Orang Bali pun Ingin Bisa Membuat Tahu yang Nikmat

TERSOHOR : Tahu yang diproduksi oleh warga Abian Tubuh telah tersohor, bahkan orang Bali juga sangat ingin mampu memproduksi tahu dengan kualitas dan rasa yang sama (AZWAR ZAMHURI/RADAR LOMBOK)

Nama Kelurahan Abian Tubuh telah identik dengan pusat produksi tahu. Rasanya yang kenyal dan nikmat selalu dipertahankan dari dulu hingga kini. Produksi tahu sudah menjadi tradisi mayoritas warganya. Belakangan orang-orang di Bali pun ingin bisa membuat tahu yang rasanya seperti di Abian Tubuh.

 

 


AZWAR ZAMHURI – MATARAM


 

Melintasi kawasan Abian Tubuh pada pagi ataupun sore hari, dengan mudah ditemukan warga yang sedang memproduksi tahu. Aktivitas tersebut telah berlangsung lama, mulai dari anak-anak sampai nenek-nenek sudah tidak asing dengan semua hal yang berbau tahu. Hal itulah yang nampak ketika Radar Lombok mengunjungi kelurahan tersebut, Senin sore (17/10).

Di sepanjang jalan pun terdapat beberapa plang toko yang menjual tahu. Mulai dari tahu siap olah hingga tahu yang sudah diolah dalam bentuk beberapa makanan lain. Semisal kerupuk tahu, camilan tahu dan yang lainnya.

Toko Tahu Bajang Abian Tubuh misalnya. Sekitar 10 meter di belakang toko ini, gudang industri tempat pembuatan tahu terdapat di sana. Tempatnya tidak terlalu besar. Hanya di dalam gudang yang berukuran satu are.

Segala aktivitas pembuatan tahu dilakukan di sana. Mulai dari pengolahan hingga pencetakan dalam bentuk siap dipasarkan dilangsungkan di sana. “Saya sejak kecil sudah mulai diajarkan membuat tahu. Sekitar 20 tahun lebih mungkin,” tutur  Sukri, salah seorang warga pembuat tahu.

Sambil memotong-motong bagian tahu menjadi bentuk kubus, Sukri menceritakan pengalamannya sebagai tukang pembuat tahu. Sejak kecil, ia mengaku sering ikut orangtuanya membuat tahu. Akhirnya, lama kelamaan ia pun mulai terbiasa melihat prosesnya. “Disini itu kayak tradisi kalau buat tahu, masih SD saja saya sudah bisa buat tahu,” katanya.

Rasa tahu Abian Tubuh dikatakan berbeda dengan tahu lainnya yang ada Mataram maupun di luar daerah. Hal inilah yang membuat tahu Abian Tubuh banyak dicari. Bukan hanya oleh warga lokal melainkan para wisatawan ataupun warga dari luar daerah.

Tidak hanya digemari oleh warga NTB, tahu Abian Tubuh juga telah menjadi salah satu oleh-oleh khas Lombok. “Banyak tamu yang datang bersama travel kemari untuk membeli tahu. Karena tahu yang kami buat ini cukup awet dan tahan lama makanya diminati untuk dijadikan oleh-oleh,” ceritanya sembari memasukkan beberapa tahu ke dalam bungkus plastik.

Wisatawan yang datang membeli tahu Abian Tubuh merasakan ada rasa yang khas. Padahal, tidak ada rahasia atau bumbu khusus untuk membuat tahu ini. Hanya ada beberapa tahapan proses pembuatan yang lebih panjang dibandingkan proses pembuatan tahu pada umumnya.

Di tempat lain, tahu dibuat menggunakan kedelai yang masih utuh. Selain itu, kedelai tersebut juga masih belum terlalu bersih. Disinilah perbedaannya dengan tahu Abian Tubuh, dalam proses pembuatannya, kedelai dipotong terlebih dahulu. Barulah kemudian dibersihkan sampai terasa benar-benar halus.

Hal itulah yang menurut Sukri menjadi pembeda tahu Abian Tubuh dengan tahu yang lainnya. Dari perbedaan kecil tersebut, tahu dijelaskan akan lebih nikmat, lebih tahan lama tidak mudah basi serta memiliki cita rasa yang khas.

Pembuat tahu lainnya, Satrah yang sekaligus pemilik toko tahu menuturkan hal yang sama. Tahu buatannya sangat diminati oleh pengunjung luar daerah yang datang ke Mataram. Khususnya yang datang dari Bali. “Malah ada orang Bali yang selalu menyempatkan waktu datang kesini agar bisa dapatkan tahu Abian Tubuh,” ucapnya.

Tidak berhenti sampai disitu, bahkan pernah ada salah seorang bos dari Bali yang meminta  agar warga Abian Tubuh  mengajarkan warga di sana membuat tahu. “Anak saya ke Bali hanya untuk ngajar buat tahu,” ungkapnya.

Satrah atau yang akrab disapa Inaq Fandi telah membuat tahu sejak puluhan tahun lamanya. Usianya yang kini genap 64 tahun membuatnya tidak  produktif dulu lagi. Akibatnya ia pun harus mewarisi ilmu membuat tahunya kepada kedua orang anaknya.

Jumlah produksi tergantung dari kemampuan warga. Ada yang dalam satu bulan bisa menghabiskan 1 sampai 2 ton kedelai. Hal itu tergantung dari jumlah produksi tahu yang dibuatnya. Untuk pembuatan 10 papan tahu membutuhkan hampir 50 kilogram kedelai. Pembuatan tahu tidak hanya mengandalkan kedelai, tetapi juga harus menyiapkan kayu untuk pembakaran.(*)