Organda Minta Evaluasi Menyeluruh Semrawut Transportasi MotoGP

H Junaidi Kasum (IST/ RADAR LOMBOK)

MATARAM – Ketua Organisasi Angkutan Darat (Organda) NTB H Junaidi Kasum angkat bicara terkait permasalahan kemacetan hingga banyaknya penonton MotoGP yang terlantar di area Sirkuit Mandalika, karena tidak mendapatkan layanan angkutan bus menuju area Parkir Timur usai mereka menonton. Bahkan, puluhan ribu penonton tertahan dan telantar di area Sirkut Mandalika, karena tidak adanya bus yang menjemput untuk kembali menuju area Parkir Timur hingga larut malam, pada Ahad (20/3).

“Pihak ITDC tidak bekerja maksimal di hari terakhir, terutama usai perhelatan MotoGP. Petugas yang seharusnya berada di Eks Bandara Selaparang malah tidak ada di tempat. Begitu juga di kawasan Sirkuit Mandalika saat MotoGP selesai, penonton kesulitan mendapatkan angkutan bus untuk keluar menuju area Parkir Timur. Sehingga sulit untuk mengakomodir semua transportasi akibat semua bekerja sendiri-sendiri,” kata Junaidi Kasum, kemarin.

Dikatakan Junaidi, dalam penyelenggaraan MotoGP ini, baik ITDC maupun MGPA, dan Dinas Perhubungan selaku penanggung jawab koordinasi transportasi tidak banyak melibatkan Organda dan malah bekerja sendiri-sendiri. Mulai dari pengadaan tender oleh Kementerian Perhubungan hingga mendatangkan bus dari Jawa dan Bali tanpa koordinasi terlebih dahulu dengan Organda NTB. Padahal, sebelumnya sudah ditekankan untuk menunjuk pihak atau stakeholder yang terkait yang tahu persis kondisi lapangan di Lombok.

BACA JUGA :  Husnul Fauzi Mengaku tak Pernah Terima Fee

“sudah dilakukan pertemuan dengan semua stakeholder lainnya, agar memanfaatkan teman-teman yang betul-betul tahu persis kondisi lapangan. Malah ITDC bermain sendiri, bahkan sampai hari terakhir berapa kemampuan penjualan tiket tidak di informasikan. Padahal tiket laku terjual itu menjadi acuan untuk kesiapan moda transportasi,” sesalnya.

Lebih lanjut Junaidi menegaskan, bahkan yang sebelumnya wajib stiker bagi kendaraan khusus yang menuju ke Parkir Timur Mandalika itu dibatasi hanya 200 unit dan harus melakukan ramchek terlebih dahulu di Dishub NTB. Nyatanya, kata Junaidi, Dishub NTB malah membagi stiker dengan cuma-cuma pada kendaraan pribadi penonton. Akibatnya persiapan luas lokasi tempat Parkir  Timur maupun barat yang telah diprediksi dapat menampung semua kendaraan, malah tidak sesuai kapasitas yang disediakan.

Bahkan, Dishub NTB mengeluarkan 1.025 stiker untuk kendaraan yang masuk ke area Parkir Timur, yang sebelumnya berkapasitas hanya 200 unit kendaraan. Akibatnya, Parkir Timur tidak bisa menampung banyaknya kendaraan yang masuk, jauh melebih kapasitas lahan parkir.

BACA JUGA :  Zul-Rohmi Diberi Pelajaran oleh Dominan Parpol di DPRD

“Puncak permasalahannya adalah terkait pengaturan trasnportasi. Kita tidak memprediksi bahwa kemampuan banyaknya penonton itu di atas 60 ribu. Dan sebanyak 85 ribu penonton itu serentak keluar dari dua pintu timur Sirkuit dan barat, sehingga berimbas kemacetan,” katanya.

Harusnya sambung Junaidi, jika pengaturan lalu lintas transportasinya baik, maka bus yang berjumlah 278 yang telah disiapkan mestinya sudah dapat memenuhi kebutuhan penonton. Persolan yang terjadi di zona Parkir Timur menuju titik keberangkatan bus itu sebaiknya per satu detik harus dicek, agar persoalan yang terjadi usai gelaran MotoGP ini dapat terselesaikan.

“Belum lagi penipuan tiket yang terjual, terdampak penipuan agen penjual tiket. Kalau travel agent yang bukan ranahnya jangan ikut campur. Kami berharap segera ada evaluasi, agar event tahun depan tidak seperti sekarang ini dan bisa lebih baik,” harapnya. (cr-rat)