Over Produksi, Petani Tembakau Terancam Merugi

petani-tembakau
DITANAM: Inilah tanaman tembakau petani di wilayah Puyung Kecamatan Jonggat. Petani tembakau terancam merugi karena over produksi. (M HAERUDDIN/RADAR LOMBOK)

PRAYA – Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Lombok Tengah memperediksi tanaman tembakau mengalami over produksi pada musim panen tahun ini. Hal itu dilihat dari kebutuhan pupuk para petani yang melambung tinggi jika dibandingkan tahun sebelumnya.

Dengan adanya over produksi ini maka dikhawatirkan petani nantinya malah merugi. Untuk itulah pihaknya dalam waktu dekat akan memanggil pihak terkait seperti perusahaan tembakau untuk mencari solusi permasalahan ini. “Memang belum panen tapi kalau melihat dari para distributor pupuk, ternyata untuk pupuk yang digunakan petani tembakau mengalami peningkatan. Jadi kita bisa melihat hasil tembakau ini akan mengalami over produksi,” kata Kepala Distanak Lombok Tengah, Lalu Iskandar, Selasa (25/6).

BACA JUGA: 2019 Lahan Tanam Tembakau Berkurang

Iskandar menyebutkan kecamatan yang banyak menanam tembakau seperti di Kecamatan Praya Timur, Kopang, Praya Barat, Janapria dan beberapa kecamatan lainnya. Untuk tanaman tembakau ini hampir rata ada di setiap kecamatan, kecuali di Kecamatan Batukliang Utara. “Padahal sudah kita sampaikan mana zona yang baik dan tidak untuk menanam tembakau. Tapi ternyata jumlah petani yang menanam tembakau semakin tinggi,” katanya.

Menurut mantan Kepala BKP3 Lombok Tengah ini, banyaknya petani yang menanam tembakau tak terlepas dari bagusnya harga termbakau. Sehingga masyarakat berlomba- lomba menanam tembakau tahun ini dengan harapan bisa mendapatkan keuntungan. Cuma saja, jika over produksi maka tentunya para petani bisa merugi karena tidak ada perusahaan yang membeli tembakau mereka.

“Makanya besok (hari ini, red) kita akan memanggil pihak terkait untuk merumuskan penyelesaian persoalan ini. Jangan sampai nanti saat panen malah para petani membawa tembakau mereka ke pendopo atau dinas karena tidak ada yang membeli. Kita harus segera sikapi persoalan ini agar tidak merugikan para petani kita,” tambahnya.

Untuk memenuhi kebutuhan tembakau di NTB sebesar 21.500 ton, lanjut Iskandar, hanya bisa dipenuhi petani tembakau Lombok Tengah dan Lombok Timur. Akan tetapi, banyak petani yang belum bermitra dengan perusahaan. Sehingga nilai jual hasil produksi mereka terancam tak bisa dibeli. Lain halnya dengan petani yang sudah bermitra, mereka tinggal memasukkan hasil produksi tembakau mereka karena sudah ada jalinan kerja sama.

“Kondisi sekarang yang banyak menanam tembakau adalah petani swadaya, karena melihat keuntungan tahun lalu yang begitu besar. Tapi kalau hasilnya sudah over produksi maka tentu ini juga akan menjadi persoalan baru. Petani bisa merugi karena hasil mereka tidak ada yang mau membeli,” tambahnya.

Ditambahkan Iskandar, belum ada petani yang panen tembakau sekarang ini. Diharapkan akan ada solusi untuk menyelesaikan persoalan itu, agar ke depan para petani bisa menjual produksi tembakaunya dengan harga yang bagus. “Semoga dengan pertemuan nantinya dengan perusahaan akan ada hasil yang memuaskan untuk para petani kita ini,” harapnya. (met)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid