Saat ini pabrik pakan ternak tersebut, meski sudah beroperasional, namun masih skala terbatas, hanya mengandalkan produksi jika ada permintaan skala kecil dari peternak. Selain itu, untuk mesin SILO juga belum tersedia listrik dan sarana pendukungnya. Belum lagi, izin edar untuk pakan ternak yang akan diproduksi di pabrik pakan tersebut hingga saat ini belum ada.

Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Provinsi NTB Khairul Akbar mengakui jika pihaknya masih mengurus izin edar. Karena hingga saat ini izin edar pakan ternak yang akan diproduksi di pabrik pakan RPH Banyumulek belum keluar. Bahkan, beberapa hari lalu pihaknya sudah datang ke Bekasi, Jawa Barat untuk mengurus izin eder pakan ternak yang diproduksi di pabrik pakan NTB.

BACA JUGA :  Event WSBK Diproyeksi Dongkrak Pertumbuhan Ekonomi NTB

“Sekarang ini untuk pabrik pakan itu sedang diurus ijin edarnya. Semoga sebelum tanggal 14 Desember sudah bisa keluar izin edar tersebut,” harapnya.

Khairul berharap dengan adanya pabrik pakan ini nantinya harga pakan jauh lebih terjangkau bagi peternak ayam petelur dan peternakan ayam pedaging. Mengingat selama ini banyak keluhan dari para peternak petelur ayam, lantaran harga pakan sangat tinggi.

“Jadi peternak telur harganya tidak anjlok, tetapi memberi keuntungan bagi peternak kita,” ujarnya.

Terpisah, Kepala Dinas Perindustrian Provinsi NTB Nuryanti membenarkan jika izin edar hingga saat ini belum keluar. Kendati demikian, ia berharap sebelum tanggal 20 Desember izin edar produk pakan ternak sudah keluar.

“Insyaallah tanggal 20 Desember akan diluncurkan izin edar. Sarana pendukung seperti gudang bahan baku dan gudang hasil produksi juga sedang diikhtarkan dilengkapi,” kata Nuryanti.

Nantinya jika sarana dan prasarana pendukung lainnya sudah dilengkapi, maka bisa produksi masif dan dengan harga bersaing. Artinya dapat membantu meringankan peternak dalam mendapatkan pakan sehat dan terjangkau. Bahkan pabrik tersebut sebenarnya beroperasional dari sejak direncanakan pada tahun 2020 lalu, namun terbatas. Produk jika ada permintaan dari peternak.

BACA JUGA :  Target Merger BPR NTB Berpeluang Molor Lagi

“Sudah berjalan 6 bulan. Silakan bisa langsung pesan ke lokasi, sudah ada beberapa pelanggannya yang memberi saran masukan feed back terkait formula yang tepat, dengan bahan-bahan lokal yang tersedia,” tuturnya.

Selain itu ada juga saran masukan dari pasar terbatas ini juga masukan dari dosen Unram menjadi beberapa formula yang sedang di uji di Bekasi bersama Dinas Peternakan. Sementara ini baru 2 persen dari kapasitas pabrik untuk uji coba mesin dan formula yang tepat dari bahan-bahan lokal.

“Bahan baku kita tersedia, hanya menunggu izin edar saja, sehingga memastikan pakan sudah aman dikonsumsi oleh unggas dan pastikan kwalitas telur aman bagi konsumen,” terangnya.

Sedangkan untuk kesiapan yang lainnya tetap menunggu, seperti berjalannya corn drayer dari Dinas Pertanian, sehingga alur produksi bisa berjalan baik. Sarana pendukung paralel berjalan. Adapun kasipasitas untuk mesin penghasil pakan ternak ini cukup besar. Idealnya dari kapasitas mesin ini beroperasi sehari 6-8 jam dengan 1 jam hasilnya mencapai 5-7 ton. Jadi dalam satu hari itu bisa mencapai 30-50 ton, sehingga perbulannya 900-1500 ton kapasitasnya. Ini bisa mengcover beberapa permasalahan pakan peternak unggas di NTB. (dev)