Otak Perampokan Sadis di Loteng Ditembak

TUNJUKKAN: Kabid Humas Polda NTB Kombes Pol Artanto dan Direktur Direktorat Reserse Kriminal Umum (Dit Reskrimum) Polda NTB Kombes Pol Teddy Ristiawan menunjukkan pelaku dan barang bukti, Senin (16/1). (ROSYID/RADAR LOMBOK)

MATARAM – AJ alias Apel, asal Dusun Songgong, Desa Sukadana, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah ditangkap Tim Puma Polda NTB.

Pria 55 tahun ini menjadi otak perampokan sadis di wilayah Lombok Tengah (Loteng). Nahasnya saat ditangkap, ia melawan sehingga ditembak. “Pelaku diberikan tembakan terukur karena melawan saat ditangkap,” terang Kabid Humas Polda NTB Kombes Pol Artanto, Senin (16/1).

Pelaku sudah masuk daftar pencarian orang (DPO) sebulan lamanya. Polisi menangkapnya di tempat persembunyian di Desa Bajak, Kecamatan Pujut pada 30 Desember lalu, sekitar pukul 05.00 WITA.

Direktur Direktorat Reserse Kriminal Umum (Dit Reskrimum) Polda NTB Kombes Pol Teddy Ristiawan menyatakan, peran Apel terbongkar setelah dua anak buahnya tertangkap lebih dahulu. “Dua anak buahnya itu bernama MT dan NS. Keduanya ditangkap pada 3 Desember lalu,” sebut Teddy.

Keduanya ditangkap setelah menjalankan aksi di dua kecamatan di Lombok Tengah, yakni Kecamatan Pringgarata dan Jonggat. “Keduanya melakukan pencurian di rumah korban,” imbuhnya.

Baca Juga :  Gerebek Pengedar Sabu, Tujuh Orang Diamankan

Dari pengakuan anak buahnya itu, Apel bertindak sebagai penyusun strategi dan menentukan langkah yang harus diambil jika korban melawan. Setelah menentukan korban, pelaku yang menjadi bos memerintah MT, NS dan satu anak buahnya yang masih buron untuk beraksi. “Sebelum beraksi, pelaku ini survei lokasi dulu. Jika korban melawan, tidak segan korban akan dilukai,” katanya.

Dalam menetapkan sasaran, pelaku memasang informan. Mendapati rumah yang ditargetkan memiliki banyak harta, barulah Apel memerintahkan tiga anak buah beraksi. Terhitung, di dua TKP tersebut, pelaku berhasil menggasak harta benda korban ratusan juta. “TKP pertama di Kecamatan Pringgarata korban mengalami kerugian mencapai Rp 130 juta, sedangkan di TKP kedua, korban mengalami kerugian Rp 83 juta. Kerugian itu dari perhiasan korban, kendaraan dan uang korban yang dicuri,” ujarnya.

Baca Juga :  Rampok Konter HP, Hamdan Didor

Selama buron, Apel selalu berpindah-pindah bersembunyi. Namun pelaku tetap berada di Pulau Lombok. Berdasarkan pengakuan Apel, perhiasan korban yang dicuri, sudah habis dijual di wilayah Praya, Lombok Tengah.

Tempat pelaku menjual barang curiannya masih didalami. “Masih kami dalami di mana pelaku menjual hasil rampokannya. Bisa dijerat Pasal 480 atau selaku penadah,” katanya.

Untuk barang bukti yang diamankan, berupa kendaraan roda dua dan sebilah senjata tajam. Senjata tajam tersebut, digunakan pelaku untuk memuluskan aksinya. “Digunakan pelaku untuk mengancam korban agar korban tidak melawan dan berteriak. Sementara ini, belum terjadi kerugian bersifat jiwa kepada korban,” sebutnya.

Para pelaku disangkakan Pasal 365 KUHP dengan ancaman hukuman tujuh tahun penjara. (cr-sid)

Komentar Anda